
Dara duduk di kursi samping ranjang kakaknya, dia bergiliran masuk ke dalam bergantian dengan Wira yang kini tengah membersihkan diri.
Gadis itu menatap nanar, melihat peralatan medis menempel hampir di seluruh bagian tubuh Almira, digenggamnya lembut jemari kakaknya yang sejak tadi tak bergerak sedikitpun.
Setelah mendengar pemaparan dokter tentang kondisi Almira, hatinya dilanda ketakutan luar biasa, laksana gadis kecil yang ditinggalkan sendirian ditengah hutan lebat sedangkan ia tak tahu arah jalan pulang.
Dara kembali menangis dalam diam, menelungkupkan wajahnya di sisi ranjang. Ia tidak menyadari bahwa jemari Almira mulai bergerak dan matanya terbuka perlahan.
Almira sebenarnya sudah tersadar tepat saat ia memasuki ruangan ICU, hanya saja tubuhnya sama sekali tak bisa digerakkan. Bahkan, ia juga bisa mendengar dengan jelas saat dokter bercakap-cakap dengan perawat menerangkan tentang kondisinya juga tentang Giovani yang langsung meninggal di tempat kejadian. Hatinya menjerit perih, sepertinya tentang dirinya adalah pembawa sial bagi Giovani memang benar adanya.
"Dara," panggil Almira lemah.
Dara langsung mendongak, ia hampir saja meloncat dari tempat duduknya mendengar kakaknya bersuara.
"Mbak... Mbak Mira, hiks... hiks...."
Dara ingin memeluk Almira, tetapi karena banyaknya peralatan medis yang menempel, ia khawatir akan mengganggu kinerja peralatan itu, ia akhirnya memeluk tangan kanan Almira yang bebas dari peralatan dan selang infus.
Dara segera memencet tombol untuk memanggil dokter, mengabarkan bahwa kakaknya sudah siuman, gadis polos itu menangis dalam senyuman, secercah harapan kini muncul dalam angan-angannya setelah melihat Almira membuka matanya.
Dokter dan timnya menyuruh Dara menunggu di luar, sementara mereka memeriksa kondisi Almira secara seksama. Wira yang baru saja kembali ikut duduk di samping Dara, ia menunggu harap-harap cemas bercampur rasa lega mendengar Almira sudah sadarkan diri.
Dokter yang memeriksa keluar dari ruang ICU, ia memandang Dara dan Wira bergantian. "Pasien ingin berbicara hal penting dengan kalian, sebenarnya yang di perbolehkan masuk hanya satu orang, tetapi kali ini aku akan memberikan pengecualian."
Dokter itu menghela napasnya berat, sebelum berlalu pergi, ia menatap penuh arti kepada Wira memberikan isyarat bahwa kondisi Almira masih belum membaik. Keduanya segera masuk, menghampiri ranjang tempat Almira berbaring lemah.
"Mas," panggilnya kepada Wira.
"Aku di sini." Wira duduk di kursi samping ranjang, digenggamnya tangan istrinya. Sedangkan Dara duduk di ujung ranjang dekat kaki Almira.
"Berjuanglah untuk sembuh, setelah itu minta maaflah padaku dengan benar, barulah aku akan memaafkanmu," sahut Wira dengan suara tersendat karena tenggorokannya tercekat oleh rasa yang menyesakan dada.
Almira terkekeh, tangannya terulur menyentuh wajah tampan suaminya dengan tatapan sejuta rasa bersalah karena telah membagi rasa cintanya.
"Masih ingatkah? dulu saat aku menolongmu, Mas pernah bertanya balasan apa yang kuinginkan?" ujar Almira.
Wira mengangguk, ia berusaha untuk tidak menangis di hadapan Almira walaupun itu sulit.
"Bolehkah aku memintanya sekarang?" tanyanya.
"Katakan, apapun yang kamu inginkan akan kukabulkan, tapi, berjanjilah untuk sembuh, kamu harus mengobati hatiku yang terluka." Sudut mata Wira mulai menggenang. Hati yang terluka, tapi juga takut kehilangan, semuanya melebur menjadi satu.
"Mas, aku sangat tahu kondisiku, aku sudah mendengar semuanya. Permintaanku hanya satu, nikahilah Dara, aku titipkan adikku satu-satunya padamu, dia hanya memilikiku sebagai keluarga, jika aku pergi maka Dara akan sendirian, tolong jaga dia untukku, sayangilah dia, dan hanya dengan cara menikahinya maka tidak akan timbul fitnah dari semua orang," mohonnya.
Wira terkesiap, tatapan matanya tak terbaca, Dara yang juga mendengarnya tak kalah terkejutnya mendengar permintaan kakaknya yang kini tengah berjuang antara hidup dan mati.
*********
Hai my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini, tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya, dan jika berkenan jangan lupa juga like, komentar, serta vote seikhlasnya, dukungan kalian membuatku semakin semangat menulis.
Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412. Happy reading guys, thank you very much 😘😘💕💕.
Tanpa kalian yang membaca ceritaku, aku bukanlah apa-apa.
With Love,
Senjahari_ID24