
Dalam kurun waktu tidak lebih dari tiga puluh menit mobil yang dikemudikan Pak Jono sudah kembali terparkir manis di garasi kediaman Wira. Dara turun dari mobil dengan gontai disusul Bu Rina juga Pak Jono.
"Bu, Pak. Tentang masalah hari ini tolong jangan katakan pada Mas Wira," ucap Dara lesu sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.
Dara menuju ke ruang tengah untuk menunggu selagi makanan dihidangkan oleh para pelayan dan juga Bu Rina. Mendudukkan dirinya di sana seraya mengusap-usap perut bagian bawahnya yang terasa agak ngilu akibat dari gerakan aktif berlebih si jabang bayi beberapa saat yang lalu. Namun anehnya, ketika Dara memutuskan untuk pulang, janin yang bersemayam di rahimnya kembali tenang dan bergerak lembut di dalam sana.
"Apakah kamu marah karena Mama tak patuh pada Papamu?" gumam Dara sembari mengusap-usap dan memandangi perutnya sendiri. Seolah mengiyakan si jabang bayi menendang lembut sesaat setelah pertanyaan ibunya terlontar.
"Terima kasih sudah mengingatkan sayangku. Mama mengaku salah karena telah mencoba berbohong dan melanggar pesan Papamu, maafkan Mama."
*****
"Selamat Dokter Wira, berkat kejeniusanmu dalam memimpin tesis ini semuanya berjalan mulus sesuai harapan." Rekan-rekan sejawatnya memberi selamat begitu mereka keluar dari pintu aula, kepala rumah sakit beserta jajarannya juga turut serta mengucapkan hal serupa.
"Sekarang kita bisa rehat sejenak sebelum rapat lanjutan pukul tiga sore nanti. Aku akan beristirahat di ruanganku," ucap Wira yang kemudian berpamitan kembali ke ruangan pribadinya untuk sekadar meluruskan punggungnya yang terasa pegal.
Wira masuk ke ruangannya dan merebahkan dirinya di sofa panjang yang terdapat di sana. Senyum kepuasan tersungging di bibirnya, kemudian wajah cantik serta ucapan Dara yang selalu menyemangati dan menguatkannya untuk kembali percaya diri menari-nari dibenaknya. "Terima kasih, sayang," gumamnya sembari mengulas senyum.
Untuk beberapa saat Wira masih tenggelam dalam euforia kegemilangan yang baru saja diraihnya, tetapi kemudian ia teringat belum memeriksa ponselnya sedari pagi. Ia bangkit dan melangkah ke dekat mejanya, menjangkau ponselnya kemudian dan menggulirkan jemarinya membuka kunci layar. Di sana tertera lima panggilan dari Pak Jono juga dua buah pesan teks. Tak menunggu lama ia membuka isi pesan tersebut dan membacanya dengan teliti.
Pak Jono menceritakan secara terperinci semua kejadian tadi pagi, juga tentang usahanya dengan Bu Rina yang membujuk Dara supaya membatalkan niatnya. Wira memijat pangkal hidungnya frustrasi dengan mata terpejam, percikan aura kemarahan menguar dari sorot matanya yang berkilat tajam karena istri kecilnya mulai membangkang.
Sambungan telepon dimatikan, seberkas rasa kecewa merayapi hatinya. Akan tetapi kemudian Wira mencoba meredam amarah dan merenungkan sikap Dara hari ini. Mendinginkan kepalanya dan menjernihkan pikirannya dari semua amarah.
Ia termenung dan termangu, ini adalah pertama kalinya Dara tak mematuhinya, tetapi semua ini terjadi bukanlah tanpa alasan, sudah pasti istrinya itu sudah sangat lama memendam keingin tahuannya mengenai jejak orang tua kandungnya. Mungkin kembali menyimpan rapat sebuah kenyataan bukanlah pilihan yang bijak, berkaca dari kejadian saat merahasiakan kondisi kehamilan Dara beberapa waktu lalu ia mengambil hikmah.
Pahit atau manis Wira harus berani menyampaikannya kepada Dara. Bukankah sewaktu di rumah sakit ia sudah pernah diyakinkan bahwa istrinya itu tak serapuh perkiraannya? Berbekal hal itu Wira berniat akan menyampaikan secepatnya kepada Dara tentang kebenarannya agar kejadian lalu tak terulang lagi.
Ia memutuskan untuk pulang lebih awal dan tak menghadiri pertemuan penutupan, lagipula hanya tinggal acara ramah tamah saja sedangkan acara inti sudah sepenuhnya selesai.
*****
Pukul tiga sore Wira sudah kembali pulang ke kediamannya. Ia menarik dan mengembuskan napasnya untuk menenangkan diri agar jangan sampai meledak oleh amarah, jujur saja rasa marah masih menggerayanginya, mengingat kecerobohan Dara yang mengabaikan kondisi tubuhnya serta si jabang bayi karena terdorong rasa penasarannya.
Bu Rina dan Pak Jono menyambut di pintu depan lalu mereka berbincang sejenak, setelah Wira selesai menyampaikan beberapa pesan dan mengucapkan terima kasih, ia segera melangkah dengan cepat menuju kamar utama untuk menemui Dara.