You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 301



Satu setengah tahun kemudian.


“Papaaaaa….”


Suara cadel Selena yang mengemaskan menggema di area rumah dekat pintu keluar di mana kendaraan-kendaraan terparkir. Balita lucu itu berlari menuju garasi begitu mendengar deru mesin mobil Lamborghini Huracan warna hitam favorit sang Papa.


Dara menyusul berlari di belakangnya sambil berseru. “Selena, pakai dulu bajunya,” teriak sang Mama. Sementara balita itu terus berlari kencang hingga mencapai pintu garasi.


Beberapa saat yang lalu Selena baru selesai mandi sore dan sedang dipakaikan baju oleh Dara, baru kaos dalam dan celana dalam saja yang terpasang saat deru mesin mobil memasuki garasi, Selena yang sudah sangat hapal dengan suara mobil papanya langsung berlari padahal dia belum selesai berpakaian.


“Acik Papa….” Selena memekik senang, bertepuk tangan sambil melompat lompat, lalu mengulurkan kedua tangannya diambang pintu meminta digendong kala melihat Wira turun dari mobil.


Wira langsung meraup sang anak yang kini usianya sudah hampir menginjak dua tahun. Selena memang sangat lengket pada Wira, apalagi akhir-akhir ini Wira sangat sibuk dengan pembangunan rumah sakit dan sering pulang malam, membuatnya jarang bermain dengan putri semata wayangnya.


“Eh, Anak Papa kenapa belum pakai baju. Nanti masuk angin,” ucap Wira sambil mengecup pipi gembul Selena.


“Nih, Ini lagi dipakein baju. Denger suara mobil di garasi Selena langsung kabur,” sahut Dara sambil menunjukkaan piyama tidur bergambar karakter princess disney di tangannya. “Mungkin efek Papa pulang malam terus jadinya Selena kangen banget deh, iya kan sayang?” ujar Dara manja kepada anaknya.


“Jadi Cuma Selena yang kangen?” Wira menaikkan sebelah alisnya dan menatap penuh minat kepada Dara.


“Ish Papa, Mama juga kangen,” bisik Dara ke telinga Wira seraya meniupkan napas hangatnya di sana dengan sengaja.


“Jangan menggodaku. Hari masih terang,” balas Wira merayu membuat Dara terkikik geli.


“Papa… Sele mau pakai bajunya cama Papa,” pinta Selena dengan suara cadelnya menginterupsi kedua orang tuanya.


“Oke princess, siniin bajunya Ma,” pinta Wira.


“Tapi Papa pasti cape. Sama Mama aja ya sayang, Papa kan baru pulang kerja, yuk turun,” bujuk Dara.


“Ndak mau,” rengeknya. Selena malah makin mengeratkan pelukannya di leher wira dengan bibir mengerucut.


“Biarin sama Papa, Mama tolong siapin air mandi buat Papa aja ya.”


*****


“Lagi baca apa?” tanya Wira yang melihat Dara tengah serius membaca buku tebal bersampul ungu sambil bersandar ke kepala ranjang.


Wira baru saja meninggalkan kamar Selena setelah memastikan buah hatinya tertidur lelap. Ia kemudian ikut bergabung mengenyakkan diri di sebelah Dara.


"Eh... i-ini buku panduan,” sahut Dara kikuk.


“Panduan, untuk?” Wira menyipitkan matanya.


“Be-begini. Beberapa bulan lagi kuliahku akan selesai. Setelah lulus aku berencana ingin memberi Selena adik, ba-bagaimana Mas?” ungkap Dara malu-malu, semburat merah tampak membaur di tulang pipinya.


Wira tersenyum senang, kemudian merangkul Dara ke dalam pelukannya. “Aku pun menginginkan hal yang sama. Tapi sebelumnya kita harus membuat janji dengan Raisa untuk dibuatkan program rencana kehamilan supaya nanti kehamilanmu terpantau dengan baik dari jauh-jauh hari. Agar komplikasi kehamilan yang dulu sempat terjadi bisa dihindari.”


“Tentu saja, Mas,” sahut Dara bersemangat. ”Yang kubaca ini adalah buku panduan tentang tips-tips supaya mengandung anak laki-laki, juga anak kembar. Aku ingin rumah besar ini ramai dengan suara anak-anak. Kita sudah memiliki putri yang sangat cantik dan nantinya aku juga ingin melahirkan anak laki-laki yang hebat serta tampan sepertimu.” Dara mengelus mesra rahang Wira yang ditumbuhi jambang halus.


“Laki-laki atau perempuan tak masalah bagiku. Anak adalah anugerah tak terhingga. Yang kunginkan hanyalah anak-anakku tumbuh sehat, menjadi sosok yang berbakti kepada kedua orang tua juga peduli sesama.” Wira meraih tangan Dara yang sedang mengelus rahangnya dan mengecupnya sekilas.


"Bagaimana pembangunan rumah sakit?" tanya Dara.


"Hampir selesai, semuanya terealisasi sesuai rencana. Seluruh bangunan serta peralatan medis semuanya sudah tersedia, begitu juga dengan tenaga medisnya. Tinggal menunggu beberapa surat perizinan yang masih diurus, besok aku dan ayah akan menyelesaikan pengurusan dokumen. Peresmian dijadwalkan dua minggu lagi dari sekarang, do'akan agar semuanya berjalan lancar tanpa kendala," jelas Wira.


"Selalu Mas, do'aku selalu menyertaimu suamiku." Dara menatap bangga pada pria tampan yang memeluknya.


“Ehm.. tapi ngomong-ngomong, sebaiknya kita latihan lebih sering dari sekarang?” ujar Wira menyeringai.


“Latihan apa?” tanya Dara dengan polosnya.


“Latihan membuat adik untuk Selena.”


Belum sempat Dara menjawab, suaminya itu sudah lebih dulu membungkamnya dengan gerakan bibirnya yang ahli dan membuai, di menit berikutnya mereka kembali melakukan ritual bergelora yang seolah tak pernah bosan berkubang di sana lagi dan lagi.