
Malam ini langit tampak cerah merayu, bulan purnama bersinar menggoda kerlip gemintang yang tersipu. Menaungi dua insan yang tengah berpadu, kala netra mereka menyapu lukisan langit nan syahdu.
Setengah jam yang lalu mereka baru menyelesaikan makan malam bersama sebagai keluarga yang utuh untuk pertama kalinya bagi Dara. Senyuman tak henti-hentinya mengembang di bibir ranumnya, rona bahagia tergambar sangat jelas di wajah cantiknya.
Sekarang ini keduanya sudah berada di kamar Wira di rumah besar itu. Kamar yang di desain menghadap kolam renang di sisi kanannya sedangkan sisi kirinya menampakkan hamparan taman samping rumah dengan berbagai jenis bunga-bungaan dilengkapi lampu-lampu temaram berbentuk bulat yang ditata begitu rapi dan selaras.
Dara berdiri menghadap kaca yang menampakkan indahnya taman rumah itu. Ia mengedarkan pandangannya dan ini adalah pertama kalinya ia memasuki kamar Wira ketika dulu membujang.
Si tampan tinggi menjulang itu melingkarkan lengan kokohnya di tubuh harum nan hangat favoritnya, merapatkan raganya hingga tak ada jarak dengan sang istri tercinta dan menopangkan dagunya di pundak Dara.
"Jadi ini kamar Mas?" tanya Dara sembari mengusap-usap lengan kokoh yang memerangkapnya.
"Hmm....." gumam Wira, sementara hidung mancungnya sibuk menghidu aroma manis yang menguar dari leher Dara.
"Pemandangan dari sini sangat indah. Aku suka sekali," cicit Dara. Bola mata beningnya bergulir menyapu pesona taman bunga yang tersaji di hadapannya.
"Tapi bagiku kamu lebih indah dari semua bunga-bungaan itu. Apalagi kalau tanpa pakaian," bisiknya menggoda dengan suara serak ke telinga Dara disertai deru napas yang mulai berat.
"Ey... dasar mesum!" Dara mencubit lengan kokoh suaminya membuat Wira tertawa renyah.
"Sayang, kamu harus memberiku bekal untuk tiga hari ke depan agar aku bisa fokus bekerja nantinya," ujar Wira.
"Bekal?" Dara mengerutkan keningnya samar sambil memutar bola matanya penuh tanya, "Maksudnya bekal seperti anak TK begitu?" sambungnya kembali.
"Maksudku bekal yang ini sayang." Wira mulai menelusupkan tangannya nakal di balik pakaian Dara, menyentuh titik-titik lemah istrinya dengan ahli sembari menyusuri leher jenjang itu dengan bibir panasnya.
"Akhh... Mashh jangan. Ingat, sekarang Ini kita sedang berada di rumah ayah dan ibu." Dengan mata terpejam dan napas yang mulai tersengal naik turun, Dara menahan tangan Wira yang berjalan-jalan merajalela menyentuh tubuhnya.
"Tapi aku malu, gimana kalau mereka mendengar."
"Aku yakin ayah dan ibu akan mengerti karena mereka juga pernah muda," imbuhnya tanpa menghentikan kegiatannya mengecupi kulit leher hingga pundak Dara dengan embusan napas hangatnya.
"Sebaiknya sekarang kamu fokus memberiku bekal agar aku tidak resah dan gundah gulana saat bekerja nanti," desah Wira dengan senyum jahilnya.
Ia membalikkan tubuh Dara hingga berhadapan dengannya, mendongakkan dagu si cantik itu menggunakan jemarinya dengan lembut. Mata mereka saling menatap dalam satu sama lain, seolah ikut berbicara mengungkapkan rasa cinta yang bersemayam di kalbu masing-masing.
Tanpa berlama-lama lagi Wira memagut bibir ranum itu dengan rakus dan secara otomatis Dara mengalungkan lengannya ke leher prianya. Mereka memadu kasih memuja tubuh masing-masing, saling memacu untuk pemenuhan nafkah batin hingga nikmatnya membanjiri ragawi.
Indahnya lukisan langit malam itu seolah ikut tersenyum. Melihat sebuah keluarga telah berdamai satu sama lain, saling menerima serta melengkapi.
*****
"Mas, sebaiknya sarapan dulu sebelum berangkat." Pagi-pagi sekali Wira sudah bersiap dan kini Dara tengah membantunya berpakaian.
"Kayaknya nggak akan keburu. Tapi kamu tenang saja, nanti aku akan sarapan bersama teman-temanku," sahut Wira.
"Tapi awas jangan sampai lupa. Jaga kesehatan ya, jangan sampai sakit," ucap Dara lalu menatap suaminya seolah tak rela melepasnya pergi padahal hanya beberapa hari saja.
"Baik Nyonya, pesan Anda akan selalu kuingat. Baik-baik di sini ya." Wira menangkup wajah Dara dan mengecup pipinya mesra.
Dara mengangguk dan mengulas senyum cantiknya. Setelah Wira selesai berpakaian, mereka berdua keluar dari kamar sambil bergandengan tangan dengan mesra.