You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 167



Ratih menangis meraung-raung dipelukan Haris, pria paruh baya itu mengusap-usap punggungnya dengan gerakan teratur untuk menenangkan.


"Ayah... bagaimana ini. Maafkan Ibu karena terlalu ceroboh hingga uang hampir lima milyar melayang begitu saja," ucap Ratih masih terisak.


Haris melonggarkan pelukannya dan memegang kedua pundak Ratih," Lima Milyar? maksudnya bagaimana Bu."


Haris mengerutkan keningnya penuh tanya, kemudian Ratih mulai menceritakan semua kejadian yang dialaminya secara terperinci, dirinya benar-benar merasa dikecewakan oleh seseorang yang akhir-akhir ini disanjungnya.


Haris pun menyampaikan kepada istrinya perihal Michelia yang kini menjadi buronan polisi, serta kejadian yang menimpa Ratih bisa dijadikan tambahan bukti untuk memperkuat tuduhan yang sudah dilayangkan sebelumnya.


"Uang bisa dicari. Memang jumlah tersebut tidak sedikit, tetapi yang lebih penting sekarang adalah bagaimana Ibu merenungkan diri dan memetik hikmah dari musibah ini. Jangan langsung menyimpulkan menilai seseorang hanya dari cangkang luarnya saja. Mungkin kemasannya memang mewah dan menyilaukan, hanya saja bungkus mahalnya tidak menjamin bahwa isinya juga baik. Ibu paham kan maksud Ayah?"


Ratih mengangguk tanda mengerti setelah mendengar perkataan suaminya, Haris juga berharap semoga kedepannya istrinya bisa menjadi pribadi yang bisa menghargai orang lain bukan berdasarkan harta ataupun kedudukan.


*****


Saat ini Wira baru saja selesai membasuh diri dan tengah berganti pakaian, Dara masuk ke dalam kamar lalu menghampirinya dengan membawa segelas wedang rempah-rempah di atas nampan.


Wedangnya direbus sendiri oleh Dara berdasarkan resep yang dipelajarinya semasa SMA dari almarhum ayah angkatnya. Dara rutin membuatnya tiga kali dalam seminggu, memastikan sang suami tercinta selalu dalam kondisi sehat dan prima setiap harinya.


Minuman tersebut berkhasiat untuk memperkuat daya tahan tubuh juga mengurangi pegal dan lelah, sangat ideal untuk Wira yang sering bertemu dengan orang sakit dan mengharuskan sistem imunnya selalu terjaga agar tidak mudah terkontaminasi.


Aroma wangi khas rempah dari wedangnya menyeruak di seantero kamar, membuat Wira merasa kembali segar dan berenergi padahal baru menghirup aromanya saja.


"Diminum dulu Mas, selagi hangat rasanya lebih nikmat." Dara menyodorkan nampan ke hadapan pria tampan yang rambutnya masih basah dan acak-acakan itu.


Wira mengambil gelas tersebut dan meminum isinya hingga habis tak tersisa, kemudian kembali menaruh gelas kosongnya ke atas nampan.


Dara menaruh nampan di atas meja kecil yang terdapat di ruang ganti, mengambil alih handuk kecil yang dipegang Wira kemudian berjinjit untuk mengeringkan rambut suaminya itu. Seperti biasa Wira sedikit membungkukkan tubuhnya tingginya dan lengannya melingkar manis di pinggang Dara.


"Sayang,"


"Hmm...." sahut Dara yang masih sibuk fokus dengan kegiatannya.


"Ibu sakit," ucap Wira pelan membuat Dara menghentikan pergerakan tangannya yang tengah memegang handuk.


"Sa-sakit... sakit apa, sejak kapan? kenapa Mas baru memberitahuku," cecarnya tanpa jeda.


"Tadi siang ibu mendadak pingsan dan langsung dibawa ke rumah sakit. Sebelum aku pulang ibu sudah siuman dan sekarang masih dalam pantauan perawatan. Tapi kamu tenang saja kondisinya semuanya baik, mungkin ada sesuatu yang membuatnya terkejut luar biasa," jelasnya.


"Kenapa tidak langsung memberiku kabar, aku juga ingin melihat kondisi ibu," sahut Dara.


"Kamu sedang hamil muda sayang, aku takut kamu terkejut jika aku menyampaikan kabar ini lewat telepon. Lagipula sekarang kita harus lebih berhati-hati dan waspada karena Michelia berhasil kabur saat polisi hendak menangkapnya. Sudah kutugaskan beberapa bodyguard terlatih untuk menjaga keamanan sekitar rumah. Aku takut dia akan mencelakaimu lagi." Wira berkata dengan raut wajah khawatir.


Dara menatap lekat-lekat dan menyelam ke dalam netra memukau di hadapannya itu. Nada suara Wira terdengar agak melemah dan ia menemukan kecemasan yang bergerombol di dalam sana. Hanya saja bukan cuma rasa khawatir terhadap dirinya yang Dara temukan, tetapi juga secercah rindu dari seorang anak kepada ibunya.


"Mas rindu ibu? apakah ingin menginap di rumah sakit untuk menemani?" tanya Dara penuh pemakluman.


"Bolehkah?" Wira sebetulnya tidak menyangka Dara akan melontarkan kalimat semacam itu, seakan istri kecilnya ini diciptakan sangat memahami dirinya jiwa dan raga.


"Tentu saja boleh, tapi aku juga ingin ikut menemani. Bukankah ketika aku menikah denganmu maka otomatis orang tua Mas juga menjadi orang tuaku? jadi izinkan aku untuk menjenguk juga," pintanya dengan senyuman yang merekah menyejukkan hati.