
"Tetaplah didekatku, aku membutuhkanmu," desahnya parau.
"Kenapa? apa Kakak masih merasa takut? apakah bayangan itu masih menghantui hmm?" Dara mengusap-usap sisi punggung Wira. Dia membiarkan Wira memeluknya tanpa perlawanan, saat ini Dara hanya berpikir, mungkin Wira masih ketakutan.
"Tetaplah begini, sebentar saja." Wira memejamkan matanya dan kembali menghirup aroma Dara sedalam-dalamnya seolah ingin melahapnya.
Embusan napas panas Wira menggelitik tengkuk Dara dan mulai membuatnya merasakan hal yang berbeda. Sekujur tubuhnya meremang, otaknya menyuruh untuk melepaskan diri, tetapi justru tubuhnya enggan. Wira makin mengetatkan pelukannya dan hal itu membuat Dara merasa sesak.
"Kakak... sesak," ucap Dara. Mendengar suara Dara, ia segera tersadar bahwa rengkuhannya menyakiti gadis itu.
"Maaf." Wira mengurai pelukannya tetapi tidak sepenuhnya, kedua lengannya masih memerangkap tubuh Dara.
Dara masih berada di atas tubuh kokoh itu, saat Wira melonggarkan pelukannya ia mengangkat wajahnya dan kini mata mereka saling bertemu pandang dengan jarak wajah masing-masing hanya satu jengkal saja. Wira mengangsurkan jemarinya, menyelipkan rambut Dara ke telinganya dan menatap lamat-lamat wajah cantik menggemaskan itu.
"Ada apa, aku ada disini menemani, jadi Kakak jangan takut lagi." Dara mengulas senyum cantiknya dan itu membuat Wira harus menahan sesuatu yang makin mendesak di dalam dirinya.
Lalu, Wira teringat jika kaki Dara sedang sakit, tetapi tadi gadis itu menggantikannya menyetir, bahkan memapahnya masuk ke dalam hotel.
"Kakimu... bagaimana? bukankah kakimu sedang sakit?" Wira bertanya dengan sorot mata cemas.
"Ahahaha... i-itu, kakiku... mmm... su-sudah lebih baik," jawab Dara tergagap, kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Secepat itu? ajaib sekali," ujar Wira.
Mata Wira memicing penuh tanya, apalagi ditambah dengan ekspresi gadis itu yang mencurigakan. Dia menangkupkan kedua tangannya di sisi wajah Dara dan memalingkannya, membuat mereka kembali saling bersirobok. Mata tajamnya menatap iris cantik itu berusaha menyelami, membuat Dara salah tingkah karena takut ketahuan.
"Akhhh... baiklah baiklah, aku akan mengaku," serunya frustasi.
"Sebenarnya kakiku baik-baik saja, tidak sakit sama sekali." Dara menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya karena malu.
"Kenapa kamu berbohong? untuk apa hmm?" Wira bertanya sambil mengulum senyumnya.
Dara memejamkan matanya, mengigit bibirnya dan mendesahkan napasnya kasar, lalu berusaha bangkit dari posisinya sekarang dan mendudukkan dirinya, disusul oleh Wira yang juga melakukan hal serupa.
Wira terkekeh dan kembali bertanya dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. "Apakah kamu cemburu?"
"Ti-tidak, aku tidak cemburu," sanggahnya. Dara menolehkan kepalanya dan melemparkan tatapan galaknya dengan bibir mencebik sebal.
"Ahahaha...." Wira tergelak. Kemudian tanpa aba-aba ia menghela Dara ke atas pangkuannya. Gadis itu berusaha melepaskan diri tetapi lengan kokoh Wira memerangkap tubuh mungilnya.
"Apakah kamu tahu? aku juga tidak suka saat melihatmu berdekatan dengan pria lain, termasuk dosenmu itu. Aku cemburu," Wira mengakuinya di depan Dara tanpa keraguan membuat gadis yang asalnya meronta menjadi terdiam.
"Dan juga, apa yang tadi kamu rasakan terhadapku adalah hal serupa, itu namanya cemburu. Apakah kamu tahu dari mana sumber rasa cemburu itu hmm?" Wira menjeda kalimatnya.
Dara hanya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi menggemaskan.
"Sumbernya... sumber dari semua itu adalah, rasa cinta," sambung Wira kembali dengan nada lembut penuh pemakluman.
"Ci-cinta?" sahut Dara pelan dengan tatapan mata polosnya. Gadis itu terlihat kaku masih mencerna tentang apa yang di jelaskan Wira.
"Iya, itu cinta... sayang, sekarang akupun menyadari dan meyakini tentang rasaku kepadamu. Itu adalah rasa yang sama, aku... mencintaimu... Anandara." Wira mendekatkan wajahnya dan mengecup kening Dara penuh cinta dan kasih sayang. Kemudian memeluknya dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Dara.
"Tetaplah didekatku, aku membutuhkanmu, sebagai penenangku dan juga sebagai istriku yang sesungguhnya," ucapnya dengan suara serak.
"I-istri... yang sesungguhnya?" Dara terbata.
Wira mengurai pelukannya dan menatap wajah cantik gadis polos yang duduk di pangkuannya itu.
"Ya," sahut Wira disusul dengan kecupan ringan di bibir Dara. Gadis itu memejamkan matanya ketika bibir panas Wira mendarat di bibirnya. kemudian Wira menempelkan kening mereka satu sama lain dengan dada naik turun karena deru napas yang tak beraturan.
"Aku membutuhkanmu sebagai istri yang sesungguhnya... sayang."
Tanpa menunggu lagi Wira meraih tengkuk Dara dan mencium bibir ranum yang sudah menggodanya sejak tadi, mengeratkan pelukannya sehingga kini tubuh mereka merapat satu sama lain. Dara tidak menolak, ia memejamkan matanya, meresapi rasa yang menuntunnya untuk mencicipi cinta yang mulai bergelora.