You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 34



Gadis itu menepiskan tangan wanita yang menarik pergelangan tangannya dan langsung menyusul Wira. Dara berlari lalu mencegat langkah Wira seraya merentangkan kedua tangannya.


"Tunggu dulu, tolong jelaskan semua ini. Maksud Kakak apa? ini terlalu mendadak dan tiba-tiba, kenapa tidak merundingkan dulu hal ini denganku? malah mengambil keputusan seenaknya secara sepihak!" serunya geram disertai kemarahan yang mulai merayapi.


"Aku hanya ingin secepatnya menepati janjiku pada Almira. Lebih cepat lebih baik, berharap semoga beban di hatiku ini sedikit berkurang. Lagipula nanti atau sekarang sama saja bukan? atau jangan-jangan kamu berencana untuk mengingkari janjimu sendiri?" ujar Wira mencela sambil memicingkan matanya.


"Ti-tidak, aku tidak bermaksud begitu! Hanya saja kenapa Kakak tidak membicarakan dulu hal sepenting ini denganku?" Dara sedikit menundukkan wajahnya karena tatapan dingin Wira seolah ingin menusuk hingga ke jantungnya.


"Kita tidak dalam posisi untuk saling berembuk tentang hal ini, pria dan wanita merundingkan pernikahan ketika mereka berada dalam hubungan saling mencintai. Ini hanyalah pernikahan sebagai pembuktian janji pada Almira, jadi, jangan buang-buang waktu lagi. Bersiaplah! atau jika kamu ingin melaksanakan upacara pernikahan dengan pakaian yang melekat sekarang pun tak masalah, yang jelas aku tidak menerima bantahan apapun lagi."


Wira melangkah pergi masuk ke dalam salah satu kamar di villa itu dan menutup pintunya rapat, sementara si wanita yang hendak membantu Dara bersiap-siap menyusulnya sambil tergopoh-gopoh.


"Non, kita harus cepat, penghulunya sudah dalam perjalanan menuju kemari." Wanita itu kembali menarik lengan Dara.


Dara tak tahu harus berbuat apa, dia kebingungan, bahkan sepertinya dirinya tidak menyadari ketika wanita itu membawanya masuk ke dalam salah satu kamar yang sudah di rias sedemikian rupa.


Dara hanya terdiam, pikirannya menerawang. Dia tak pernah menyangka harus menikah dengan cara seperti ini karena yang akan terjadi di hadapannya sekarang bukanlah pernikahan impian para gadis, di mana biasanya pernikahan adalah momen sakral yang paling di nanti oleh mempelai pria dan wanita, menyatukan cinta mereka mengikat janji sehidup semati di hadapan Tuhan.


Namun, kini Dara harus berpasrah diri pada keadaan, demi memenuhi janjinya pada sang kakak yang disayanginya sepenuh jiwa, ia harus rela untuk menikah dengan kakak iparnya sendiri tanpa adanya rasa cinta.


*****


Dara tampak cantik mengenakan kebaya putih sederhana, beruntung ukurannya pas di tubuh kurusnya. Rambut panjangnya di sanggul ke atas dengan riasan minimalis dan wajahnya memakai make-up natural saja karena keterbatasan waktu.


Penghulu sudah duduk bersiap berhadap-hadapan dengan Wira. Dara di tuntun oleh wanita yang meriasnya tadi dan memintanya duduk bersebelahan dengan calon mempelai pria. Kedua mempelai berwajah muram, terutama Wira yang penampilannya kusut masai, tetapi anehnya sama sekali tidak mengurangi aura ketampanan yang selalu melekat padanya.


Fatih dan Pak Jono menjadi saksi pernikahan mereka, tidak ada keluarga Aryasatya ataupun teman-temannya Dara yang menghadiri, hanya ditambah beberapa pengurus Villa beserta keluarganya yang sibuk mengurus berlangsungnya pernikahan dadakan ini.


Beberapa dari mereka yang kebanyakan tidak mengetahui kenyataannya saling berbisik dan menerka-nerka tentang diamnya kedua mempelai. Mereka menduga, mungkin keduanya terpaksa menikah dan melangsungkannya secara diam-diam untuk menutupi aibnya si pengantin wanita yang telah hamil di luar nikah, padahal si calon pengantin pria belum lama menduda setelah istrinya meninggal.