
Beberapa jam sebelumnya.
Wira menggandeng Dara dan merangkulnya langsung menuju ke kamar utama. Sesampainya di dalam tepat setelah pintu tertutup, dia menggendong Dara seperti koala dan membuatnya bersandar di pintu lalu menciumnya penuh gairah yang membara.
Sejak di pertengahan perjalanan tadi ranumnya bibir Dara terus mengusik dirinya membuatnya ingin segera mencicipi kelembutan dan kemanisan bibir itu, tetapi dia ingin menikmatinya dalam keadaan tenang tanpa adanya gangguan, untuk itu Wira memilih menahannya hingga sampai di rumah.
"Mmmpphh...."
Dara berusaha melepaskan diri tetapi tengkuknya di tahan oleh Wira, setelah beberapa saat kemudian Wira melepaskan pagutannya dengan napas terengah.
"Ka-Kakak, aku... tak bisa bernapas!" serunya kesal, tetapi wajahnya mulai menunjukkan semburat merah yang merebak di wajah cantiknya. Dara masih belum terbiasa dengan keadaan ini, apalagi Wira yang selalu bersikap romantis terkadang membuat suatu rasa di jiwanya melambung tinggi hingga ke awang-awang disertai indahnya bunga-bungaan yang ditebarkan tanpa henti.
"Maaf sayang, tapi aku sudah tak tahan lagi. Dirimu bagai candu untukku," desah pria itu yang kini menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Dara masih dengan mata terpejam dan dada tersengal turun naik.
Wira menetralkan napasnya kemudian melangkah ke arah ranjang dan duduk di tepiannya dengan posisi Dara masih dalam pangkuannya, dirapikannya rambut Dara dan diselipkan ke belakang telinga.
"Sepertinya ada kebiasaan yang harus diubah sedikit demi sedikit mengenai hubungan kita sekarang ini," usulnya sambil menatap Dara penuh cinta.
"Kebiasaan apa? aku merasa kita tidak perlu mengubah apapun." Dara mengerutkan keningnya saat berbicara tanda tak mengerti.
"Mengenai paggilanmu padaku, sekarang aku adalah suamimu. Jadi bagaimana kalau kamu membiasakan diri untuk mengubah panggilanmu padaku? saat memesraimu dan kamu memanggilku Kakak aku jadi merasa sedang mencabuli adikku, padahal yang kucumbui adalah istriku sendiri. Panggil aku Mas, Mas Wira," pintanya lembut tetapi menuntut.
"M-mas... Wira?" ucap Dara canggung.
"B-baiklah, Mas Wira," ucap Dara malu-malu sambil menunduk. Tiba-tiba Dara menjadi penurut dan tak membantah apapun yang dikatakan Wira, entah mengapa ia tak ingin menyulut keributan, yang diinginkannya saat ini hanyalah selalu berdekatan dengan suaminya itu begitupun juga dengan Wira.
Wira tersenyum senang mendengar panggilan Dara kepadanya ditambah dengan wajahnya yang kian merona serta sikapnya yang malu-malu membuatnya semakin terlihat menggemaskan di mata Wira.
"Oh iya, kurasa sekarang sudah waktunya mengobati rasa sakitmu yang itu," ujarnya menyeringai.
"Bagaimana caranya?" tanya Dara polos.
"Begini caranya." Dengan cepat Wira membaringkan Dara di atas ranjang dan mengungkung diatasnya, tanpa basa basi lagi ia langsung menyelipkan bibirnya dalam-dalam di bibir Dara.
Wira menyesap bibir ranum itu secara bergantian dengan ahli, lumatannya menggoda si gadis polos yang baru mengenal rasa surga dunia untuk balas mencicipi.
"Bersiaplah sayangku, aku akan mengajarimu banyak hal," desisnya penuh hasrat tepat di depan bibir Dara di sela-sela ciuman panasnya.
Saat pertama kali melakukannya Wira banyak menahan gejolaknya yang menggebu-gebu karena takut menyakiti dan membuat Dara terkejut, tetapi karena sekarang segel itu sudah terbuka sempurna dia tidak berniat untuk menahannya lagi.
Wira mengerahkan seluruh keahliannya dalam memesrai tubuh istri kecilnya, tak ada satu inci pun yang luput dari cumbuan panasnya membuat Dara terus menerus menggigit bibirnya menahan erangan karena merasakan desiran yang berkali-kali lipat lebih dahsyat dari sebelumnya.
"Bebaskan desahanmu sayang jangan ditahan, biarkan aku mendengarnya," bisiknya parau dengan embusan napas panasnya di telinga Dara yang membuatnya semakin meremang.