You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 273



“Jangan Mas.” Raut khawatir tercetak jelas di wajah Dara. Tangannya memegang erat bathrobe yang hanya disampirkan sembarang untuk menutupi tubuh bagian depannya, sementara tubuh bagian belakangnya tak tertutup apapun.


Wira makin merapatkan tubuh mereka, satu tangannya mendarat di bongkahan belakang Dara yang tak berpenghalang meremasnya gemas, disusul bibirnya yang mulai menggoda menyusuri telinga Dara kemudian menggigit cupingnya lembut membuat Dara semakin menegang dilanda kepanikan.


“Kenapa hmm? bukankah kamu sudah sering tanpa busana di hadapannku.” Wira berucap penuh hasrat, matanya terpejam dengan deru napas tak beraturan di sela-sela kecupannya yang merambat.


“Ak-aku… aku_”


Lidah Dara kelu, ia memalingkan wajahnya sementara pria yang mendesaknya tengah menjelajahi lehernya dengan embusan napas panas yang tak dipungkiri membuatnya meremang.


“Mas.” Dara mencengkeram lengan Wira yang melingkari pinggangnya.


“Ada apa sayang?” Wira menghentikan kegiatannya.


“Aku… aku takut,” ucapnya sembari menggigit bibirnya kemudian menunduk dalam.


Jemari Wira meraih dagu Dara supaya menengadah kepadanya hingga kini mata mereka bersirobok, matanya menatap dalam iris cantik istrinya dan ia menemukan kecemasan serta ketakutan di dalam sana.


Apakah Dara merasa takut karena ini adalah pertama kalinya lagi setelah beberapa bulan tidak bercinta? pikirnya.


“Kamu takut? aku janji akan lembut,” ucap Wira dengan hasrat yang tertahan. Kepalanya mulai terasa pening seiring pusat tubuhnya yang semakin mendesak penuh sesak di balik celana treningnya, baru saling menempel seperti ini saja sudah mampu membuat gairahnya melonjak-lonjak meroket hingga ke ubun-ubun, Dara memang benar-benar serupa magnet memabukkan baginya.


Wira menyentak penutup tubuh Dara hingga bathrobe tersebut tergeletak di lantai, membuat Dara memekik terkejut dan secara refleks memeluk tubuh polosnya menggunakan lengannya berusaha menutupi bagian-bagian intimnya meskipun itu percuma.


“Kecewa, maksudnya?” Wira memicingkan mata tak mengerti.


“Bekas luka operasiku, masih tampak mengerikan. Aku takut, Mas… kecewa karena tubuhku tak seindah dulu lagi," keluhnya.


Suara Dara terdengar tersendat seperti hendak menangis padahal gairah Wira sudah berkobar membara dengan hebatnya. Kini Wira mengerti penyebab keresahan istrinya, tetapi ia takkan membiarkan ini berlarut lantaran tak mau berakhir mengenaskan di bawah guyuran shower ataupun di genggaman tangannya sendiri.


“Hey sayang, lihat aku,” pintanya lembut seraya kembali meraih dagu Dara.


“Bagiku kamu selalu sempurna, selalu indah. Lagipula bekas luka itu adalah tanda perjuanganmu melahirkan anakku ke dunia. Kamu justru patut berbangga karena tidak semua wanita bisa merasakan memiliki keturunan dari rahimnya sendiri. Jangan merisaukan hal kecil semacam itu, aku mencintai dan memujamu seperti apapun dirimu, hanya dirimu.” Wira mengusap bekas luka di perut Dara seringan semilir angin.


Ucapan menenangkan Wira mampu menciptakan seulas senyum seindah mekarnya bunga-bungaan di pagi hari tersungging di wajah Dara, sudut matanya sedikit menggenang efek dari keresahan yang sempat melandanya. Ia balas menatap dalam dan terlihatlah cinta yang semakin bertambah subur dari pancaran netra penjaga hatinya, rasa ragunya menguap sirna, di detik berikutnya Dara mengalungkan tangannya ke leher Wira.


“MIliki aku,” ucap Dara penuh keyakinan.


Wira tersenyum lebar. Ia semakin menunduk, dengan napas memburu diselipkannya bibirnya di kehangatan bibir Dara dan menjelajah di sana menumpahkan segala kerinduan. Diraihnya tengkuk Dara dengan tubuh yang semakin merapat.


Keduanya saling mencicipi dan memuja dengan rakus satu sama lain. Wira melucuti pakaianya dan melemparnya ke lantai. Digendongnya Dara menuju sofa panjang yang terdapat di ruang ganti tersebut tanpa melepaskan pertautan bibir mereka. Desahan demi desahan mulai bersahutan membuat suasana semakin memanas, keduanya terengah dilanda gairah yang membumbung tinggi.


Dua insan itu kembali melebur. Wira mendesakkan diri demi menghilangkan dahaga di jiwanya, haus akan manisnya madu dari bunga yang bersemi indah di hatinya. Ia makin membenamkan dirinya memenuhi kehangatan Dara hingga lolongan erangan dari bibir istrinya tak terelakkan.


Keduanya kembali saling berpacu berkejaran, keringat mulai mengembun dari pori masing masing. Sentuhan ahli Wira membuat nikmatnya puncak asmara membanjiri Dara terlebih dahulu hingga tubuhnya bergetar hebat, dan saat si pendayung hampir sampai di garis finish terdengar tangisan kencang Selena memecah keheningan malam.