
Akhir pekan ini jalanan begitu lengang tak seperti sehari sebelumnya. Efek dari libur cuti bersama yang ditetapkan pemerintah sejak dua hari yang lalu, sepertinya hari kemarin orang-orang berbondong-bondong untuk pergi berlibur memboyong keluarga mereka ke luar ibukota. Mencari tempat yang lebih sejuk dan asri, menghabiskan waktu bersama keluarga sembari menikmati keindahan alam.
Setelah menempuh dua jam perjalanan dari ibukota, mobil Toyota Alphard warna putih yang ditumpangi Dara dan Wira memasuki gerbang besi usang yang catnya sudah tampak pudar di mana-mana bercampur karat. Deritan engsel besi pagar tua tersebut terdengar ngilu di telinga ketika penjaga depan kembali menutupkannya saat mobil mereka sudah masuk sempurna ke halaman panti asuhan tempat Dara bernaung sewaktu kecil.
Pak Jono bergegas turun membukakan pintu untuk tuan dan nyonyanya begitu selesai memarkirkan mobil dengan rapi di tempat yang telah disediakan. Si penjaga depan juga ikut menghampiri saat melihat sosok dua orang elegan yang turun dari sana.
Wira mengenakan celana denim juga kemeja putih merek Tom Ford yang sangat pas membalut tubuh jangkungnya, tak lupa kaca mata hitam Ray Ban ikut bertengger di wajah tampannya, dilengkapi jam tangan Tissot yang melingkar manis di pergelangan tangannya serta aroma parfum mahalnya yang menyeruak mendominasi.
Sementara si cantik bersurai coklat yang digandeng Wira, memakai baju terusan warna putih yang senada dengan kemeja suaminya. Model gaunnya di bawah lutut berlengan pendek, berkerah sabrina dengan aksen renda cantik yang menghiasi bagian dada serta pundaknya. Rambut panjangnya di kuncir ekor kuda, tak lupa sepasang sepatu flatshoes desain dari brand ternama dunia sebagai alas kakinya.
"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?" tanya si lelaki renta penjaga pintu kepada Wira dan Dara dengan tatapan berbinar penuh kekaguman, terpesona oleh indahnya rupa ragawi mereka.
"Saya ingin bertemu kepala panti. Apakah beliau ada?" ucap Dara sopan.
"Silakan lewat sini." Si penjaga pintu memandu menuju ke tempat di mana kepala panti berada.
Saat masuk Dara langsung disambut lorong panjang yang tersambung ke ruang sayap kiri di panti asuhan tersebut. Memorinya sewaktu kecil kembali berkelebat di benaknya, dulu dia sering merenung sedih seorang diri di lorong sepi ini sembari mendamba berharap ada keluarga yang mengadopsinya.
"Bukankah sekarang kau sudah memilikiku?" Wira langsung melontarkan kalimat semacam itu seolah tahu tentang sesuatu yang tengah berkecamuk di pikiran istrinya. Dara mengangguk serta mengulas senyum menanggapi pernyataan suaminya, ia sudah memiliki Wira sebagai rumahnya, tempatnya bernaung kini dan berharap hingga akhir hayat.
"Silakan, Tuan, Nyonya. Ini ruangannya." Lelaki tua itu mengantar keduanya hingga ke depan pintu kayu bercat broken white.
"Terima kasih," sahut Dara, dan si penjaga pintu itu undur diri meninggalkan mereka di sana.
Wira mengetuk pintu perlahan. Setelah beberapa kali ketukan, kenop pintu pun berputar pertanda seseorang membukanya dari dalam. Tampaklah seorang wanita yang sudah berumur namun bersahaja saat pintu terbuka sempurna, dia tersenyum ramah kemudian menyapa. "Selamat datang di panti asuhan kami, silakan masuk."
Dara masih mengenali sosok kepala panti, namun wanita tersebut sama sekali tak mengenali sosok Dara yang dulu pernah menjadi anak asuhnya. Bagaimana tidak, Dara kini menjelma menjadi wanita cantik nan anggun, sedangkan dulu dia adalah gadis kurus dengan rambut panjangnya yang acak-acakan.
"Ada perihal apakah dengan kedatangan Tuan dan Nyonya kemari?" tanya kepala panti ramah.
Wira mengutarakan maksud kedatangannya. Dia membuka awal pembicaraan mengenai santunan yang hendak diberikan Dara untuk panti asuhan. Tentu saja semua niatan mulia tersebut disambut penuh sukacita, kepala panti tak hentinya mengucapkan terima kasih serta rasa syukur.
"Tapi, ada satu hal lagi tujuan kami datang kemari." Wira meraih tangan Dara dan meremasnya lembut. "Saya ingin mencari tahu mengenai orang tua istri saya karena dulu dia adalah salah satu anak asuh di sini."