You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 270



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Jangan lupa Ikuti juga give away hingga cerita ini end dengan vote sebanyak-banyaknya. Lima vote teratas akan mendapatkan kenang-kenangan tumbler dari author.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca....


*****


Fatih sudah sadarkan diri, masih berbaring di salah satu ranjang di unit gawat darurat setelah siuman dari pingsannya. Kepalanya masih terasa berdenyut nyeri disertai lebam yang mulai membengkak di pelipisnya dan sudah dipastikan lebam itu akan membiru esok hari meninggalkan jejak salam cinta dari gadis pujaannya.


Freya meringis sembari menggigiti kukunya melihat keadaan sang kekasih yang terkapar karena ulahnya. Tunggu, kekasih? Ah benar, mereka sudah resmi menjadi sepasang kekasih sekarang dan peresmian hubungan keduanya diawali dengan salam pembuka terhangat seibukota.


“Maaf,” Freya yang berdiri di samping kanan ranjang melirih dan menatap Fatih penuh sesal. “Aku tadi nggak sengaja, sungguh.”


Si pemuda sang calon dokter beringsut pelan mengubah posisinya berbaring menjadi duduk, dengan sigap Freya membantu Fatih agar bisa duduk bersandar dengan nyaman. Fatih masih belum merespons apapun celotehan gadis yang beberapa jam yang lalu menerima pernyataan cintanya, iris hitamnya menatap lekat-lekat kepada Freya tanpa kata.


Fatih sadar, mungkin kecupan sekilas tadi terlalu terburu-buru bagi Freya. Akan tetapi jujur saja ia sedikit kesal, dari cerita yang sering dibaca di dalam novel ataupun dari drama komedi romantis yang ditontonnya, umumnya para gadis akan tersipu malu serta merona saat dicium untuk pertama kalinya bukan? Lalu apa yang didapatkannya? Sangat bertolak belakang dengan ekspektasinya, bahkan bogem mentah dihadiahkan padanya di menit pertama mereka memutuskan berpacaran.


“Kamu… marah ya?” cicit Freya karena Fatih masih terdiam sejak siuman tadi, tetapi pandangnnya terus memaku kepadanya.


“Iya,” jawab Fatih pelan.


“Yang harusnya marah itu aku. Kamu tiba-tiba mencuri ciuman pertamaku!” sergah Freya tak terima.


“Tapi kamu meninjuku,” sahut Fatih.


“Aku tak sengaja!”


“Tapi ini sakit banget,” keluh Fatih. Rasa sakitnya sekarang padahal tak seberapa, dia hanya sedang menggunakan kesempatan ini sebagai alasan agar bisa merajuk kepada gadis pujaannya.


“Ya maaf, itu karena aku kaget. Siapa suruh kamu menciumku tiba-tiba. Coba kamu minta izin dulu, pasti tanganku takkan bereaksi bar-bar semacam itu.”


“Sejak kapan mencium kekasih sendiri harus meminta izin, bukankah status kita sekarang adalah berpacaran?"


Meminta izin? yang benar saja, memangnya mau mengemudi mobil!


Freya berdecak kesal kehabisan kata, ternyata pacaran itu rumit, membuat kepalanya tiba-tiba berdenyut. Namum, melihat keadaan Fatih sekarang tak dipungkiri ia merasa bersalah, ditambah benih-benih yang mulai tumbuh dihatinya ikut mengganggu ketenangan batinnya dan mulai melemahkannya, cinta memang berbahaya.


“Aku mengaku bersalah, maafkan aku,” ujar Freya tulus, entah kenapa berhadapan dengan Fatih egonya bersedia diajak kompromi.


“Aku akan memaafkanmu, tapi ada syaratnya.” Fatih mengulum senyumnya.


“Apa syaratnya?” sambar Freya cepat.


“Kamu serius pengen tahu? tapi harus janji dulu, kamu nggak akan meninjuku lagi.” Si pemuda itu menyeringai, ia semakin tertantang untuk menaklukan gadis ini.


“Oke, aku janji.”


“Cium aku di bagian tadi kamu meninjuku,” ucap Fatih lugas meskipun terdengar seperti ikrar bunuh diri.


“Apa!” Freya bereteriak dan membeliak tajam. Tangannya hampir saja kembali mengepal, tetapi sesaat kemudian gadis itu menarik dan mengembuskan napasnya teratur beberapa kali.


“Eits… ingat janji kamu tadi.” Fatih menggedikkan dagunya serta sudut matanya melirik ke arah tangan Freya yang hampir kembali mengepal.


Tanpa diduga si tomboi itu mendaratkan bibirnya di bagian lebam wajah Fatih dengan cepat. “Sudah puas?” seru Freya sengit.


Fatih mengangguk dengan senyuman lebar di wajahnya, saat Freya hendak melangkah pergi, Fatih menariknya hingga gadis itu menubruk dadanya. Dengan nekatnya Fatih memeluk Freya dalam dekapannya meskipun si tomboi itu meronta meminta dilepaskan.


“Makasih udah mau jadi pacar aku, aku sayang kamu,” bisik Fatih sembari meringis karena ternyata tangan Freya sibuk mencubiti perut berototnya sekuat tenaga.


Mereka tak menyadari, interaksi tadi tak luput dari perhatian seseorang dari balik gorden yang kemudian melangkah pergi dari sana sembari melipat bibir mengulum senyum. Wira tak ingin mengganggu dua orang yang baru saja bersemi, sepanjang jalan dia tak tahan terkikik geli, ketika tahu penyebab dari pingsannya sang asisten.


Ia kembali ke kamar Dara, menunaikan janjinya untuk membawa sang istri ke ruang NICU. Kini mereka berdua sudah berada di depan ruangan tersebut, Dara duduk di kursi roda dengan Wira yang berdiri di belakangnya.


Pria jangkung itu membungkukkan tubuh tingginya dan menopangkan dagu di pundak Dara yang tengah menatap Selena berlumur cinta kasih, ia melingkarkan lengan kokohnya melindungi belahan jiwanya.


“Aku mencintaimu, istriku,” bisiknya serak penuh pemujaan.


“Aku juga mencintaimu suamiku….”


Terimakasih Mbak Mira, telah memberiku kesempatan untuk meneguk kebahagiaan yang sempurna ini. Semoga Ayah dan Mbak mendapatkan tempat terbaik di sana.