You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 57



Wira membebaskan cengkeramannya di tangan Dara, menurunkan baju gadis itu hingga melewati bahu lalu membenamkan wajahnya di sana. Ia kembali mencicipi kelembutan kulit Dara yang beraroma begitu manis dan membuatnya berdesir dengan hebatnya.


Saat bunyi robekan terdengar jelas di telinganya, saat itulah Dara yang tengah terpejam tenggelam dalam gejolak yang merayap membakarnya, tiba-tiba tersentak dan membuka kedua matanya penuh kewaspadaan.


Secara refleks, tangan Dara yang terbebas mendorong tubuh Wira sekuat tenaga ketika nalarnya kembali menguasainya. Wira hampir saja terguling karena tidak siap dengan gerakan Dara yang tiba-tiba. Gadis itu beringsut berusaha menjauh dari Wira dengan sudut matanya yang mulai menggenang.


"Apa... apa yang Kakak lakukan padaku!" pekiknya disusul isakan yang tertahan di tenggorokannya.


Wira terkesiap saat menyadari dirinya yang tiba-tiba lepas kendali saat bersentuhan kulit dengan Dara. Dilihatnya gadis berkulit pucat itu terisak dengan rambut dan pakaian yang acak-acakan, serta jejak merah yang bertebaran dari dagu, leher hingga bahu akibat ulahnya.


Dara menekuk lututnya memiringkan tubuhnya membelakangi Wira, sekujur tubuhnya terasa lemas, punggungnya berguncang dan gemetar karena terkejut dengan apa yang baru saja dialaminya.


Rasa bersalah merayap di hati Wira, ia juga tidak mengerti dengan dirinya, kenapa ia begitu marah dan tidak terima saat melihat Dara berdekatan dengan pria lain, membuat satu rasa yang bernama cemburu mulai menggerogoti hatinya.


Wira mendekati gadis yang menangis itu, dengan lembut menyentuh bahu telanjangnya. Dara berjengit dan makin erat memeluk dirinya sendiri, Wira membetulkan letak pakaian Dara kemudian berbisik penuh penyesalan ke telinganya.


"Maaf, maafkan aku. Maaf." Perlahan-lahan Wira membalikkan posisi Dara yang membelakanginya hingga kini mereka berhadapan. Wira mendesahkan napasnya berat dan jemarinya menghapus air mata yang membasahi wajah cantik di hadapannya.


Dara memukul-mukul dada Wira sambil terisak, rasa marah, terkejut, dan juga ada satu rasa yang belum bisa ditelaahnya berkecamuk di dadanya.


"Pukul saja aku sepuasnya, aku memang pantas mendapatkannya," ucapnya selembut mungkin berusaha menenangkan. Wira menenggelamkan Dara ke dalam pelukan kokohnya, dikecupnya berkali-kali Pucak kepala Dara penuh kasih sayang.


Dara terus memukuli dada dan juga punggung pria yang memeluknya sambil menangis tersedu-sedu, lama kelamaan pukulannya melemah dan dia meluapkan tangisnya di dada bidang Wira sepuas-puasnya. Anehnya walaupun Dara merasa marah tetapi dia menyukai pelukan tubuh kokoh itu, terasa melingkupinya dengan aman dan nyaman. Akhirnya Dara malah membalas pelukan itu sama eratnya tetapi masih dengan air mata yang tumpah ruah dari bola mata cantiknya.


Wira berusaha mengontrol dirinya, walaupun bibir ranum itu kembali menyihirnya. Dia mengangsurkan jemarinya merapikan rambut Dara yang terurai menutupi wajahnya.


"Kenapa, kenapa Kakak melakukan itu padaku?" ucapnya masih terbata karena sisa-sisa tangisan yang masih menguasainya.


"Aku... akupun tak mengerti dengan diriku. Apa kamu terkejut?" tanya Wira. Dara mengangguk dan dengan polosnya dia berkata.


"Ini adalah yang pertama kalinya bagiku, bahkan ci-ciuman pertamaku... itu.. itu adalah kemarin malam, dan Kakak lah yang mencurinya dariku!" tuturnya dengan bibir gemetar kemudian mencebik cemberut menggemaskan.


Sudut hati Wira menghangat dan itu menular hingga membentuk sebuah senyuman yang tersungging di bibirnya, entah mengapa hatinya begitu lega saat mengetahui bahwa dirinya adalah pria pertama bagi Dara.


"Apa kamu menyukainya, ciumanku?" Godanya tanpa tahu malu, sambil tersenyum menipiskan bibirnya.


"Ja-jangan, membahasnya!" Wajah Dara merona merah dilontarkan pertanyaan semacam itu.


"Kamu tahu? apa yang kita lakukan tadi bukanlah sebuah kesalahan karena kita adalah pasangan yang sah, bahkan yang lebih dari inipun bukanlah suatu dosa. Mungkin, kita harus mulai membiasakan diri, secara perlahan, tentang hubungan ini." Wira mengutarakan pendapatnya.


"Ke-kenapa, kita harus membiasakan diri? bu-bukankah pernikahan ini hanyalah... hanyalah," ucapan Dara tertahan.


"Aku tahu, tapi sepertinya aku ingin meralat semua ucapanku sebelumnya, kurasa sekarang aku... aku menganggapmu sebagai seorang wanita, bukan adikku lagi."


Dara membulatkan matanya mendengar pernyataan Wira, dia termenung berusaha mencerna apa yang baru saja didengarnya.