
Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya.
Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis. Ayoooo... vote sebanyak-banyaknya.
Selamat membaca....
😘💕
*****
Dara yang menunduk seketika mengangkat wajahnya karena terkesiap dan langsung menatap lurus ke arah Ratih, apakah yang didengarnya sungguh nyata dan bukanlah mimpi belaka?
Mata indahnya bergulir memandang bergantian ke arah Wira dan juga Ratih seolah tak percaya, masih memastikan dan mencari pembenaran bahwa yang didengarnya bukan cuma ilusi. Wira mendekati Dara, berdiri di belakangnya dan meremas bahunya lembut. Ia paham jika saat ini istrinya itu tengah dilanda luapan rasa yang membuatnya seakan kebingungan.
Ratih meraih tangan kanan Dara ke dalam genggamannya, lalu mengusap-usap punggung tangannya.
"Terima kasih. Karena masih bersedia merawat Ibu yang buruk sepertiku, mungkin aku memang tak pantas dipanggil dengan sebutan Ibu olehmu," ucap Ratih sambil tersenyum getir.
"Jangan berkata begitu Tante. Aku... aku hanya masih terkejut saja," sahutnya canggung.
"Ini...ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang memintaku untuk memanggil dengan sebutan itu. Aku memiliki seorang ayah luar biasa yang membawaku dalam kasih sayang yang disebut keluarga, tetapi sebelumnya aku... aku tak pernah punya seorang Ibu," kata Dara dengan wajah menyendu dan kemudian kembali menunduk.
Sudut kalbunya yang telah lama membatu membeku karena ego mulai mencair ketika membiarkan cahaya Dara menyelusup menyinarinya, membuat sudut gelap itu perlahan menghangat dan kelamnya berangsur menghilang.
"Jadi sekarang, sudikah kamu menjadi Anakku dan bolehkah aku menjadi Ibumu?"tanya Ratih dengan suara pelan dan lembut.
Dara menelan ludahnya karena gugup, tenggorokannya tercekat karena berbagai luapan yang berkecamuk di dadanya. Ia menolehkan kepalanya ke belakang menatap Wira yang disambut anggukan kepala kemudian kembali menatap Ratih.
"Ketika menikah dengan Mas Wira maka secara otomatis orang tua Mas Wira juga adalah keluargaku dan secara tidak langsung aku ini sudah menjadi anak Ibu. Benarkan Bu?" ucap Dara parau karena menahan haru.
"Panggil aku Ibu sekali lagi, Nak. Ibu ingin mendengarnya lebih jelas" pintanya. Ratih mulai berkaca-kaca, setelah melihat Dara dan mengenal lebih dekat, hatinya tersentuh dan ia mulai jatuh hati pada gadis ini.
"I-Ibu...." ucap Dara terbata.
Ratih merentangkan kedua tangannya dan memberi isyarat agar Dara datang ke dalam pelukannya. Ragu-ragu Dara berdiri kemudian semakin mendekat dan memasrahkan diri dipelukan seorang wanita yang baru mulai membuka hati untuk saling menerima dengan dirinya.
Sudut mata Dara mengalirkan sebutir bening membasahi wajah cantiknya, bermimpi pun ia tak berani untuk memiliki seorang Ibu karena semua itu hanyalah angan-angan saja yang tak mungkin diraihnya. Begitu juga dengan Ratih, wanita paruh baya itu ikut hanyut dalam luapan arus haru yang memenuhi seluruh atmosfer ruangan tersebut, hampir saja ia menukar permata berharga dengan seonggok batu kerikil yang berbalut kepalsuan.
Wira yang menyaksikannya mengulas senyum lega, karena satu persatu permasalahan dalam kehidupannya mulai terselesaikan seperti harapan dan do'a-do'anya. Ia ikut bergabung merengkuh dua wanita berharga di hidupnya, berharap semua ini menjadi awal baik dalam menapaki masa depan bersama dengan orang-orang tercinta.