
Hari mulai beranjak sore. Cuaca yang cerah berawan tiba-tiba berangsur mendung. Awan kelabu mulai tampak bergelayut. Awalnya hanya beberapa yang datang terbawa hembusan angin, kemudian lama kelamaan bergerombol menyatu dan menyapu angkasa menutupi birunya langit juga gagahnya sang mentari yang sedari pagi menebarkan pesonanya.
Selepas mengajar bagian mata kuliahnya tadi, Rifki berdiri terpaku menghadap jendela tepat di belakang meja kerja ruangan pribadinya di kampus tersebut. Petir menggelegar menyambar menandakan sebentar lagi langit dan bumi akan bersua saling menyapa dengan perantara yang disebut hujan, saling melepas rindu karena terpisah jarak.
Gerimis mulai turun membasahi, cipratan airnya ikut memercik kaca jendela di mana Rifki tengah berdiri. Embusan napasnya berat dan dalam, terasa perih menyembilu setiap kali ia menghela. Cinta yang tak pernah sempat terungkap, harus dikandaskan dengan paksa karena kini rasa itu salah. Mendamba sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain, hanya akan berakhir dalam nestapa yang merundung diri.
Mengikhlaskan....
Ya, hanya itu yang kini harus dilakukannya, mengupayakan meskipun tak semudah kedengarannya. Melatih sang hati untuk merelakan sesuatu yang ternyata tak ditakdirkan.
Ia membalik tubuh tinggi tegapnya, tatapannya kembali mengarah ke sebuah amplop di atas meja, surat undangan resepsi pernikahan wanita pujaannya dengan pria pemiliknya.
Tadi pagi Rifki hanya menerimanya, tetapi enggan membukanya. Masih tak sanggup membaca tulisan yang tercetak di sana, ketika yang tertera dengan tinta emas di dalamnya sudah pasti bukanlah namanya. Dosen muda itu mendudukkan dirinya, ragu-ragu mengambil surat undangan tersebut dan membaca bagian depannya.
Rifki Alain Ferdinand
Ia menipiskan bibir menertawakan dirinya sendiri. Namanya memang ikut tercetak di bagian depan, tetapi hanya sebagai tamu yang diundang, bukan sebagai mempelai pria. Setelah beberapa lama menatapnya, ia menguatkan diri membuka dan membaca isinya.
Anandara & Wira Aryasatya, Wedding Reception.
"Sudah saatnya aku melepas rasa yang merantaiku meski ku tahu itu butuh waktu. Datangnya secepat kilat, tetapi perginya merayap seperti siput. Berbahagialah selalu," gumamnya sembari mengusap nama Anandara yang tercetak di sana.
*****
Ia beranjak ke garasi. Terlihat Pak Jono tengah bersiap dengan salah satu mobilnya hendak menjemput Dara sesuai tugasnya setiap hari. Wira mengalihkan perhatiannya pada bagian tubuhnya yang diperban, menggerakkannya perlahan secara konstan memastikan bahwa telapak tangannya mampu menggenggam dengan baik.
Ingatannya melayang pada obrolannya kemarin malam dengan Dara. Mengenai gangguan kecemasan berkendara saat hujan yang ingin dipastikannya. Ia tengah menimbang-nimbang, jujur saja rasa takut yang kental masih membelenggu dirinya. Takut jika ternyata ia tak mampu mengatasinya dan kembali berkubang dalam kenangan menyakitkan itu lagi.
Wira bermaksud untuk kembali masuk ke dalam rumah, tetapi kemudian langkahnya terhenti. Secara refleks ia langsung menyambar kunci mobil yang sering dikendarainya dan berjalan cepat ke garasi.
"Pak Jono. Biar aku saja yang menjemput Dara," ucapnya. Terdengar bunyi dari mobilnya pertanda kunci pintunya terbuka.
"T-tapi Tuan... saat ini hujan dan Anda_" Pak Jono tak meneruskan ucapannya yang mengambang, matanya terpaku menatap tuannya khawatir.
Wira mengerti dengan yang dimaksudkan sopirnya, karena Pak Jono juga mengetahui tentang trauma yang dialaminya. "Aku tahu. Kali ini aku sangat ingin mencobanya, do'akan saja semoga semuanya baik-baik saja."
"Tangan Tuan bagaimana?" tanya Pak Jono kembali.
"Sudah bisa digerakkan meskipun belum sepenuhnya pulih. Aku akan melaju pelan saja."
Dokter tampan itu duduk di belakang kemudi dan mulai menyalakan mesinnya, menginjak pedal gas dengan lembut dan hati-hati sembari merapalkan do'a dalam hatinya, memohon pada Tuhan agar memberinya kemudahan untuk mengusir semua trauma itu pergi.
*****