
Fatih bersimpuh di tepi jalan. Ia langsung meraup Freya yang tergeletak ke dalam pangkuannya. Si calon dokter itu diliputi keterkejutan juga ketakutan yang menyerangnya dalam sekejap. Dipindainya si tomboi itu dari ujung kepala hingga kaki.
Rambut sepunggungnya yang biasanya tersembunyi di balik topi jaket kini acak-acakan, sudut bibirnya terluka, pelipisnya lebam dan jaket balapnya koyak di bagian depan disertai kaos oblongnya yang ikut robek menampakkan bra yang dipakai Freya, beruntung celana jeansnya masih utuh membungkus bagian bawah tubuhnya.
Fatih meringis melihat pemandangan si tomboi yang biasanya tangguh itu kini tampak lemah. Ia segera membuka jaket yang dipakainya dan menutupkannya ke bagian depan tubuh Freya. Fatih segera memeriksa denyut nadinya, juga memeriksa apakah Freya masih bernapas dan beruntung tanda-tanda kehidupan masih bersemayam di tubuhnya.
"Frey... Freya, bangun! Kamu kenapa Frey?"
Fatih meninggikan suaranya penuh ketakutan sembari menepuk-nepuk pipi Freya, berharap gadis tomboi itu tersadar, tetapi sepertinya Freya enggan membuka mata, hanya saja rintihan kecil terdengar walaupun begitu lemah.
"To... tolong," gumamnya. Setelah mengucapkan kata-katanya kemudian Freya tak sadarkan diri sepenuhnya.
Fatih merasakan ada cairan hangat membasahi lengannya yang menopang kepala Freya, ia mengintip sejenak dan langsung membelalakkan mata.
Darah?
Fatih terkesiap. Tanpa basa basi lagi ia membawa Freya dalam gendongannya lalu merebahkannya di kursi penumpang, setelahnya tancap gas menuju ke rumah sakit tempatnya bekerja. Inginnya ia mengemudi secepat mungkin, tetapi Fatih menahan diri dan tetap melajukan kendaraannya dalam batas wajar. Tidak lucu bukan, jika nanti dia juga berakhir di rumah sakit karena ugal-ugalan di jalan saat hendak menolong seseorang yang terkena musibah.
Deru napasnya penuh kecemasan, peluh bermanik di dahinya, ia menyetir sambil sesekali menengok ke belakang melihat kondisi Freya. Perjalanannya ke rumah sakit kali ini terasa sangat panjang seumpama berabad-abad lamanya, efek dari rasa takut yang menyerbunya tanpa ampun.
*****
Tak lupa, ia juga meminta tolong pada teman koasnya untuk memberi tahu keluarga Freya dengan mendatangi rumahnya. Fatih tak mempunyai nomor kontak keluarga Freya, akan tetapi dia pernah mengantar si tomboi itu hingga ke depan rumahnya beberapa waktu yang lalu.
Bercak darah yang mulai mengering tampak menodai kaos oblong warna putih yang dipakai Fatih. Ia menarik kursi ke dekat ranjang perawatan Freya dan duduk di sana. Lalu sebuah erangan lolos dari bibir Freya, sepertinya gadis itu mulai tersadar membuat kelegaan membanjiri jiwa Fatih.
"Akh...." rintih Freya.
"Frey?" Fatih berdiri mencondongkan tubuhnya agar lebih mendekat ke wajah Freya.
Freya merasakan kepalanya berat seperti dihantam godam. Tangannya terulur menyentuh kepalanya sendiri sembari meringis sementara matanya masih terpejam.
"Frey...." Fatih sekali lagi memanggil nama Freya untuk memastikan bahwa gadis itu benar-benar telah tersadar sepenuhnya.
Perlahan Freya membuka mata. Saat netranya terbuka ia disuguhi dinding langit-langit berwarna putih. Ia mengerjapkan mata, dan melihat sekeliling sebelum akhirnya matanya berlabuh pada sosok yang begitu dekat dengan wajahnya.
"Fa- Fatih...."
"Ka-kamu beneran sudah sadar kan Frey? Aku... aku sangat khawatir," ucapnya serak penuh kecemasan.
Freya mengangguk lemah. Di detik berikutnya Fatih sudah tak mampu lagi menahan ledakan gelombang pembebasan yang sejak tadi menyiksa di dadanya, hingga secara impulsif dia memeluk Freya seraya menangis dan bergumam, "Syukurlah...."