
Di keheningan malam, terdengar deru napas yang memburu saling bersahutan, erangan dan desahan mengalun merdu memenuhi seluruh penjuru kamar besar itu, bersumber dari dua anak manusia yang tengah saling berpacu untuk pemenuhan kepuasan batin.
Dara terkulai lemas di atas tubuh kokoh Wira setelah pelepasan dahsyatnya, napasnya masih tersengal turun naik setelah peleburan mereka yang kembali bergelora dari selepas makan malam tadi. Wira membalikkan posisi mereka hingga kini Dara berada di bawah kungkungannya dan mengambil jeda beberapa saat.
Ketika ia kembali mengangsurkan bibirnya di leher Dara, ternyata istrinya itu sudah jatuh tertidur karena kelelahan masih dalam keadaan berpeluh dengan sisa-sisa aroma percintaan mereka yang menyeruak kental ditubuhnya. Wira terkekeh, di saat dirinya masih berhasrat, Dara malah sudah terlelap masuk ke alam mimpinya, mau tak mau Wira harus berhenti dan memukul mundur gairahnya yang tak kunjung padam.
Akhirnya, ia mengambil sekotak tisu dan menyeka keringat di tubuh Dara serta cairan-cairan lainnya, membuang tisu bekasnya ke sembarang tempat hingga berserakan di lantai. Diraihnya selimut dan menutupkannya ke tubuh urian mereka berdua, direngkuhnya tubuh ramping nan memabukkan Dara ke dalam pelukannya, mendekapnya dan mengecup keningnya penuh sayang.
"Selamat tidur sayang," gumam Wira. Tak berselang lama ia pun ikut menyusul tertidur nyenyak dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.
*****
Pagi harinya Wira terbangun lebih dulu dan segera membersihkan diri, sementara Dara masih tertidur pulas bergelung selimut. Tak lupa ia juga menghubungi pihak kampus bahwa Dara tidak bisa masuk selama tiga hari kedepan dengan alasan kondisi kakinya yang terkilir sewaktu di tempat outbound masih belum pulih. Padahal kenyataan sebenarnya bukanlah seperti itu, dia ingin terus memiliki istrinya sesering mungkin selama waktu cutinya sekarang ini.
"Bu Rina, sarapan untuk Dara tolong diantar ke kamarnya saja setelah dia bangun, aku akan keluar sebentar karena ada urusan. Layani istriku sebaik-baiknya," Wira berpesan sebelum berangkat keluar rumah.
"Baik Tuan." Bu Rina mengangguk tanda mengerti dan Wira segera berlalu dari pergi sana.
Dibukanya kotak itu dengan binar mata bahagia, tetapi dia teringat belum membubuhkan nama masing-masing di bagian dalam cincin karena waktu itu membelinya secara mendadak. Akhirnya Wira memutuskan untuk kembali mengunjungi toko perhiasan tersebut, meminta untuk mengukirkan namanya dan juga Dara di cincin yang dibelinya.
*****
"Mas Wira kemana?" tanya Dara kepada Bu Rina yang sedang menyajikan sarapan lengkap nan sehat untuk Dara di kamarnya.
"Tadi pagi Tuan mengatakan akan keluar sebentar karena ada urusan penting. Sarapan sudah siap Nyonya, selamat menikmati." Bu Rina menaruh meja khusus penuh makanan tepat ke hadapan dara di atas tempat tidur.
"Terima kasih," ucap Dara.
"Jika ada keperluan lainnya silahkan segera panggil saya atau pelayan yang lain, saya permisi Nyonya." Bu Rina segera undur diri dan keluar dari kamar itu.
Dara menyantap sarapannya dengan lahap, ia benar-benar harus bersiap dan mengumpulkan energinya untuk berjaga-jaga jika Wira kembali menyerangnya tanpa ampun. Dara mengulum senyumnya disela-sela kunyahannya dan malah merona dengan sendirinya, wajahnya memanas saat mengingat kembali perlakuan mesra Wira terhadapnya semenjak dari hotel kala itu.
Tubuhnya memang lelah, tetapi ia tidak merasa keberatan sama sekali, menjadi istri yang sesungguhnya membuatnya sebahagia ini. Ternyata beginilah rasanya jatuh cinta, ingin selalu berdekatan dan enggan berjauhan walau hanya untuk sebentar saja.