
Bayi merah yang masih menangis itu segera diserahkan kepada dokter lain untuk ditangani dan dibawa ke ruang NICU mengingat si bayi lahir dalam kondisi prematur, sementara Raisa kembali fokus untuk menangani Dara.
Wira masih tergugu dalam luapan rasa yang menggelegak memenuhi seluruh dirinya. Rasa syukur, bahagia, lega dan haru bersatu padu menjadi satu bercokol di sanubarinya. Ia bahkan mencubit lengannya sendiri, memastikan bahwa yang dialaminya saat ini bukanlah mimpi. Takjub akan kuasa Sang pencipta yang telah memberikan keajaibannya sehingga dua orang yang sangat berarti baginya masih ada bernapas di sisinya.
Selepas operasi selesai sepenuhnya, kondisi Dara dalam keadaan stabil terkendali meskipun masih dalam pemantauan ketat untuk beberapa waktu ke depan. Raisa beserta semua timnya mengucap syukur dan bernapas lega, untaian do’a juga kerja keras mereka untuk memberikan yang terbaik berbuah sesuai harapan.
Raisa keluar dari ruang operasi bersamaan dengan Wira, sementara Dara kini sudah dipindahkan ke ruang ICU yang bersebelahan dengan ruang NICU melalui lorong khusus yang langsung tersambung dari gedung utama ruang bedah, sehingga saat si bayi juga Dara dipindahkan tidak melalui pintu depan di mana orang tua Wira dan yang lainnya menunggu. Begitu pintu depan terbuka, semua orang yang menunggu langsung berdiri dan menghampiri dengan raut harap-harap cemas, terutama Ratih yang tergopoh-gopoh dengan kaki lemasnya.
“Bu, anak dan istriku mereka_”
“Mereka kenapa Wira?” Ratih menyela saat Wira belum selesai berucap. Matanya bergulir dengan tatapan putus asa dan wajahnya semakin pias.
“Ke-keduanya… keduanya… selamat, Bu,” sahut Wira parau tersendat di tenggorokan disertai guratan bahagia tak terkira di rupa tampannya.
“Benar Tante, menantu dan cucu Anda keduanya dalam keadaan baik,” timpal Raisa dengan senyum yang tersungging di wajah lelahnya.
Mendengar perkataan Wira dan juga Raisa membuat tubuh Ratih hampir luruh ke lantai jika saja Haris tak memeganginya. Air mata duka lara yang tadi menghujaninya, kini berubah menjadi tangis bahagia diiringi ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta yang tak henti-hentinya dipanjatkan.
*****
Ratih mempercepat langkahnya menuju ruang NICU disusul Haris di belakangnya. Wanita paruh baya itu begitu bersemangat ingin segera melihat cucunya yang telah terlahir ke dunia, tak peduli dengan tampilannya yang kini sudah kusut masai disertai wajah sembap.
“Bu, pelan-pelan,” ujar Haris yang mengekor di belakang.
“Ibu tak bisa, Yah. Sudah tak sabar ingin melihat buah hati Wira dan Dara, cucu kita,” sahutnya sumringah tanpa menghentikan langkahnya.
Sampailah mereka di depan ruang NICU, terpampang kaca besar tembus pandang di sana, berjejer beberapa bayi yang sama-sama lahir dalam kondisi prematur di dalam inkubator. Kondisi bayi yang dilahirkan kurang bulan masih sangat rentan dan harus berada dalam pengawasan ketat sebagai upaya observasi dalam beberapa waktu ke depan untuk memastikan tidak ada komplikasi yang terjadi.
Ratih membaca satu persatu tulisan yang tertera di setiap inkubator, hingga akhirnya matanya menangkap tulisan di box inkubator paling kanan yang tertera ‘Bayi Nyonya Anandara’.
Ia menempelkan telapak tangannya di kaca tersebut, semakin mendekat dan merapatkan diri untuk melihat makhluk mungil yang hampir saja terenggut dari sisinya. Haris pun melakukan hal yang sama, dengan tatapan lembut di pandangnya sang cucu tercinta. Rasa haru menyeruak memenuhi relung hatinya, setetes bening kembali meluncur luruh tanpa di suruh di wajah nenek si bayi.
“Selamat datang di kehidupan kami bidadariku… sehatlah selalu, panjang umurmu, dalam keberkahan yang melingkupimu,” ucap Ratih dengan bibir bergetar.