You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 99



Cermin besar di dalam ruang ganti menampakkan pantulan tubuhnya yang kini semakin berisi dan seksi. Lingerie yang di kenakannya malam ini berwarna putih berbahan lace agak transparan, dengan model berupa gaun terusan selutut dipermanis aksen renda cantik dan tali spaghetti di bagian pundaknya.


Dara memutar-mutar dirinya di depan cermin memastikan bahwa lingerie itu cocok dan sesuai dengannya, sejujurnya ia merasa agak malu karena ini adalah pertama kalinya memakai pakaian semacam ini dihadapan Wira, tetapi semakin hari nalurinya semakin mendorongnya ingin selalu menjadi yang tercantik dan menggairahkan di hadapan suaminya.


Tanpa disadarinya sejak tadi Wira sudah berdiri di belakangnya, menyandarkan dirinya di dekat sisi lemari yang tertanam di seluruh dinding ruang ganti. Ia melipat kedua tangannya di dada, matanya memperhatikan gerak gerik istri kecilnya membuat Wira mengulum senyumnya melihat tingkah Dara yang kini selalu berusaha berpenampilan sebaik mungkin dihadapannya.


Tak dipungkiri hasrat kelelakiannya mulai terpancing, lekukan indah tubuh Dara yang terlihat samar di balik lingerie seksinya membuat sesuatu di dalam dirinya memberontak minta dibebaskan. Wira melangkah mengendap-endap mendekati, kemudian memeluknya dari belakang dengan tiba-tiba sehingga membuat Dara terperanjat kaget.


"Haduhh... Mas, aku kaget tau," rajuknya dengan wajah cemberut.


"Ahahaha maaf sayang... kamu cantik, sangat cantik," ucapnya sambil menatap pantulan Dara dan dirinya di cermin.


Dara merona, dipuji cantik oleh pria yang dicintainya membuat asanya melambung dan membumbung tinggi hingga ke angkasa, jemari lentiknya mengelus lembut lengan kekar Wira yang memerangkap dirinya.


"Mmmm... Mas suka nggak?" tanyanya malu-malu.


"Suka, suka banget. Tapi aku lebih suka kamu tanpa pakaian sayang," bisiknya mesra.


Dara mengurai pelukan lengan kokoh itu, membalikkan posisinya hingga berhadapan, ia mendongak dan berjinjit meraih tengkuk Wira dan memagut bibir yang sering menyusuri tubuhnya itu dengan napas terengah. Pria tinggi itu tersenyum puas karena berhasil memantik gairah Dara sehingga istrinya itu mengambil inisiatif terlebih dahulu, ia meraup Dara ke dalam gendongannya seperti koala, dengan posisi ini mereka bisa lebih leluasa saling mencicipi kehangatan dan kemanisan bibir masing-masing.


Dara melepaskan sejenak pertautan bibirnya, meraup oksigen sebanyak-banyaknya dan menyambung kembali pagutannya dengan penuh gelora asmara. Wira juga makin memperdalam ciumannya, kemudian tangannya bergerak menurunkan tali lingerie itu. Saat hampir lolos melewati pundak, Dara menahan tangan Wira dan menggeleng pelan.


"Kenapa?" tanya Wira sedikit kecewa.


"Mash... hah... hah... jangan di sini, bawa aku ke ranjang," pintanya dengan napas memburu dan mata yang berkabut karena hasratnya telah menguasai dirinya sepenuhnya.


Wira tersenyum lebar dan dengan senang hati menggendong Dara menuju ranjang tempat di mana mereka sering memadu kasih. Lingerie itu kini telah teronggok di lantai, hanya melekat beberapa menit saja di tubuh mulus Dara karena selebihnya gaun cantik itu hanya menjadi penghalang bagi Wira untuk bersentuhan kulit dengan istri tercintanya.


Kegiatan itu semakin bergelora dan berkobar meluap-luap, ditambah Dara yang juga ikut bergerak aktif seolah tak kenal lelah membuat suara decitan tempat tidur tak terelakkan, hingga setelah beberapa jam berlalu ledakkan dahsyat itu akhirnya datang dan kembali menghempaskan keduanya dalam rasa lega luar biasa.


Namun, dari percintaannya kali ini Wira merasakan ada yang berbeda. Sejak awal melebur hingga gelombang itu datang, rasa nikmatnya lebih menggigit dari biasanya. Entah apa penyebabnya sehingga tercipta rasa yang berbeda, tetapi yang pasti membuatnya merasa kehausan dan tergerak ingin kembali meneguk madu manis memabukkan itu sepuas-puasnya.