
Wira mendudukkan dara di tepian ranjang dan ia berjongkok dihadapannya dengan satu lutut bertumpu di lantai, dihapusnya air mata yang masih berderai di wajah cantik itu menggunakan jemarinya dengan lembut.
Wira menatap istrinya dari kepala hingga ujung kaki. Kedua bola mata indah itu sembap, rambutnya tak beraturan bekas jambakan, jari manisnya lecet dan pergelangan tangannya mulai menggelap serupa memar jejak cekalan Ratih yang sekuat tenaga.
Dadanya sesak, hatinya terasa perih dan pilu, batinnya bertanya-tanya mengapa sosok ibu yang dihormatinya bisa setega ini terhadap wanita yang dicintainya. Inginnya ia menangis menumpahkan segala rasa yang berkecamuk di jiwanya, tetapi Wira berusaha menahannya karena tak ingin istrinya semakin rapuh jika dirinya memperlihatkan sisi lemahnya saat ini.
"Sakitkah?" Tangannya terulur menyentuh pelan pergelangan tangan Dara.
Dara mengangguk lemah, masih dalam sedu sedannya. "Aku... aku... ingin mandi Mas," pintanya.
Wira berdiri dan mengulurkan tangannya. "Ayo, kumandikan."
Ia menawarkan diri dan Dara tidak menolaknya, digendongnya istri kecilnya dengan hati-hati karena sekarang ada nyawa lain di tubuh mungil itu.
Mereka mandi bersama, tetapi tak ada kegiatan bergelora ataupun erangan hasrat di bawah guyuran shower kali ini, Wira benar-benar memandikan Dara penuh kasih sayang. Pergerakannya terhenti saat hendak membubuhkan busa sabun di bagian perut Dara, kemudian ia menaruh telapak tangannya di atas perut yang masih rata itu.
"Jadi, di dalam sana ada anakku?" ucapnya lembut tepat di hadapan perut Dara.
"Iya, dia juga anakku, ada anak kita di sana Mas." Dara meletakkan tangannya di punggung tangan Wira yang menyentuh perutnya. Walaupun beberapa bagian tubuhnya terasa sakit, tetapi tak menyurutkan sudut bibirnya untuk tertarik ke atas menciptakan sebuah senyuman dan matanya menatap suaminya dengan binar bahagia.
Hati Wira dipenuhi rasa haru yang menyeruak, seorang anak adalah sesuatu yang sudah lama dinantikannya. Membayangkan bagian dirinya dan juga wanita yang dicintainya menjadi satu dan bertumbuh di dalam sana membuatnya bahagia tak terkira, setetes bening mengalir dari sudut matanya, luapan air mata bahagia sudah tak mampu dibendungnya lagi.
Setelah menumpahkan luapan kebahagiaannya ia segera membersihkan tubuh Dara dan juga dirinya, karena jika lebih lama lagi di bawah guyuran air ia khawatir istrinya masuk angin.
*****
Wira keluar dari kamarnya dalam keadaan segar, ia mencari-cari Bu Rina, dilihatnya wanita paruh baya itu sedang berkutat di dapur tengah membuat sesuatu.
"Bu Rina," panggil Wira.
Wanita itu langsung menghentikan kegiatannya kemudian berbalik badan dan menyambut dengan sopan, "Iya Tuan."
"Apakah Dara sudah makan hari ini? dia terlihat lemah." Wira berucap dengan cemas.
"Nyonya muda hanya makan beberapa keping coklat saja, katanya tak punya selera makan apapun sejak pagi. Jadi saya berinisiatif membuat bubur manis labu kuning dicampur susu ini untuk mengisi perutnya, ternyata selera makannya menurun pasti karena kehamilannya. Itu hal biasa Tuan, kebanyakan wanita mengalami rasa mual saat tiga bulan pertama mengandung. Turut berbahagia Tuan, akhirnya Anda akan menjadi seorang ayah." Tutur Bu Rina sambil mengulas senyum.
"Terima kasih. Jika buburnya sudah jadi tolong antarkan ke kamar, dan juga bawakan beberapa keping coklat karena Dara ingin memakannya lagi," titahnya.
"Baik. Maaf Tuan, cincin pernikahan Anda ada di meja ruang tengah, Juga tas nyonya muda beserta isinya sudah saya rapikan kembali, saya meletakkan semuanya di sana."
Wira mengangguk dan berlalu dari dapur menuju ke ruang tengah, ia mengambil cincin tersebut serta tas Dara dan membawanya ke kamar utama.