You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 251



Si calon dokter itu tampak masih mencerna kalimat yang dilontarkan Freya kepadanya. "Hah... fogging?” tanya Fatih mengambang.


“Iya, coba kamu endus yang bener. Sejak tadi aku masuk, rumahmu baunya kayak abis difogging. Memangnya di sini banyak nyamuk demam berdarah ya? tapi kamu kan calon dokter, masa iya gak bisa jaga kebersihan,” cerocos Freya sambil memajukan bibirnya. Gadis itu meletakkan punggung tangannya menutupi lubang hidungnya untuk menghalau aroma-aroma aneh yang berbaur tumpang tindih di ruangan tersebut.


“Fatih menajamkan penciumannya membaui sekitar. Setelah ditelisik ia membulatkan matanya karena memang benar apa yang dikatakan Freya, hanya saja ini bukan bau asap fogging, melainkan imbas dari menyemprotkan pengharum ruangan secara berlebihan ditambah lagi cairan untuk mengepel lantai yang selalu ditambahkan desinfektan membuat aroma di ruangan itu berpadu tak selaras.


“Duduk di luar aja yuk, aku gak tahan dengan aromanya, bikin kepalaku pusing.” Tanpa menunggu persetujuan, Freya segera menarik lengan Fatih agar ikut keluar bersamanya. Fatih yang ditarik paksa olen gadis yang ditaksirnya melangkah lunglai mengekori Freya yang memegangi lengannya. Niatnya ingin membuat Freya terkesan gagal sudah, tempat tinggalnya yang harusnya beraroma bau harum yang menyenangkan, malah berakhir mencemari indera penciuman si pujaan hati yang didambakannya.


*****


Dara tertunduk dalam tepat setelah Wira merampungkan cerita tentang masa lalunya, memundurkan tubuhnya hingga punggungnya bersandar ke sandaran kursi restoran yang didudukinya. Wira mengawasi reaksi istrinya setelah menyesaikan kalimatnya tadi, tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir ranum itu, hanya sesekali terdengar helaan napas pendek-pendek dari wanita muda yang kini tengah mengandung buah hatinya.


Penuturan panjang lebar Wira merasuk membaurkan nelangsa yang memenuhi dada. Terasa menyembilu menciptakan perih merundung jiwa. Persis seperti dugaan yang selalu memenuhi kepalanya selama ini, ternyata dirinya memang tak diinginkan oleh sosok yang melahirkannya, sama sekali tak mempunyai arti, hanya dianggap seumpama duri dalam daging yang harus disingkirkan sejauh mungkin.


Mungkin, jika kebenaran ini terungkap lebih awal, Dara pasti akan sangat terpukul terpuruk dalam kubangan sembilu. Hanya saja karena Wira telah lebih dulu merengkuhnya dalam lingkupan aman yang melindunginya, hasilnya hantaman dahsyat tersebut tak menimbulkan jejak berongga yang parah.


Lalu, apakah sekarang ini ia tak mengalami hal itu? Tentu saja masih ada imbasnya meskipun tak sampai mengguncang hingga ke dasar karena adanya fondasi kokoh yang menyelubunginya. Kenyataan masa lalunya serupa ombak besar yang menghujam bibir pantai nan rapuh, kemudian kembali berlalu pergi ke lautan lepas setelah puas memporak porandakan meninggalkan jejak berserak.


Namun, sulur-sulur kokoh kini menopang dan melingkupinya, sulur bernama cinta dan juga kasih sayang murni yang menguatkannya, ditambah lagi buah cinta yang dikandungnya menambah kekuatannya untuk bangkit berdiri dan berpijak di kaki lemahnya.


“Dara....”


Seluruh cinta yang dicurahkan Wira untuknya penuh sesak mengisi setiap rongga di sanubarinya, nadinya berdenyut merdu kala ia mensyukuri memiliki pria yang kini duduk berhadapan dengannya, menatap dirinya penuh perhatian dengan kecemasan yang nyata tersirat di mata, diperlakukan begitu berharga serta diinginkan membuatnya merasa….


Lengkap.


“Sayang, kamu baik-baik saja?” Wira kembali bersuara karena Dara belum meresponsnya sejak tadi. Ia takut istrinya itu mengalami shock setelah mendengar penuturannya.


“Aku tak sepenuhnya baik, tapi dengan memiliki Mas di sisiku aku yakin kini dan seterusnya aku akan selalu baik-baik saja,” balasnya dengan senyuman penuh keyakinan.


Raut wajah tampan Wira kembali lega, setelah tadi hanya ketegangan yang tergambar di sana. "Sebagai suami sudah seharusnya aku selalu berada di sisimu, kamu adalah istriku."


"Tapi, jika Mas mengizinkan, aku ingin tahu di mana letak makam ayah kandungku, bolehkah?" pinta Dara.


"Tentu saja, kita telusuri di mana pembaringan terakhir ayahmu. Tapi, bisakah kita melakukannya nanti setelah persalinan? saat ini kamu dan kandunganmu adalah prioritas utama." Terdengar nada memohon yang kental dari ucapan Wira.


"Iya Mas, aku berjanji akan melatih kesabaranku hingga waktunya tiba."


"Mengenai keberadaan ibumu, apakah kamu ingin menelusurinya juga?" tanya Wira hati-hati.


"Kurasa tidak. Aku sudah cukup mengetahui tentangnya dan tak menginginkan yang lebih lagi."