
"Dokter, dokter!"
Terdengar bunyi gaduh di depan pintu ruangan Wira.
"Masuk," seru Wira yang sedang memeriksa bekas laporan pasien, sementara Dara tengah menonton siaran televisi di ruangan itu sambil menunggu Wira selesai bekerja.
Pintu terbuka, dan masuklah seorang perawat laki-laki dengan tergesa-gesa disertai napas yang tak beraturan, sepertinya dia berlarian dengan cepat untuk bisa sampai di sana.
"Ada apa?" tanya Wira, kemudian menaruh berkas yang sedang dipegangnya.
"Dokter, di ruang UGD perlu bantuan sekarang juga. Kami kewalahan dengan kedatangan para korban kecelakaan bus terbalik beberapa saat yang lalu. Korban yang terluka sangatlah banyak, semua dokter dan perawat yang sedang tidak menangani pasien dikerahkan dan diminta datang ke UGD untuk membantu," jelasnya masih dengan napas pendek-pendek.
Tangannya sedikit gemetar mendengar penjelasan itu, ia melirik dengan gusar ke arah Dara dan juga si perawat tersebut. Dara juga terkesiap mendengar penuturan perawat itu, mengingat akan trauma Wira ia sungguh khawatir, sedangkan yang namanya korban luka-luka sudah pasti akan menghadirkan benda cair berwarna merah tersebut.
Dokter tampan itu berpikir sejenak, saat ini bantuannya sedang sangat diperlukan, sebagai seorang dokter tidak mungkin ia hanya berpangku tangan. Wira bangkit dari kursinya, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia pasti bisa dan semuanya akan baik-baik saja.
"Aku segera kesana. Pergilah lebih dulu, aku akan menyusul," sahut Wira tanpa ragu.
"Baik Dokter, terima kasih." Perawat itu segera berbalik badan dan melangkah keluar dari sana.
Wira memakai jas dokternya dan membawa stetoskopnya, lalu melangkah menghampiri di mana Dara tengah duduk.
"Sayang, tunggulah dulu di sini, aku harus ke UGD." Wira mengusap kepala Dara sekilas lalu segera bergegas keluar dari sana.
Sepeninggal Wira, Dara mengigiti kukunya, jika ada hal yang membuatnya cemas begitulah kebiasaannya. Untuk beberapa saat ia mondar-mandir di dalam ruangan itu dengan gelisah, lalu akhirnya memutuskan untuk menyusul ke UGD karena khawatir akan kondisi Wira di sana.
Saat sampai di ambang pintu ruang UGD, matanya menjelajah mencari suami tercintanya, suasana ruangan gawat darurat itu hiruk pikuk karena membludaknya korban kecelakaan.
Dari kejauhan akhirnya ia menangkap sosok Wira, kira-kira berjarak sepuluh meter dari ruang pandangnya, wajah tampannya tampak pucat pasi disertai buliran keringat yang membasahi pelipisnya. Dara segera menerobos masuk ke dalam dan menghambur ke dekat Wira lalu ia menggenggam tangan Wira yang ternyata sedingin es.
"Mas," ucap Dara. Napasnya masih tersengal dengan raut wajah yang luar biasa cemas.
Wira menolehkan kepalanya ke samping saat tiba-tiba ada yang memanggil dan menggenggam tangannya. Awalnya Wira merasa dirinya pasti mampu mengatasinya, tetapi pada kenyataannya saat semua yang menghantuinya terpampang di depannya ia kembali dikalahkan oleh bayangan pahit tersebut.
"Sa-sayang," ujarnya dengan suara rendah.
"Mas, baik-baik saja?" tanyanya sambil mengeratkan genggamannya seolah menyalurkan kekuatan yang dimilikinya untuk Wira.
Saat Dara hadir didekatnya, entah apa penyebabnya semua rasa takut Wira berangsur sirna. Wira juga balas mengeratkan genggaman tangannya, lalu mencoba melihat kembali pasien terluka yang sedang ditanganinya. Tak disangka Wira merasa mampu mengatasinya, sepertinya dengan adanya Dara disisinya ia mampu bangkit kembali.
"Sayang, bisakah tetap disisiku? tolong bantu aku!" pintanya penuh harap.
"Aku ada di sini, aku akan selalu ada di sini. Apa yang harus kubantu," sahut Dara, terdengar berbagai macam luapan emosi dari nada suaranya.
"Cukup berada di sisiku, jangan menjauh dari pandanganku. Aku membutuhkanmu, bisakah kamu melakukannya?" mohonnya kembali.
"Apapun itu, akan kulakukan," jawabnya meyakinkan tanpa ragu sedikitpun.