
Setelah satu jam ia mengunjungi Arif dan Almira, Wira melangkahkan kakinya meninggalkan area pemakaman. Di dekat pintu masuk tampak orang-orang suruhannya masih berkumpul di sana.
Sejenak Wira menghampiri dan menyapa untuk mengucapkan terima kasih, kemudian kembali ke dalam mobil dan ternyata Dara sudah terlelap.
Ia membenarkan posisi istrinya agar tidur nyaman bersandar di pelukannya. Seolah tahu siapa yang memeluknya, Dara langsung balas memeluk sambil bergumam-gumam tak jelas padahal matanya tertutup rapat.
"Pak Jono, kita pulang sekarang," perintahnya kepada Pak Jono yang sejak tadi setia menunggu di kursi kemudi.
Pak Jono mengangguk patuh dan langsung melajukan mobil tersebut sesuai perintah sang majikan.
*****
Sesampainya di rumah Wira meraup Dara yang masih tertidur pulas ke dalam gendongannya. Terlihat Bu Rina sudah menyambut di pintu masuk ruang tengah tampak tersenyum lega.
"Bagaimana keadaan Nyonya?" Dengan tak sabar Bu Rina langsung bertanya kepada Wira.
"Dara baik-baik saja. Sepertinya dia kelelahan. Terima kasih atas isi paper bag nya, itu sangat membantu," sahut Wira yang menghentikan langkahnya sembari tetap menggendong Dara.
"Syukurlah Tuan, saya sangat khawatir. Tadi saya sudah menyiapkan makan malam untuk Anda dan Nyonya. Jika nanti Anda ingin menyantapnya akan saya hangatkan sebentar," ucap Bu Rina.
"Terima kasih. Untuk sekarang aku butuh beristirahat. Tolong buatkan susu sereal saja untukku dan antarkan ke kamarku."
"Baik Tuan."
Wira segera melangkah menuju kamarnya setelah selesai bercakap-cakap dengan Bu Rina.
*****
"Duh, kamu ini cowok tapi payah banget sih," gerutu Freya sambil memijat tengkuk si calon dokter yang masih setia berjongkok itu.
Beberapa saat sebelumnya.
Mereka baru saja menyelesaikan makan malam. Fatih benar-benar senang dan antusias karena Freya bersedia menerima ajakannya. Acara makan malam berjalan lancar diselingi obrolan ringan seputar universitas masing-masing.
Ketika hendak pulang, Fatih kehilangan kunci mobilnya. Entah terjatuh atau lupa menaruhnya dia juga tak yakin. Freya ikut membantu mencari bersama Fatih dan pelayan cafe, tetapi mereka tak kunjung menemukannya.
Kemudian Fatih teringat masih memiliki kunci cadangan di rumah kontrakannya. Ia menitipkan dulu mobilnya kepada pihak cafe dan bermaksud memesan ojek online untuk kembali ke rumah mengambil kunci cadangannya.
Lalu Freya menawarkan jasanya untuk mengantar. Tak mungkin ia pulang begitu saja meninggalkan Fatih yang sedang kesusahan.
Tawaran Freya bagaikan gayung bersambut. Tentu saja Fatih tak akan menyia-nyiakan kesempatan langka ini, bisa berboncengan dengan gadis yang ditaksirnya adalah sebuah anugerah baginya.
Mereka pun akhirnya berboncengan, bahkan Fatih rasanya ingin berjingkrak kegirangan bisa berada dalam jarak sedekat ini dengan Freya.
Awalnya motor itu melaju dengan kecepatan biasa karena jalanan cukup padat dan ramai. Namun, ketika arus lancar dan jalanan agak lengang Freya mengemudikan motornya seperti pembalap Moto GP.
Freya tak tahu bahwa yang diboncengnya hampir saja pingsan dibawa melaju dalam kecepatan tinggi. Bahkan Fatih hampir menangis seperti bayi dan berteriak minta tolong sambil memanggil-manggil ayah dan ibunya.
"Baru dibawa ngebut segitu aja udah kolaps," ledek Freya yang masih setia memijat tengkuknya.
Wajah Fatih pucat pasi, perutnya mual seperti diaduk-aduk. Pandangannya berkunang-kunang bahkan sudut matanya berair menahan nyeri di perut dan tenggorokannya.
Setelah sekitar dua puluh menit barulah Fatih merasa lebih baik. Ia berdiri kemudian membuka kunci dan masuk ke dalam rumah dengan Freya yang mengekorinya.