
Dara hendak berdiri, tangannya bertumpu pada meja yang menyebabkan dia tersandung tadi, tetapi tubuhnya ambruk kembali ke lantai karena pergelangan kakinya ternyata terkilir, sehingga terasa sangat sakit saat memijak lantai ketika mencoba menopang tubuhnya.
"Awww." Dara mengusap-usap pergelangan kakinya yang terkilir sambil mengaduh. Wira bangkit dari duduknya, menghampiri dan berjongkok di hadapan Dara.
"Dasar ceroboh!" ucap Wira ketus. Lalu tiba-tiba Wira menggendong Dara, membuat gadis itu memekik kaget.
"Apa yang Kakak lakukan! Turunkan aku!" serunya galak. Tetapi pria itu tidak perduli dan tetap menggendong Dara menuju sofa lalu menurunkannya di sana.
"Jangan seenaknya menggendongku, aku bukan anak kecil!" Dara mengerucutkan bibirnya dengan tatapan penuh permusuhan. Namun, Wira juga melemparkan tatapan yang tak kalah tajamnya dengan wajah dingin dan datar.
Pria itu ikut duduk bersebelahan, dan tanpa basa basi meraih kaki Dara yang terkilir ke atas pangkuannya dan memeriksanya.
"Aduh sakit Kak, pelan-pelan!" teriak Dara. Wira memijat bagian yang terkilir dengan hati-hati.
"Makanya kamu diam dan luruskan kakimu agar tidak terlalu sakit!" bentak Wira.
"Tapi ini beneran sakit, jangan ditekan terlalu dalam! Arghh," pekiknya. Gadis itu menangis seperti anak kecil menahan rasa sakitnya, bahkan hidungnya ikut meler bersamaan dengan air matanya yang berderai membasahi wajah mulusnya. Dara hampir menghabiskan satu kotak tisu yang terdapat di atas meja dekat sofa, ia mengusap air mata dan juga ingusnya lalu membuang tisu bekasnya ke sembarang tempat hingga berserakan di lantai.
"Diamlah, jangan bergerak terus!" Wira memutar pergelangan kaki Dara perlahan selembut mungkin.
"Sakit banget Kak, hiks... hiks." Dara masih berurai air mata dengan hidung memerah.
"Jangan cengeng, sebentar lagi selesai,
jangan bergerak terus!" ucap Wira galak. Tampak peluh bermanik di kening pria tampan itu. Selesai memijat, Wira mengoleskan salep pereda nyeri dan juga membebat kaki Dara dengan perban khusus agar penyembuhannya lebih cepat.
"Makanya lain kali hati-hati! Kamu itu sudah mau dua puluh tahun tapi masih saja ceroboh," celanya memperingatkan gadis yang masih sesenggukan di atas sofa.
Wira mengambil satu kotak jus jeruk dingin dari kulkas kecil yang ada di ruangannya dan memberikannya pada Dara, gadis itu menerimanya walaupun masih dengan wajah cemberut. Matanya berbinar melihat minuman favoritnya, tanpa menunggu lagi dia menghabiskannya hingga tandas seperti orang tidak yang menemukan air berhari-hari, karena efek menangis dan berteriak-teriak tadi membuat tenggorokannya terasa kering.
"Habiskan, dan setelah itu kita pulang." Wira berdiri merapikan pakaiannya dan mengambil kunci mobilnya.
"Aku mau pulang sama pak Jono aja," protesnya.
"Pak Jono sudah kusuruh kembali ke rumah, karena banyak hal yang harus dia kerjakan, jadi ikut aku pulang dan jangan membantah!" Wira kemudian beranjak menuju pintu bermaksud keluar dari ruangan itu.
Sebenarnya Dara masih kesal, tapi dia tak punya pilihan lain untuk saat ini karena keadaan kakinya yang sedang tidak bersahabat. Ia menurunkan kedua kakinya hendak mengikuti Wira, mencoba kembali memijakkannya ke lantai dengan tangan berpegangan pada sofa. Kemudian rasa sakit itu kembali menderanya, tetapi dia menahannya karena merasa gengsi dan tidak ingin terlihat lemah di hadapan Wira.
Dengan tertatih Dara mencoba melangkah, tetapi di langkah yang kedua rasa sakitnya semakin menjadi membuatnya menjerit kecil.
"Akhhh...."
Wira yang mendengarnya langsung membalikkan badan, dan mendesahkan napasnya berat ketika melihat Dara hendak melangkah serampangan sambil meringis-ringis. Wira mendekati, dengan cepat kemudian meraup tubuh Dara dan membopongnya keluar dari ruangan itu.
"Kakak, apa-apaan ini! Turunkan aku!" Dara meronta-ronta sambil melotot kepada Wira.
"Jangan banyak bergerak, nanti jatuh! Lagipula apakah kamu berniat untuk membuat cedera di kakimu semakin memburuk dengan cara berjalanmu yang serampangan itu huh?" serunya sengit.
"Jadi sekarang diamlah dengan tenang, dan pegangan yang erat!" sambungnya dengan nada memerintah.
Wira segera menuju parkiran dengan Dara di gendongannya, mau tidak mau akhirnya gadis itu berpegangan dengan erat walaupun rasanya sangat canggung luar biasa. Ini adalah pertama kalinya ia bersentuhan sedekat ini dengan lawan jenis, walaupun sebelumnya sangat akrab dengan Wira, tetapi waktu itu hanyalah sebatas interaksi antara adik dan kakak iparnya. Berbeda dengan situasi sekarang, karena kini keduanya berada dalam status sebagai suami istri.