You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 110



Wira keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk yang melilit di pinggangnya menyembunyikan sesuatu yang selalu membuat Dara berteriak nikmat. Buliran-buliran air masih menetes dari rambut basahnya dan Dara sudah berdiri di luar pintu kamar mandi dengan membawa handuk kecil untuk mengeringkan rambut suaminya.


Mungkin pengaruh dari bawaan bayi, sudah beberapa waktu terakhir ini Dara selalu ingin mengeringkan rambut suaminya itu setiap kali Wira selesai mandi, dan tentu saja dengan senang hati Wira menyerahkan dirinya dan membiarkan wanita yang dicintainya untuk berbuat sesuka hati pada tubuhnya.


Mereka berdiri berhadapan, Wira sedikit membungkukkan badannya dan Dara mulai mengeringkan rambut basah itu menggunakan handuk kecil ditangannya. Wira meletakkan kedua telapak tangannya di bokong Dara yang makin hari semakin berisi dan seksi sambil sesekali meremasnya gemas


"Ih Mas bisa diem gak sih, nakal banget tangannya," protes Dara yang masih setia mengeringkan rambut Wira.


"Abisnya gemesin, bikin nagih," sahutnya dengan tatapan mesum.


Dara meninju perut kotak-kotak suaminya sambil melotot dan cemberut. "Haish dini hari tadi kan udah ditengokin dedeknya, masa sekarang mau lagi. Kasihan kan kalau kena gempa terus, dikira ada gempa susulan nanti dia kaget."


Memang benar, dini hari tadi saat Wira terbangun lebih dulu dan melihat pemandangan gaun tidur Dara yang tersingkap membuat hasrat kelelakiannya menggeliat dan tergoda untuk menyatu. Apalagi semalam sebelum tidur mereka tidak melakukan kegiatan bergelora seperti biasanya dikarenakan keduanya larut dalam suasana mengharu biru yang membuat pikiran dan tubuh mereka ikut lelah.


Namun pagi ini Wira kembali berenergi dan sebagai pria normal tentu saja tak dipungkiri gairahnya langsung naik melihat kemulusan kulit istri tercintanya. Dara masih tertidur pulas saat itu, tetapi kemudian ia merasakan sebuah tangan nan hangat menyelinap di balik pakaiannya dan menyentuh titik-tituk sensitifnya.


Wira yang sudah pro sangat paham bagaimana caranya membuat istri kecilnya menyerahkan diri kepadanya, meskipun mengantuk akhirnya Dara pun ikut terbawa arus hingga kepuasan itu mereka gapai bersama-sama, tetapi Wira melakukan peleburannya selembut mungkin karena sekarang ada kehidupan lain yang sedang bertumbuh di dalam rahim istrinya.


"Maafkan Papa bayi kecilku, kamu harus kuat ya di dalam sana," ucap Wira dengan sebelah tangannya mengelus perut Dara membuat istrinya itu mengulum senyumnya.


"Tapi kamu juga suka kan dengan gempa dini hari tadi? bahkan kamu meneriakkan namaku berkali-kali," godanya tak tahu malu dalam balutan hasrat yang tak disembunyikan.


"Pertanyaan macam apa ini? aku nggak mau jawab!" Dara menenggelamkan wajahnya yang merona merah di dada bidang Wira, perkataan Wira barusan membuat wajahnya memanas karena malu.


Wira terkekeh kemudian tangannya bergerak mengusap-usap punggung Dara. "Kamu yakin mau ikut ke rumah besar? jika merasa belum siap jangan memaksakan diri dan tunggulah di rumah. Biar aku saja yang datang ke sana."


"Aku... aku tetap ingin ikut. Bagaimanapun juga sekarang aku adalah istrimu, kita jelaskan semua ini bersama-sama." Dara mendongak dan menatap iris memukau suaminya.


"Sini, mana tanganmu," pinta Wira, kemudian Dara menyodorkan kedua tangannya.


"Apa masih sesakit semalam?" tanya Wira yang kembali terlihat cemas.


"Sudah tidak, cuma sedikit ngilu saja," jawab Dara sambil tersenyum berusaha menenangkan Wira.


Wira membawa kedua tangan Dara ke pangkuannya, mengobati luka memarnya dan juga jarinya yang lecet kemudian setelah selesai membubuhkan obat ia mengecupi di bagian yang sakit tersebut penuh sayang. "Sebaiknya cincinnya jangan dipakai dulu, tunggu jarimu hingga sembuh benar barulah dipakai lagi."


"Aku ingin memakainya Mas, bagiku ini bukan hanya sekedar simbol pernikahan. Saat cincin ini melingkar di jariku aku merasa bahwa kamu selalu dekat, tetapi saat dipaksa untuk melepasnya aku merasa dipisahkan ribuan mil jauhnya darimu. Jadi, biarkan aku memakainya. Mas jangan khawatir, aku baik-baik saja," ucapnya meyakinkan Wira.


"Baiklah, terima kasih karena sudah menjadi istri yang kuat. Aku sayang padamu." Wira menangkup sisi wajah Dara dan mengecup mesra bibir ranum itu penuh cinta.


"Aku juga sayang padamu Mas, selalu."


*****



Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412 untuk mendapatkan kabar seputar novel yang kutulis.


With Love,


Senjahari_ID24