You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 94



Pukul delapan malam, Wira dan juga dokter yang lain baru selesai menangani korban kecelakaan tersebut, wajahnya tampak lelah dengan beberapa noda merah yang menempel di jas putihnya. Dara masih setia menemani di unit gawat darurat, ia terus mendampingi Wira selama melakukan pertolongan terhadap para pasien.


Wira tampak lega setelah selesai melaksanakan tugasnya, Fatih yang juga ada di sana tercengang karena tidak menyangka ternyata Wira bisa bertahan melihat darah yang akhir-akhir ini melemahkannya, Fatih menghampiri untuk memastikan kondisi atasannya tersebut.


"Dokter, anda tidak apa-apa?" tanyanya sedikit berbisik.


Wira tersenyum dengan penuh keyakinan. "Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Setelah tugasmu selesai segeralah pulang dan beristirahatlah."


"Syukurlah Dokter, saya akan pulang sebentar lagi." Fatih terlihat lega melihat Wira yang sepertinya mulai membaik.


"Aku pulang dulu." Wira dan Dara berpamitan lalu keluar dari sana.


*****


Dua sejoli itu kini tengah beristirahat selepas membasuh diri dan menyantap makan malamnya meskipun terlambat. Tubuh keduanya luar biasa lelah, setelah mengalami begitu banyak hal seharian tadi.


Di ranjang besar itu Dara bersandar memakai beberapa buah bantal yang ditumpuk dengan nyaman, sementara Wira bergelung menelusup di pelukan istri kecilnya dengan manja. Dara mengangsurkan jemarinya membelai rambut Wira penuh sayang, sedangkan pria tampan itu menghirup dalam-dalam wangi tubuh Dara yang selalu berhasil menyihirnya.


"Emhhh... aromamu enak, membuatku merasa tentram," desah Wira dengan mata terpejam, lalu lengannya memeluk pinggang Dara posesif.


Dara tersenyum simpul, menundukkan pandangannya disusul Wira yang mendongak hingga netra mereka saling bertemu pandang. Dara menatap lamat-lamat suaminya sambil tetap membelai rambutnya, kemudian semakin menunduk mendaratkan bibirnya mengecup kening Wira cukup lama.


"Mas, apakah ada sesuatu yang ingin Mas katakan padaku?" tanyanya.


Dara terkekeh. "Bukan itu. Hanya saja sebagai seorang istri aku ingin menjadi tempat pertama untuk suamiku berbagi susah dan senang. Jika Mas mempunyai beban berbagilah denganku, jangan memikulnya seorang diri."


"Apakah tentang kejadian di UGD tadi?" sahut Wira.


"Hmm...."


Dara berpura-pura tak mengerti, padahal dia sudah mengetahui tentang trauma yang dialami Wira saat menguping tadi. Namun, Dara ingin Wira berterus terang dengan sukarela kepadanya tanpa adanya paksaan.


"Aku... sebenarnya... semenjak kejadian kecelakaan itu aku tak kuat melihat darah, tubuhku selalu tiba-tiba melemah saat melihatnya." Wira mencoba jujur tentang apa yang dialaminya, walaupun sebenarnya itu adalah aib baginya. Seorang dokter ketakutan saat melihat darah adalah hal yang menyedihkan baginya.


"Akan tetapi saat kamu berada didekatku, rasa takut itu seolah terusir menjauh," sambungnya kembali.


Dara menghentikan elusan jemarinya dan memeluk Wira penuh sayang. "Bersandarlah padaku Mas, lain kali jangan menyimpan apapun lagi dariku. Jika bersama aku yakin semua masalah akan lebih mudah untuk diatasi, aku akan membantu sebisaku untuk selalu membuatmu kuat."


"Terima kasih, terima kasih sayang," ucapnya sedikit tersendat karena rasa haru memenuhi relung hatinya.


Dia tak pernah menduga, bahwa istri kecilnya mempunyai pemikiran yang dewasa dan bijak, membuatnya semakin yakin bahwa hatinya tidak salah melabuhkan rasa cintanya kepada wanita yang sedang memeluknya.


Hadirnya Dara berefek sangat dahsyat dalam hidupnya yang sempat terkoyak. Dara adalah obatnya, penenang jiwanya, penentram batinnya dan juga penyemangatnya.


Tiba-tiba pikirannya teringat kepada Almira, mengenai ikatan takdir yang kini mengikatnya dengan Dara berawal dari permintaan Almira. Mungkinkah secara tidak langsung mendiang istrinya itu menyerahkan Dara di sisinya sebagai permintaan maafnya? Seolah Dara memang diciptakan sebagai penyembuhnya, membaurkan cahaya lembutnya yang murni menyinari kelamnya sekeping hati yang terluka.