You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 189



Sudah dua hari berlalu, Wira hampir merampungkan tugas dinas luarnya. Setiap kali ada waktu senggang di sela-sela pekerjaannya, yang dilakukannya adalah membuat panggilan video kepada sang istri tercinta. Jika dihitung mungkin melebihi jadwal minum obat yang lumrahnya tiga kali sehari.


Teman-temannya sesama dokter hanya berdecak dan menggeleng-gelengkam kepala menyaksikan bagaimana mesranya Wira kepada istrinya meskipun hanya lewat video call. Seperti saat ini, Wira sedang menatap serta berbicara dengan benda kotak memanjang di genggamannya yang menampakkan kecantikan wanita yang tengah mengandung buah hatinya.


"Hari ini hari terakhir tugas dinasku. Nanti sore setelah semuanya selesai aku akan segera pulang, bagaimana kabarmu dan si kecil di dalam sana?" tanya Wira yang menopangkan dagu menggunakan sebelah tangannya dengan siku bertumpu di meja.


"Kabarku dan bayi kita sangat baik Mas, jaga kesehatan di sana ya Papa. Fokuslah bekerja dan sampai jumpa nanti malam."


"Kamu sedang apa sih, kenapa terburu-buru sekali ingin menutup panggilanku? jangan-jangan kamu mulai bosan padaku," protesnya merajuk seperti bocah.


"Haish... bukan begitu suamiku sayangku cintaku. Aku sedang bersiap-siap untuk keluar karena ibu mengajakku pergi ke butik langganannya. Coba Mas dengar baik-baik, ibu sudah memanggilku," sahut Dara lembut.


Wira menajamkan pendengarannya dan memang benar terdengar suara Ratih semakin mendekat sambil memanggil-manggil Dara. "Dara, ayo kita berangkat Nak," ajak Ratih di ambang pintu.


"Iya Bu, sebentar," sahut Dara yang menoleh ke arah pintu masih dalam panggilan videonya dengan Wira, kemudian ia kembali mengalihkan pandangannya ke layar ponselnya di mana wajah tampan suaminya terpampang.


"Selamat bekerja Mas, aku berangkat dulu." Dara tersenyum manis dan melayangkan fly kiss dengan ekspresi menggemaskan.


"Baiklah sayang," sahutnya malas.


"I miss you Papa," ucap Dara sebelum mematikan sambungan videonya.


"I miss you more baby...." Disusul kecupan di layar ponsel kemudian panggilan pun berakhir.


"Dasar bucin," imbuh yang lainnya.


Wira hanya terkekeh sembari menipiskan bibirnya dan menggedikkan bahunya masa bodo menanggapi umpatan teman-temannya.


"Jadwal terakhir kita hari ini apa saja?" tanya Wira.


"Hari ini tidak ada seminar, jadwal kali ini adalah mensosialisasikan mengenai vaksin yang sudah kita teliti ke puskesmas-puskesmas di daerah terpencil. Sebaiknya kita berangkat sekarang saja mumpung masih pagi."


Semua tim dokter bersiap dengan segala kelengkapannya, Wira juga membereskan barang bawaan pribadinya ke dalam bagasi karena berencana akan langsung pulang setelah pekerjaan tuntas tanpa mampir ke penginapan lagi supaya menghemat waktu.


****


Sekitar pukul tiga sore semua jadwal dinasnya terselesaikan dengan baik dan memuaskan, semua tim bersiap untuk pulang dengan mobil masing-masing. Wira berpamitan pulang terlebih dahulu sedangkan yang lainnya kembali ke penginapan untuk mengambil barang bawaannya yang masih tertinggal.


Wira mengemudikan kendaraannya sambil bersenandung dengan riang gembira. Ia sudah tak sabar ingin segera bertemu, memeluk, mengecup, merasakan setiap inci dari tubuh memabukkan pujaan hatinya dan menumpahkan rindu juga sayangnya yang tertahan selama tiga hari ini.


Di tengah-tengah perjalanan, ia mampir ke sebuah minimarket untuk membeli air mineral dan juga kopi instant. Namun, kemudian terjadi keributan di luar minimarket mengalihkan perhatiannya.


Terlihat di sana seorang wanita lusuh tengah berseteru dengan pemuda yang tampaknya adalah preman di sekitar situ. Wira mengamati dan di detik kemudian ia membulatkan matanya ketika mengenali sosok yang berpakaian kumal itu.


Michelia....