You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 227



"Tunggulah di luar," ucap Raisa kepada Wira begitu mereka sampai di ambang pintu ruangan gawat darurat khusus untuk menangani ibu hamil.


"Biarkan aku masuk." Wira bersikukuh hendak menerobos masuk ke dalam sana dan tak melepaskan genggamannya di tangan Dara.


"Wira, tolonglah tunggu saja di luar. Biarkan aku dan yang lainnya menangani kondisi istrimu," pinta Raisa masih dengan suara rendah.


"Aku hanya ingin membantu, izinkan aku masuk. Aku juga seorang Dokter!" Wira berseru dengan nada tinggi bercampur putus asa.


"Kondisimu sedang tidak memungkinkan Wira. Jangan keras kepala! Sadarlah!" Suara Raisa naik beberapa oktaf menggema di luar ruangan tersebut. "Biarkan aku dan yang lainnya bekerja maksimal. Kumohon mengertilah, jangan membuang waktu, istrimu harus segera ditangani."


"Tolong aku, Sa," mohonnya lirih penuh kepedihan.


"Tunggulah dengan tenang, dan berdo'alah." Raisa menepuk-nepuk bahu Wira berusaha menenangkan, lalu memerintahkan para perawat juga dokter lainnya untuk mendorong ranjang pesakitan Dara memasuki ruangan.


Genggaman eratnya di tangan Dara melemah, akhirnya Wira melepaskan dan membiarkan Dara yang sudah hampir tak sadarkan diri dibawa masuk ke dalam, diiringi tatapannya yang terus memaku pada si belahan jiwanya yang tergolek lemah hingga kemudian tertelan semakin masuk menjauh disertai pintu yang tertutup otomatis.


Kumohon kuatlah, bertahanlah demi aku, sayang. gumamnya.


*****


Setelah satu jam berlalu, Raisa keluar dari pintu yang sejak tadi tak lepas dari pandangan Wira. Di belakangnya mengekor para perawat yang mendorong ranjang Dara. Tampak istrinya itu sudah lebih tenang, matanya memejam dengan embusan napas teratur menandakan Dara tengah tertidur, selang infus menghiasi tangan kirinya juga alat penyambung oksigen terpasang di hidungnya.


Wira meloncat mendekati Raisa dengan sorot mata penuh tanya disertai kecemasan yang tercetak jelas bergelayut di wajah tampannya.


"Sesak napasnya terjadi karena efek dari tekanan darahnya yang melonjak naik secara tiba-tiba. Syukurlah kamu bergerak cepat membawanya kemari. Sekarang Ibu dan bayinya dalam kondisi yang terkendali walaupun harus tetap dalam pemantauan. Anakmu sangat gigih, dia berjuang keras untuk tetap kuat di dalam sana," jelas Raisa sembari tersenyum simpul. Meskipun sebenarnya ia juga sempat dibuat terkejut dengan kondisi darurat pada pasien yang berada di bawah pengawasannya.


"Syukurlah, Sa...." Wira mendesahkan napasnya sedikit lebih lega, mengusap kasar wajahnya sendiri kemudian menghampiri ranjang Dara.


"Kita akan memindahkannya ke ruang perawatan, kusarankan agar istrimu dirawat inap beberapa hari hingga tekanan darahnya stabil. Aku juga harus melakukan beberapa tes lanjutan padanya besok pagi, untuk memastikan kondisinya secara terperinci agar bisa mencari solusi yang tepat untuk mengatasinya, dan kamu juga hutang penjelasan padaku tentang penyebab kondisi istrimu yang tiba-tiba memburuk."


Wira mengangguk paham dan tak berlama-lama mereka pun membawa Dara ke ruang perawatan kelas terbaik yang tersedia di rumah sakit.


*****


Dara sudah berada di dalam ruangan perawatan VVIP yang seluruh ruangannya didominasi warna krem dan coklat tua serta gorden berwarna senada, membuat suasana yang tercipta begitu nyaman dan teduh di mata. Segala fasilitas terbaik terpasang di sana, Wira ingin sang istri tercinta mendapatkan perawatan maksimal dengan fasilitas kelas satu yang terdapat di rumah sakit internasional tempatnya bekerja ini.


Dua orang perawat wanita hendak melepaskan selimut yang membungkus Dara untuk melakukan tugasnya membersihkan tubuh serta memakaikan pakaian rumah sakit. Tangan kiri Dara memang sudah terbebas dari selimut, tetapi sebagian besar tubuhnya masih terbungkus meskipun balutannya melonggar, sepertinya Raisa melonggarkannya ketika melakukan prosedur pemeriksaan tadi.


"Biar aku saja yang melakukannya. Aku sendiri yang akan membersihkan tubuh istriku dan juga memakaikannya pakaian. Taruh saja semua kelengkapannya di nakas," pinta Wira tak ingin dibantah.


Para perawat tentu saja tak berani menolak, bagaimanapun juga Wira adalah dokter yang mempunyai pengaruh besar di rumah sakit ini.


"Baik, Dok," sahut mereka berdua, kemudian segera undur diri dari sana setelah meletakkan semua kelengkapan yang dipinta Wira.