You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 159



Mobil mewahnya melaju kencang membelah jalanan pagi yang masih lengang, semalam Wira janji bertemu dengan rekannya yang menjabat sebagai kepala polisi. Wira meminta bertemu pagi-pagi sekali karena rencananya setelah bertemu kepala polisi ia akan mampir ke rumah besar untuk menemui ibunya.


Sesampainya di tempat tujuan, orang tersebut sudah tampak menunggu bersama dengan beberapa polisi lainnya. Wira melaporkan semua perbuatan tercela Michelia sesuai bukti-bukti yang terkumpul.


Wira membuat laporan tentang Michelia dengan tuduhan pembunuhan berencana, serta pelanggan kode etik sebagai dokter yang menyalahgunakan profesinya untuk mencelakai pasien. Tak lupa juga tentang bisnis gelapnya memperjual belikan berlian palsu ikut melengkapi berkas yang akan menjeratnya dengan pasal berlapis.


Semua bukti yang terkumpul diserahkan kepada pihak berwajib, termasuk obat peluruh dan video rekaman CCTV.


Wira sengaja menghubungi rekannya dan meminta bertemu di luar secara rahasia. Ia memilih bekerja sama dengan rekannya itu karena kinerjanya yang kompeten sudah teruji dan tak diragukan lagi.


Mengingat kabar yang santer beredar di luaran bahwa kebobrokan keluarga Michelia yang selama ini susah dibuktikan. Mereka licin seperti ular karena biasanya berlindung dibalik jabatan tinggi ayahnya yang juga menyalah gunakan kekuasaannya, maka dari itu Wira sangat berhati-hati dan sudah memperhitungkan segala kemungkinan.


Sayang sekali, kali ini Michelia salah perhitungan dan mengincar mangsa yang keliru, karena keluarga Aryasatya juga mempunyai pengaruh yang kuat dalam berbagai aspek. Ditambah pribadi Wira yang tegas takkan pernah melakukan pembiaran jika ada yang berani meletakkan tangan kotornya untuk menyentuh keluarganya, keluarga kecilnya yang berharga.


Tak lupa ia juga mengubungi Raisa tentang semua yang terjadi dan juga tentang perihal melapor kepada pihak yang berwajib. Raisa benar-benar terkejut, karena bagaimanapun juga ia adalah dokter yang bertanggung jawab atas Dara sebagai pasiennya.


Wira memberitahunya agar Raisa tidak kaget nantinya jika ada polisi yang meminta keterangan darinya terkait hal ini. Tentu saja Raisa sangat mendukung tindakan yang diambil Wira dan takkan membiarkan dokter tak bertanggung jawab semacam Michelia berkeliaran begitu saja menyalahi kode etik dan berbuat semena-mena.


Diperiksanya kembali jadwal operasi yang akan dipimpinnya hari ini. Prosedur akan dilaksanakan pukul sepuluh pagi dan sekarang baru pukul tujuh, jadi masih ada beberapa jam lagi hingga waktu jadwal operasi yang sudah ditentukan. Ia baru saja menyelesaikan pertemuannya dengan si kepala polisi dan akan menggunakan waktunya sebelum ke rumah sakit untuk mengunjungi ibunya.


Wira melajukan mobilnya menuju rumah besar, ia juga sudah menyiapkan semua berkas perbuatan tercela Michelia untuk ditunjukkan kepada ibunya. Berharap wanita yang telah melahirkannya itu mampu membuka matanya lebar-lebar dan melihat warna asli Michelia yang selalu disanjungnya sebagai menantu idaman.


Pintu gerbang terbuka. Satpam yang berjaga di depan rumah besar langsung membuka pagar lebar-lebar begitu melihat kedatangan tuan mudanya.


Wira memarkirkan mobilnya tepat di halaman dekat pintu utama kediaman orang tuanya dan bergegas masuk dengan sebuah amplop besar berwarna coklat di tangan.


"Selamat datang Tuan Muda," sambut seorang pelayan.


"Di mana ibuku?" tanya Wira tanpa berbasa-basi.


"Sepertinya Nyonya Besar masih di kamarnya, biasanya sebentar lagi akan turun sarapan bersama Tuan Besar," sahut si pelayan.


"Aku akan menunggu di ruang makan."