
Tak sulit bagi keluarga Arysatya untuk menciduk si biang kerok penyebab musibah yang menimpa Dara. Ibunya Michelia itu ternyata tak selicin anaknya, karena polisi menangkapnya dengan mudah di kediamannya sendiri.
Awalnya wanita itu terus menyangkal dan menghardik para polisi yang datang ke rumahnya meskipun dengan surat penangkapan di tangan. Namun, semua bukti-bukti yang dibawa merujuk kepadanya sebagai satu-satunya tersangka tunggal membuatnya terperangah tak mampu mengelak.
Haris juga ikut datang bersama dengan para polisi. Ia melarang Wira turut serta walaupun tadi sempat memaksa, khawatir putranya tak mampu mengontrol emosi dan meledak tak terkendali saat bertatap muka secara langsung dengan seseorang yang mencoba mencelakai Dara.
Matanya menatap prihatin kepada Ayah Michelia. Kendati dengan berat hati, Haris akhirnya menceritakan semua kronologi kejadian yang hampir merenggut nyawa menantu serta cucunya akibat ulah dari Ibunya Michelia. Haris mengungkapkan permintaan maafnya karena tak bisa menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan dan dengan terpaksa harus membawa kembali keluarga ini berurusan dengan hukum, akan tetapi bagimanapun juga perbuatan tersebut sudah termasuk percobaan pembunuhan.
Ayah Michelia tersenyum getir, memaklumi dan memahami semua yang diutarakan Haris kepadanya. “Jika saya ada di posisi Anda, maka saya pun akan melakukan hal serupa,” sahutnya kepada Haris.
Sang suami menatap nanar ketika polisi melingkarkan borgol kepada wanita yang terikat sumpah janji suci dengannya. Tak dipungkiri hatinya begitu nelangsa, tetapi ia sudah berjanji kepada dirinya sendiri takkan lagi menggunakan cara menjijikkan untuk membebaskan keluarganya dari jeratan hukum. Ibunya Michelia meraung-raung menjerit histeris, meminta suaminya untuk membebaskannya saat terlintas betapa ngerinya mendekam di balik jeruji besi.
“Ayah… tolong Ibu. Ibu melakukan semua ini demi Michelia, seharusnya posisi itu milik putri kita, tetapi anak ingusan itu telah merebutnya dan ibu hanya membalaskan dendam anak kita!” teriaknya lantang menggema di rumah besarnya.
“Sadarlah Bu, merenunglah,” jawabnya lembut.
“Memangnya apa yang harus Ibu renungkan hah? seharusnya Ayah memikirkan bagaimana nasibku nanti di dalam sana. Seharusnya Ayah membela Ibu bukannya mempercayai kata-kata dia!” Tunjuknya kasar penuh emosi kepada Haris.
“Bu,” ucapnya pelan. “Pernahkah selama ini sekali saja Ibu memikirkan Ayah?” tanyanya pelan dengan raut wajah luar biasa sedih.
Ibunya MIchelia yang asalnya tengah mengamuk tak terkendali langsung terdiam. Sorot matanya yang asalnya penuh kilatan dendam seketika meredup. “Ayah,” gumamnya mengambang di udara.
“Ayah pernah rela melumuri tangan ini dengan lumpur dosa demi memenuhi keinginan kalian. Tapi, pernahkah sekali saja Ibu juga anak-anak memikirkan sesuatu demi Ayah? marilah kita sama-sama memperbaiki diri, hanya itu yang kuminta. Merenunglah di sana Bu, demi Ayah. Agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Ayah pasti akan sering berkunjung.”
“Maaf… maafkan Ibu,” ucapnya parau seraya tertunduk kemudian melangkah patuh saat dirinya digiring polisi untuk dibawa ke tempat yang seharusnya.
Pemulihan Dara menunjukkan perkembangan signifikan membuat kondisi tubuhnya semakin membaik, meskipun sesekali Dara mengeluh ngilu di area luka bekas operasi juga rasa tidak nyaman di payudaranya akibat dari air susu yang semakin berlimpah ruah. Wira dengan setia membantu ikut mengompres dengan air hangat sesuai saran Ratih juga Raisa, berharap bisa mengurangi rasa tidak nyaman yang dirasakan istri tercinta.
Beberapa saat yang lalu perawat baru selesai membantu Dara memerah ASI, ia masih belum dapat menyusui secara langsung karena kondisi buah hatinya yang belum memungkinkan, tetapi dari pemeriksaan dokter menyatakan bayinya sehat dan berat badannya bertambah sesuai harapan. Menurut perkiraan, kira-kira dua minggu lagi bayinya bisa dibawa pulang.
“Sudah lebih nyaman?”
“Sudah, Mas.” Dara mengangguk kemudian menepuk-nepuk sisi ranjangnya memberi isyarat kepada Wira supaya duduk di sana.
“Mas, tentang nama anak kita, apakah sudah diputuskan?”
Tadi pagi mereka berdua sibuk berdiskusi merangkai nama dan akhirnya Dara memberikan kuasa sepenuhnya sang suami karena memilihkan nama yang baik adalah salah satu kewajiban seorang ayah kepada anak-anaknya.
“Mmm… aku sudah mendapatkan nama yang cocok, semoga kamu suka.”
“Jadi… siapa namanya?” Mata Dara menatap Wira berbinar berkilauan penuh semangat menantikan ucapan dari bibir pria yang duduk di sebelahnya.
“Aku ingin menamai putri kita Selena. Selena Langit Aryasatya. Bagaimana, kamu suka?” ucap Wira berlumur senyum bahagia.
“Nama yang cantik, aku suka… aku sangat menyukainya. Selena… tapi kenapa Selena?” tanya Dara penasaran.
Wira menggenggam kedua tangan Dara, membawanya ke bibirnya untuk dikecup kemudian balas menatap penuh cinta iris cantik yang terus memaku pandangan kepadanya.
“Selena artinya bulan, dewi bulan. Karena bagiku kau adalah matahari dan Selena adalah bulannya. Kalian berdua adalah cahaya di langitku yang mengusir semua kegelapan dalam kehidupanku. Benderanglah selalu untuk menerangi duniaku wahai para cahayaku.”