You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 49



Sore harinya, Dara pulang sambil menenteng beberapa kantong belanja. Sebelum masuk ke kamar, dia berhenti di ruang tengah di mana foto cantik Almira yang berukuran besar terpajang di dinding. Dara berdiri tepat di depan foto tersebut, lalu menciumnya seolah dia mengecup sayang pipi kakaknya seperti yang biasa dilakukannya semasa Almira masih hidup.


"Mbak, aku pulang," ucapnya. Tangannya mengusap foto tersebut dengan lembut penuh kasih sayang, lalu setelah itu barulah ia masuk ke dalam kamarnya.


Dara membiarkan kantong belanjaannya berserakan di atas sofa, dan menaruh tas cangklongnya sembarangan. Ia sengaja membuat kamar itu berantakan untuk membuat Wira jengkel. Karena dia tahu, bahwa Wira adalah seseorang yang sangat menyukai kebersihan serta kerapian. Dara segera masuk ke kamar mandi setelah membuat kekacauan itu dan membasuh badannya di bawah guyuran shower air hangat yang menyenangkan sambil berdendang.


*****


Malamnya sekitar pukul tujuh, Wira pulang diantar Fatih memakai mobil mahasiswa koas itu, sedangkan mobil mewahnya dibiarkannya di basemen rumah sakit. Karena kejadian sore tadi, Wira sepertinya mengalami shock akibat kenangan menyakitkan yang terus berkerumun di benaknya. Bahkan kini dahinya terasa panas karena tubuhnya yang tiba-tiba demam.


Bu Rina tergopoh-gopoh menghampiri saat melihat Fatih yang memasuki rumah sambil memapah tuannya, lalu dia menunjukkan arah ke kamar Wira kepada Fatih yang kemudian mengantarkannya hingga ke sana.


Di dalam kamar, Dara sedang duduk ditemani semangkuk besar makanan ringan sambil mengerjakan tugasnya, ia menolehkan kepalanya begitu mendengar bunyi deritan pintu yang terbuka.


Gadis itu terkejut melihat Wira yang dipapah oleh Fatih, ia langsung mematikan laptopnya dan membantu membaringkan Wira di tempat tidur. Tak dipungkiri, Dara sangat khawatir melihat keadaan Wira yang tiba-tiba sakit padahal tadi pagi terlihat baik-baik saja.


"Apa yang terjadi dengannya?" tanyanya penuh selidik kepada Fatih.


"Begini Mbak Dara, tadi sore Dokter Wira mendadak jadi seperti ini. Saya juga tidak tahu penyebab pastinya. Tapi maaf, saya tidak bisa berlama-lama, berhubung hari sudah malam jadi saya harus segera pulang," tutur Fatih.


"Ya, baiklah, terima kasih sudah mengantar kak Wira," ucap Dara.


"Sama-sama Mbak Dara." Fatih berpamitan dan bergegas pulang dari sana.


Bu Rina menyiapkan bubur sehat untuk tuannya beserta segelas besar air putih, tak lupa handuk kecil dan juga sebaskom air hangat lalu membawanya ke kamar.


"Jika tidak di seka, khawatir keadaan tuan semakin sakit karena keringat dingin yang dibiarkan akan menyebabkan masuk angin. Saya tidak mungkin melakukannya, dan hanya Nyonya satu-satunya yang memungkinkan untuk itu," sambung Bu Rina.


"A-aku harus menyeka tu-tubuhnya?" Dara tergagap. Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa dia harus melakukan itu pada Wira, karena baginya Wira masihlah kakak iparnya, bukan suaminya.


"Iya Nyonya, karena Anda adalah istrinya. Sebaiknya jangan ditunda lagi, saya pamit dulu Nyonya, untuk meneruskan pekerjaan yang lain." Bu Rina membungkuk dengan sopan dan segera keluar dari kamar itu.


Dara kebingungan, ia menggigit kukunya tanda gusar dan gelisah, apakah ia benar-benar harus melakukannya? Dan untuk menyeka tubuh Wira berarti dia harus menanggalkan pakaian pria yang terbaring itu.


Dara masih bimbang, asalnya dia akan membiarkannya saja, tetapi melihat Wira yang seperti sekarang ini hatinya merasa tidak tega. Gadis itu duduk di tepian ranjang, memutuskan untuk menyeka tubuh Wira walaupun canggung dan malu yang luar biasa meliputinya.


Tangannya terulur membuka kancing kemeja Wira sambil memalingkan wajahnya ke arah lain. Namun, baru setengah dari keseluruhan kancing yang dibuka, tangan Wira menarik lengannya, hingga membuat Dara memekik kaget karena wajahnya menabrak dada bidang yang setengah telanjang itu.


*****


Hai my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini, tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya, dan jangan lupa juga like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian membuatku semakin semangat menulis, ayo vote sebanyak-banyaknya ya readers.


Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412. Happy reading guys, thank you very much 😘😘💕💕.


Tanpa kalian yang membaca ceritaku, aku bukanlah apa-apa.


With Love,


Senjahari_ID24