
Yanti bersandar ke dinding dan menghela napas lega, "Garasi ini bahkan lebih besar dari rumah kami, hanya sedikit lembab saja, tapi sudah cukup baik."
Dia tersenyum bodoh, seolah-olah dia merasa berkecukupan asal diberi tempat yang bisa berlindung dari hujan. Karena ini, aku tiba-tiba merasa bahwa yang diinginkan Yanti mungkin bukan 2 miliar, tetapi permintaan maaf dari Vivi. Namun, mungkin juga aku sendiri yang salah tebak. Kalau dia orang yang gampang diajak ngobrol, bagaimana mungkin akan ada begitu banyak konflik antara dia dan Vivi? Sebelumnya kami bisa melihat jelas sikap Yanti yang mementingkan anak laki-laki dan merendahkan anak perempuan. Mengenai seluk beluk di dalamnya, mungkin hanya Vivi dan Yanti yang tahu.
Aku membantu Yanti membentangkan tempat tidur, lalu bertanya, "Apa kamu perlu penghangat ruangan?" Aku menunjuk Herman, "Apa dia bisa tahan?"
Yanti mengangkat kakinya dan menendang pinggang Herman. Jempol kakinya yang mencuat keluar tampak seperti terluka.
"Dia tanya kamu! Dasar si tua sialan! Apa kamu bisa bertahan hidup sampai besok!” Yanti tertawa bercanda sambil melahap sandwich yang kuberikan padanya.
Herman yang berbaring di kasur setengah membuka mulutnya, "Terima kasih!"
"Sama-sama," aku tersenyum. Yanti malah menyeringai, "Terima kasih apaan, ini putri kandungmu! Otakmu yang setengah karat itu entah bisa mengerti atau tidak!"
Herman sontak menoleh ke arahku. Dia menatapku dengan mata yang penuh rasa bingung. Kemudian dia menyunggingkan senyuman tipis, lalu langsung memejamkan mata dan beristirahat.
Yanti mengerucutkan bibirnya, "Kurasa otaknya sudah berkarat sampai tidak bisa mengerti maksudku. Setelah kakinya cacat karena penyelamatan yang tidak tepat waktu, otaknya juga ikut rusak. Tapi kamu tidak perlu khawatir, daya tahannya cukup tinggi! Garasi ini cukup hangat, dia tak akan mati."
Aku mengeluarkan sepasang kaus kaki katun dari sakuku, kemudian menyerahkannya kepada Yanti, "Kamu pakai ini dulu, akan kubawakan pemanas ruangan nanti."
Yanti tampak ragu-ragu. Tepat ketika aku berbalik, dia berkompromi, "Lakukan sesuai apa yang baru saja kamu katakan saja. Setelah semua masalah terselesaikan, aku pun tak akan gangu kalian lagi. Aku juga lelah."
Aku menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Terima kasih."
Yanti tersenyum pahit, "Siapa suruh aku kekurangan uang. Kalau tidak kekurangan uang, aku bakal tinggal di sini sampai mati."
Apa pun itu, terlihat jelas Yanti sebenarnya masih marah pada Vivi, tetapi dia rela berkompromi demi 2 miliar. Tidak ada salahnya berkompromi demi uang, setidaknya uang memungkinkan mereka untuk hidup tenang tanpa harus mengkhawatirkan masalah sandang dan pangan.
Bagi orang miskin, dapat bertahan hidup sudah merupakan kemewahan terbesar.
Malam ini, akhirnya aku bisa tidur nyenyak. Pada keeskoan pagi hari, aku menguras otak memikirkan cara mengumpulkan dua miliar.
Aku menghitung aset tetap yang Ayah berikan padaku sebelumnya, ada satu rumah di pinggiran kota yang kira-kira bisa dijual dengan harga delapan ratus juta sampai satu miliar. Ditambah dengan tas dan perhiasan bermerek yang Ibu berikan, pasti bisa kujual untuk mendapatkan sedikit uang.
Hatiku semakin tercerahkan. Aku bisa menjual semua barang berharga yang aku punya, lalu diam-diam meminjam empat sampai enam ratus juta dengan Jerry. Jerry pasti punya empat sampai enam ratus juta, itu bukan masalah sulit baginya.
Dengan santai aku pergi mandi dan mengganti pakaianku. Ketika keluar dari kamar, pintu kamar Vivi setengah terbuka. Tante Rani sedang menyiapkan sarapan, aku meminta dia mengantarkan sarapan ke garasi setelah sudah selesai nanti. Tante Rani menyahut dan memberitahukan satu kabar buruk padaku.
Pagi ini Tante Rani mengangkat telepon dari ibu Jerry, katanya nanti akan datang ke rumah untuk membicarakan masalah pernikahan.
Aku ingin menelepon Cindy, tetapi Tante Rani berkata, “Tidak perlu telepon, dia mungkin akan segera tiba. Tadi pagi aku lihat kamu sedang tidur, jadi aku tidak ingin mengganggumu. Aku kira kalian sudah janjian sebelumnya.”
Di tengah kepanikan, aku menggenggam erat tangan Tante Rani, “Tante Rani, pergi ke halaman belakang dan beritahu Yanti nanti, jangan keluar jika tidak ada keperluan, bisa tidak?”
Tante Rani mengangguk, “Tenang saja, aku paham maksudmu.”
Tante Rani sudah lama bekerja di rumah, dia pasti tahu identitas kedua orang di garasi halaman belakang setelah semua kekacauan yang terjadi selama beberapa hari terakhir. Sekarang ibu Jerry, Cindy Lyndiana, akan datang, seharusnya Tante Rani tahu harus berbuat apa.
Begitu Tante Rani keluar, Cindy langsung melangkah masuk. Aku muncul di depan Cindy dengan piyama, ekspresinya terlihat jelas tidak senang.
“Tante, mari masuk.”
Aku bersikap sangat sungkan, tetapi Cindy hanya tersenyum. Dia berdiri di depan pintu dan melihat sekeliling, lalu berkata, “Ayah dan ibumu tidak di rumah?”
Aku mengangguk, “Kondisi tubuh Ayah tidak baik, Ibu sedang menemaninya di rumah sakit. Aku tidak tahu Tante akan datang hari ini, ini adalah kelalaian Tante Rani, dia kira Tante sudah janjian denganku.”