You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 235



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Jangan lupa Ikuti juga give away hingga cerita ini end dengan vote sebanyak-banyaknya. Lima vote teratas akan mendapatkan kenang-kenangan tumbler dari author.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca....


*****


Setelah puas menumpahkan tangisnya dipelukan Wira, Dara pun akhirnya merasa lebih baik. Sesampainya di rumah dia bahkan meminta Bu Rina untuk membuatkan menu makan malam yang cukup banyak, Dara mengatakan tiba-tiba saja dirinya merasa sangat lapar dan ingin melahap banyak makanan.


Wira cukup lega melihatnya karena Dara berusaha untuk tidak terus larut dalam kesedihannya. Kendati demikian ia tahu bahwa bukanlah hal mudah bagi istri kecilnya untuk tetap kuat, butuh usaha keras serta tekad sekokoh batu karang dalam usahanya menjadi sosok yang tegar.


*****


Beberapa saat yang lalu Dara baru saja jatuh tertidur, sedangkan Wira yang berbaring miring disampingnya masih setia membelai-belai rambutnya sedari tadi. Ditatapnya lamat-lamat ibu dari calon anaknya itu, begitu tenang terlelap dalam damai meski masih menyisakan guratan pilu di wajah cantiknya.


Wira mengangsurkan punggung tangannya di sisi wajah Dara, mendekatkan wajahnya dan melabuhkan kecupan sayangnya di sana cukup lama. "Jangan bersedih lagi. Aku akan berusaha semampuku untuk selalu membuatmu tersenyum. Akan kuganti semua kesedihanmu dengan mempersembahkan yang terbaik yang aku bisa seumur hidupku," gumamnya dengan suara parau.


Ia bergerak turun dari tempat tidur sepelan mungkin lalu menyelimuti Dara, membuka tas warna mocha yang dipakai Dara tadi siang dan mengambil secarik kertas di dalamnya kemudian beranjak ke ruang kerja dengan membawa serta gawainya.


"Temukan sebuah alamat untukku dan carikan juga informasi lengkap tentang penghuninya. Keterangannya sudah kukirimkan lewat foto barusan. Lakukan secepatnya!"


*****


"Sayang, tentang alamat itu aku sudah menyewa orang-orang yang kompeten di bidangnya untuk mencarikan. Setelah mereka menemukan lokasinya serta mengumpulkan informasi yang dibutuhkan, barulah kita datang ke sana," ucap Wira yang pagi ini sudah tampak luar biasa tampan dan rapi bersiap berangkat ke rumah sakit.


Dara ikut mengantar hingga ke pintu dekat garasi, membawakan tas kerja juga jas putih Wira di lengannya. Jas kebanggaan para dokter yang tidak sembarang orang bisa memakai dan memilikinya, butuh perjuangan serta dedikasi untuk mendapatkannya agar bisa mengenakannya dengan bangga.


"Makasih Mas, untuk semua yang sudah kamu lakukan untukku. Seharusnya aku merasa cukup dengan memilikimu di sisiku sekarang, tapi aku malah serakah dan ingin mencari tahu tentang asal usulku yang akhirnya malah membebanimu. Maaf," jawab Dara yang kemudian menunduk seraya menarik napas dalam.


"Hey... sayang, lihat aku." Wira meraih dagu Dara lembut hingga wajahnya sedikit mendongak.


"Sebagai suami sudah seharusnya kulakukan semua ini untukmu. Kamu adalah istriku, juga seseorang yang telah rela mengandung keturunanku dengan segala kepayahan. Kamu bukanlah beban, tapi anugerah yang tak terhingga untukku. Menyempurnakan kekuranganku, menyempurnakan kebahagiaanku, yang selalu siap sedia untuk menguatkanku juga memberiku rasa rumah yang sesungguhnya dan itu semua karena dirimu. Buang jauh-jauh semua pemikiran semacam itu, aku akan benar-benar marah jika kamu mengulanginya."


Dara terenyuh dengan segala untaian kalimat yang diungkapkan pria tinggi tegap di hadapannya. Matanya yang berkilauan indah berkaca-kaca, cerminan rasa haru yang tengah berpesta pora di sanubari terdalamnya.


"Jangan pernah lagi menganggap dirimu tak berharga karena kamu adalah hal terbaik yang pernah ada di hidupku, segalanya bagiku, Anandara," ungkap Wira penuh ketulusan.


"Iya Mas." Dara mengangguk dan tak mampu menahan diri untuk memeluk suami tercintanya, merasa betapa beruntungnya dirinya memiliki pria yang mencintai dan menghargainya setinggi langit. "Terima kasih telah mencintaiku. Aku sangat menyayangimu, suamiku."