You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 237



Pria tampan memesona itu menjauh dari ruangan tengah menuju ke taman samping rumah, setelah jaraknya pas dan dirasa Dara takkan bisa mencuri dengar, barulah ia menyentuh tombol hijau yang muncul di layar ponselnya.


"Bagaimana hasilnya?" tanyanya tanpa berbasa-basi.


"Kami sudah menemukan alamat yang anda minta juga menyelidiki tentang pemilik serta penghuninya. Berdasarkan penyelidikan kami penghuninya sekarang adalah sepasang suami-istri yang sudah berumur, tapi sepertinya si suaminya tampak sakit karena terlihat memakai kursi roda," jelas detektif tersebut.


"Ada keterangan lain, yang berkaitan dengan Dara?"


"Menurut keterangan warga sekitar, belasan tahun lalu pernah ada seorang perempuan mengaku adik wanita itu yang tiba-tiba datang menyerahkan seorang bayi. Anak tersebut sempat dirawat olehya, hanya saja sebulan kemudian warga sekitar tak pernah lagi melihat keberadaan bayi itu. Mungkin saja Anak yang mereka maksud adalah Nyonya Dara, hanya itu informasi yang kami dapatkan."


"Oke, aku mengerti."


Klik.


Sambungan telepon dimatikan. Titik terang mengenai orang tua Dara mulai terlihat, akan tetapi untuk saat ini dia takkan memberitahukannya dulu kepada istrinya, Wira memilih untuk lebih fokus pada kehamilan Dara yang hari persalinannya tinggal beberapa minggu lagi.


Setelah menimbang-nimbang Wira memutuskan akan pergi besok ke alamat tersebut seorang diri, untuk mencari fakta sebenarnya dengan bertanya langsung kepada si pemilik alamat yang diberikan kepala panti. Namun untuk antisipasi dia akan pergi ke sana tanpa sepengetahuan Dara. Jika nanti kenyataannya baik maka Wira bermaksud akan segera menyampaikannya kepada Dara, tetapi jika tidak, maka dia akan menunggu hingga waktunya tepat untuk diungkap.


Wira kembali ke ruang tengah. Dilihatnya Dara ternyata tertidur di sana bersandar di sofa sementara kakinya masih menjuntai tenggelam di wadah air hangat. Pria tampan itu mengulas senyumnya, menghampiri dan mengangkat kaki Dara sepelan mungkin agar tidak membangunkannya.


"Tuan, perlu saya bawakan handuk?" suara Bu Rina di belakangnya menginterupsi Wira yang tengah menjauhkan wadah plastik berisi air bekas berendam kaki Dara.


"Iya, tolong ambilkan handuk bersih dan juga selimut di kamar utama," pinta Wira.


"Baik Tuan."


Diselimutinya wanita hamil yang terlelap itu. Wira juga ikut bergabung duduk di sebelah Dara dan merengkuhnya ke dalam pelukannya. Sore itu hujan ringan turun menyambangi bumi, menambah kesyahduan yang tercipta dari irama gemericik air hingga membuai wanita cantik yang terlelap itu untuk berlama-lama di alam mimpinya.


"Tidurlah, sayang."


*****


"Sayang, untuk senam hamil siang nanti aku tak bisa mengantar. Ada jadwal pekerjaan ke luar kota."


Dua sejoli itu tengah sarapan pagi bersama, sebetulnya Wira tidak mempunyai jadwal pekerjaan ke luar kota karena sebenarnya siang nanti dia berencana mengunjungi alamat yang diberikan kepala panti.


"Bagaimana jika dipindahkan besok? aku akan meminta untuk diaturkan kembali jadwalmu pada instruktur yang ditunjuk Raisa," ucap Wira di sela-sela menyesap kopi hitam premium beraroma buah-buahan yang akhir-akhir ini digemarinya sebagai pelengkap menu sarapan.


"Aku bisa pergi bersama Pak Jono dan juga ditemani Bu Rina. Jangan khawatir, Mas selesaikan saja pekerjaan hari ini dengan tenang," sahut Dara yang baru saja menghabiskan satu gelas penuh susu hamilnya.


"Baiklah. Tapi ingat untuk langsung pulang dan selalu berhati-hati, jangan sampai kelelahan. Kabari aku jika hendak berangkat, saat di tempat senam, juga setelah tiba kembali di rumah," tegasnya tak ingin dibantah.


"Ya ampun Mas, kayak minum obat aja sampai harus tiga kali." Dara menanggapi keposesifan suaminya dengan tawa kecil.


"Pokoknya gak ada tawar menawar," ujarnya lembut namun menuntut sembari mencubit hidung bangir Dara dengan gemas.


"Iya deh iya, Pak Dokter."