You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 38



Sejuknya butiran embun menghiasi di pagi hari, bergulir berkilauan di atas dedaunan hingga kemudian jatuh menyentuh bumi. Kicauan burung mengalun merdu bernyanyi, bersahutan seirama dalam satu simfoni.


Sulur lembut sang surya mulai menyapa melalui celah udara di kamar itu, manyapu wajah cantik yang mulai terusik dari tidur lelapnya. Dara mengerjapkan matanya ketika cahaya mentari menggelitik membangunkannya, matanya perlahan terbuka, tetapi seketika rasa sakit menghantam kepalanya saat cahaya silau keemasan itu merasuk ke dalam netranya, mungkin karena semalam terlalu banyak menangis, akhirnya kepalanya terasa berdenyut di pagi hari.


Gadis itu turun dari ranjang, menuju ke kamar mandi dengan langkah sedikit terseok karena matanya belum terbuka sempurna. Dara mengisi bathub dan membubuhkan minyak esensial aromaterapi, kemudian memasrahkan diri di pelukan air hangat yang nyaman dan menyenangkan.


*****


Setelah selesai dengan ritual mandi paginya, Dara memakai piyama lain yang ada di kamar itu, kemudian keluar dari sana untuk mengisi ulang perutnya. Villa itu tampak hening sunyi senyap, Dara mengedarkan pandangannya tapi tidak menemukan Wira di sofa tempat semalam pria itu berbaring, hanya ada selimut tebal yang sudah terlipat rapi di sana.


Indera penciumannya menangkap aroma lezat yang menguar dari arah dapur, berimbas pada perutnya yang mengeluarkan bunyi serupa alarm alami tubuhnya yang menagih meminta jatahnya. Dara berlari-lari kecil menuju dapur, dilihatnya si ibu pengurus villa tengah menata roti panggang beraroma butter yang diolesi selai cokelat hazelnut di atas piring. Dara menghampiri, membuat si ibu menolehkan kepalanya saat menangkap pergerakan di sebelahnya.


"Non, eh maaf Nyonya, selamat pagi. Saya belum selesai menyiapkan sarapan, maaf agak terlambat, silahkan menunggu di meja makan, atau jika Nyonya ingin sarapan di kamar akan saya bawakan ke sana," tawarnya sopan.


"Terima kasih Mbok, aku sarapan disini saja." Dara menarik kursi dan duduk dengan kedua siku yang bertumpu di atas meja sambil menunggu sarapannya siap.


"Terima kasih, mmm... maaf Mbok, Kak Wira kemana ya? sejak tadi aku belum melihatnya," ucap Dara di sela-sela kunyahan sarapannya.


"Tadi, tuan Wira sudah pulang saat fajar baru saja menyingsing, sepertinya pergi terburu-buru, dan beliau menugaskan saya untuk melayani Nyonya selama di sini, pak Jono juga sudah ada di sini untuk mengantar Nyonya jika ingin pergi berjalan-jalan," paparnya.


"Pu-pulang?" Kunyahannya terhenti, lalu raut wajahnya berubah penuh tanya.


"Maaf, apakah tuan tidak memberitahu Nyonya perihal kepulangannya yang mendadak?" tanyanya agak keheranan, mengingat pasangan ini adalah pengantin baru yang lumrahnya sedang dalam masa hangat-hangatnya. Tidak mungkin kan mereka berengkar di momen malam pertama? batinnya.


"Ahahaha, ten-tentu saja aku sudah tahu Mbok, hanya saja mungkin karena semalam aku terlalu lelah dan mengantuk jadi kurang memperhatikan apa yang dikatakan kak Wira," sahutnya kikuk mencari alasan, sambil berusaha mengkondisikan air mukanya yang sudah pasti mengundang tanya setiap orang yang melihatnya.


"Saya mengerti Nyonya." Si ibu tersenyum penuh arti karena salah mengartikan ucapan Dara. Mengingat usia tuannya yang sedang dalam masa-masa penuh gejolak gairah, dia mengira sudah pasti semalaman mereka melakukan kegiatan yang bergelora hingga menyebabkan Dara kelelahan.