You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 67



Langkahnya semakin mendekati tenda besar yang ditunjukkan Anggi, akhirnya mata Wira menangkap sosok Dara, dilihatnya gadis itu sedang tertawa riang dengan dosen yang mengantarkannya pulang waktu itu. Mata Rifki memancarkan binar tak biasa saat menatap Dara, dan itu semua tak luput dari pengamatan seorang pria yang kini mengepalkan tangannya.


Wira berhenti melangkah dan berdiri tepat di hadapan mereka hanya berjarak satu meter saja. Dia berusaha mati-matian menormalkan raut mukanya agar rasa cemburu yang meluap-luap dihatinya tak kentara. Kedatangan Wira yang tiba-tiba membuat Dara keheranan, lalu gadis itu menghampirinya.


"Lho, Kakak kok tiba-tiba bisa ada sini? apakah ada hal penting? kenapa tidak menyampaikan lewat telepon saja, kenapa jauh-jauh datang kemari?" seloroh Dara tanpa jeda.


"Ehm... ehm... kebetulan hari ini aku sedang ada urusan di daerah sini, jadi aku mampir untuk melihat kegiatanmu. Hanya khawatir, jika mungkin bukan kegiatan positif yang terlaksana, tetapi malah hal-hal pribadi di luar itu yang terjadi," ucapnya sambil melemparkan tatapan tajam kepada Rifki.


Rifki ikut menghampiri dan tersenyum ramah kepada Wira, sedangkan Wira terlihat kaku karena sedang berusaha menahan rasa cemburunya agar tidak menyeruak ke permukaan.


"Halo, perkenalkan, saya Rifki, dosen pembimbingnya Dara," sapanya sopan. Kemudian Rifki mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.


"Saya Wira, walinya Dara," sahutnya. Berusaha menarik kedua sudut bibirnya ke atas untuk tersenyum walaupun sulit. Kemudian menerima uluran tangan Rifki dan mereka pun berjabat tangan.


"Saya sudah tahu, kita pernah bertemu sebelumnya sewaktu saya mengantar Dara ke rumah sakit, mungkin Anda tidak mengingatnya karena waktu itu pasti Anda sedang dalam masa yang sulit. Turut berdukacita atas kepergian istri Anda," ucap Rifki.


"Terima kasih," jawabnya singkat.


Lalu terdengar instruksi dari pengeras suara yang mengharuskan semua peserta untuk berkumpul karena acara akan di mulai kembali.


"Pak Wira, untuk acara sore ini, kami akan mengadakan game, jika bersedia Anda boleh ikut serta untuk berpartisipasi," tawar Rifki.


Wira tampak menimbang-nimbang, tetapi kemudian mengangguk mengiyakan tanda setuju. Dia akan menggunakan kesempatan ini agar Rifki tidak bisa mendekati Dara. Lomba demi lomba sudah terlaksana, Wira sengaja duduk bersila di belakang Dara, sementara di sisi kiri dan kanannya Dara ada Anggi dan juga Freya.


Tubuh kokohnya melingkupi Dara, seperti seorang bodyguard yang sedang melindungi nonanya dengan posesif. Tadinya Rifki yang hendak duduk di sana, tetapi Wira dengan cepat menyela dan menempatinya, sehingga mau tak mau Rifki duduk bergeser agak menjauh.


Lalu tibalah saatnya permainan sandal bakiak berpasangan, peserta dipilih secara acak. Semua yang hadir diharuskan memasukkan kertas yang bertuliskan nama mereka ke dalam sebuah wadah besar.


Entah kebetulan atau apa, Dara terpilih berpasangan dengan Rifki dalam lomba kali ini, keduanya di minta ke tengah lapangan untuk bersiap, membuat Wira makin mengetatkan gerahamnya dengan wajah menggelap. Sesaat kemudian namanya juga ikut disebut, Wira terpilih berpasangan dengan Anggi dalam lomba tersebut. Mau tak mau Wira harus sportif, dan akhirnya ia pun bangkit dari duduknya dan bersiap ke tengah lapangan.


"Duuh, rejeki nomplok. Mimpi apa aku semalam bisa deket-deket sama dokter sultan nan tampan," ujarnya kepada Freya sambil berjingkrak kegirangan.


"Heii gadiiiiis... kendalikan dirimu! Kamu seperti cacing kepanasan," seru Freya yang menoyor kepala Anggi, tetapi gadis itu tak mengindahkannya saking senangnya seperti mendapat durian runtuh.


Anggi langsung ke tengah lapangan, menghampiri Wira dan bersiap di sana sambil tersipu-sipu malu. Dara yang asalnya sedang fokus bersiap bersama Rifki, tiba-tiba teralihkan karena melihat Wira yang juga sedang bersiap dengan Anggi.


Anggi berada di posisi depan dengan Wira dibelakang. Sama seperti Dara yang juga berada di depan dengan Rifki dibelakangnya. Entah kenapa Dara merasa tidak suka melihat kedua tangan Wira berada di pinggang Anggi, seolah ada kipasan hawa panas yang sengaja dihembuskan kepadanya. Begitupun juga dengan Wira, melihat tangan Rifki di pinggang Dara membuat rasa cemburunya makin membakar nyaris menghanguskan dirinya.