
Beberapa saat sebelumnya....
"Dara tengah hamil muda sekarang. Dia sedang mengandung anakku, buah cinta kami." Calon ayah itu memberikan penekanan di setiap kata-katanya, sedangkan Rifki membeku seperti sebongkah es di kutub selatan setelah mendengar penuturan Wira.
Kalimat yang dilontarkan Wira barusan berdengung dengan hebatnya memenuhi seluruh ruang pendengarannya. Ia berusaha mengolah informasi yang baru saja didengarnya. Inginnya menyangkal, tetapi berapa kali pun ia menelaah semua yang didengarnya adalah nyata bukan cuma kabar burung semata.
"Dara... hamil?" Rifki kembali bersuara setelah terdiam beberapa saat.
"Benar. Dara hamil, dan janin yang sedang bertumbuh itu adalah benihku!" tegas Wira.
Rifki berusaha menghela napasnya dalam-dalam, ia merasa pasokan udara yang mengaliri paru-parunya seketika menipis membuatnya tercekat hingga terasa sesak.
"Apa kau menjadi manusia tak bermoral yang tidak mampu menahan nafsu birahinya!" Rifki setengah berteriak dan menatap tajam kepada Wira begitupun sebaliknya. Mata mereka sama-sama menunjukan kilatan amarah di dalamnya. Bahkan sapaan sopannya kepada Wira kini dicampakkannya entah kemana.
"Apa maksudmu?" seru Wira sengit.
"Apakah karena ranjangmu yang biasanya hangat menjadi terasa dingin dan sepi? sampai-sampai kamu menjadi manusia brengsek yang berbuat tak senonoh terhadap adik iparmu sendiri hingga Dara hamil!" Rifki menarik kerah baju Wira penuh emosi.
"Jaga bicaramu! Siapa yang brengsek hah? perlu kamu tahu, aku dan Dara sudah menikah dan kami saling mencintai! Wira balas menarik kerah kemeja dosen itu.
"Kamu pasti berbohong! jangan menjadikan cinta sebagai alasan untuk menutupi perbuatan bejatmu!" tuduh Rifki.
"Aku paham, kamu tidak mau menerima semua kenyataan ini karena sebenarnya kamu menyukai Dara kan? Sebaiknya kubur dalam-dalam rasamu itu. Karena sekarang dia sudah menjadi istriku dan sebentar lagi akan menjadi ibu dari anakku." Sebelah tangan Wira menepuk-nepuk sisi dada Rifki sambil tersenyum miring menyeringai.
"Tutup mulutmu!" Rifki makin mengetatkan rahangnya, seringai Wira bagai ejekan untuknya. Hingga kemudian emosi menguasai nalarnya dan sebuah tinju dilayangkan kepada dokter tampan itu.
Wira mengusap sudut bibirnya yang terasa perih, naluri alamiah para pria dalam situasi seperti ini adalah membalas dengan hal yang sama. Akhirnya ia pun terpancing dan melayangkan tinjunya hingga perkelahian pun tak terelakkan.
"Maaf, maafkan aku sayang. Maafkan aku." Wira merengkuh Dara semakin erat menyalurkan segala rasa takut yang berkecamuk karena istrinya hampir saja celaka dalam perseteruannya dengan si dosen muda.
Wajah Rifki babak belur, sudut mata dan pelipisnya juga terluka, tetapi yang terasa sakit bukanlah luka diwajahnya, justru perih itu terasa di dalam segumpal daging yang bersemayam di rongga tubuhnya saat menyaksikan pemandangan di depan matanya.
Kedua sejoli itu saling berpelukan dengan eratnya tanpa memperdulikan kehadirannya. Rifki tak menyangka, bahkan Dara rela mengorbankan diri untuk melindungi Wira. Ternyata semua ucapan Wira bukanlah isapan jempol belaka, kenyataan mengejutkan ini seakan menamparnya agar ia segera tersadar.
Dara melonggarkan pelukannya, tangannya dengan hati-hati menyentuh wajah Wira yang terluka. "Gara-gara berkelahi Mas jadi kayak gini kan? sebenarnya apa yang terjadi hingga kalian saling baku hantam?" tanya Dara masih sesenggukan.
"Ini hanya urusan para pria sayang. Maaf membuatmu terkejut, apakah aku mengagetkan bayi kita? tanya Wira sembari membelai lembut perut Dara penuh sayang.
Dara menggeleng. "Nggak Mas. Aku dan bayi kita baik-baik saja."
Saat Dara memanggil Wira dengan sebutan mas dan menyebutkan perihal bayi mereka, dada Rifki terasa dihantam godam tak kasat mata. Asanya hancur berkeping-keping. Gadis yang diharapkannya kini telah menjadi milik orang lain.
Pantas saja ketika di bioskop tempo hari Dara terkesan selalu menghindarinya. Tidak seperti pada awal-awal gadis itu memasuki kampus yang selalu terlihat sumringah ketika berdekatan dengannya. Ternyata penyebab perubahan itu karena dia sudah menjadi istri seseorang.
Wira bangkit menghela Dara untuk berdiri kemudian menghampiri Rifki yang masih bersimpuh. Dosen muda itu juga ikut berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Maaf karena telah memukulmu. Selamat... atas pernikahan kalian. Semoga bahagia," ucap Rifki terbata.
"Terima kasih. Aku juga minta maaf."
Mereka bersalaman kemudian Wira dan Dara pergi dari sana. Setelah pasangan itu menjauh Rifki kembali luruh ke lantai dengan sudut mata yang mulai menggenang.