You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 73



Mata indah Dara kini sayu karena hasratnya semakin membakar dirinya, Wira yang sudah berpengalaman sangat paham bagaimana cara membangkitkan api itu agar kian membara.


Wira mencicipi keseluruhan kulit halus nan mulus itu dengan lembut penuh pemujaan, ditambah dengan aroma wangi stoberi dari sabun mandi yang dipakai Dara, membuat lonjakan gairah dalam dirinya semakin naik tak terelakkan.


Wira mulai menyentuh Dara merajalela dimana-mana, napas keduanya kian memburu saling bersahutan dengan merdunya, seolah irama rindu yang telah lama tertahan akhirnya bersua.


Sentuhannya semakin intens, dan saat dirasa tubuh gadis itu telah siap menerimanya, Wira mulai mendesakkan dirinya. Meskipun hasratnya sudah meluap-luap hingga ke ubun-ubun, tetapi, dia berusaha menyatukan raga mereka selembut mungkin, karena ini adalah yang pertama kalinya bagi Dara.


Saat penyatuan itu terjadi, Dara menjerit dan merintih disertai air mata yang merebak dari sudut matanya karena menahan sakit tak terperi ketika merasakan ada bagian dari dirinya yang terkoyak, bahkan tangannya meremas kuat kain sprei yang menutupi ranjang tersebut.


Wira menghentikan pergerakan tubuhnya, membelai lembut kepala Dara, dan mengecupi wajah cantiknya penuh sayang. Jemarinya menghapus kristal bening itu lalu dibisikkannya kata-kata mesra penuh janji dan menenangkan, bahwa semua yang sedang terjadi akan baik-baik saja pada akhirnya.


Diraihnya kedua tangan Dara yang mencengkeram sprei tadi, lalu Wira meletakkan kedua tangan halus berjemari lentik itu ke punggung kokohnya.


"Berpeganganlah padaku sayang, maaf, jika ini sakit pada awalnya, tetapi aku berjanji, sakitnya hanya sementara," desahnya dengan suara serak.


Dara kembali meringis dan mencengkeramkan jemarinya di punggung Wira saat pria yang sudah menjadi suaminya itu mulai bergerak lagi, tetapi lama kelamaan kelembutan Wira yang terus menarik dirinya dalam kubangan gairah, berhasil mengalihkan semua rasa sakitnya berganti menjadi rasa luar biasa yang tak mampu di ungkapkannya dengan kata-kata


bukan hanya raga mereka yang bertaut, tetapi juga diiringi kalbu yang terpaut, membuat satu rasa yang bernama cinta semakin tumbuh subur di hati mereka tatkala keduanya memasrahkan diri untuk saling memeluk satu sama lain.


Suara gemericik air hujan terdengar seperti musik romantis, seolah simfoni alam yang mengiringi mereka mereguk madu asmara. Serta kelamnya sang malam menjadi saksi, membuai dua anak manusia yang kini telah saling melengkapi.


Wira merasakan sesuatu yang telah lama padam itu kini kembali bergelora dan berkobar dengan hebatnya, bahkan mungkin rasa itu berkali-kali lipat lebih dahsyat dari sebelumnya saat bersentuhan kulit dengan Dara.


Tubuh kokohnya melingkupi tubuh mungil Dara yang kini berada dalam kungkungannya. Setelah berpacu hampir satu jam lebih, akhirnya mereka berdua menyerah ketika terpaan gelombang surga dunia menghempas dan menggulung keduanya tanpa ampun.


Peluh bercucuran dari setiap pori di permukaan kulit mereka dengan napas yang masih tersengal. Wira meresapi rasa lega yang membanjirinya saat kebutuhan ragawinya terpenuhi.


Wira menggulingkan diri kesamping dan memeluk tubuh mungil itu agar makin merapat kepadanya dengan posisi Dara yang membelakanginya. Dara masih berusaha menetralkan napasnya, kegiatan yang baru saja dialaminya sungguh menguras energinya.


Wira sebetulnya ingin kembali mendesakkan dirinya saat kembali bersentuhan kulit dengan Dara. Namun, untuk saat ini ia harus menahannya, mengingat ini adalah pengalaman pertama bagi istri kecilnya. Pria itu sangat mengerti, kini tubuh Dara butuh beristirahat, dan dia akan bersabar untuk menunggu hingga waktu peleburan berikutnya.


Diraihnya selimut yang teronggok di lantai karena terjatuh ketika mereka memadu kasih tadi, lalu Wira menutupkannya ke tubuh urian mereka berdua. Dikecupnya mesra bahu Dara yang tak tertutup selimut, kemudian kembali merengkuh Dara ke dalam dekapan hangatnya yang nyaman dan menyenangkan. Hingga beberapa saat kemudian, tak lama berselang akhirnya keduanya terlelap bersama dengan hati yang membuncah bahagia.