You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 290



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Jangan lupa Ikuti juga give away hingga cerita ini end dengan vote sebanyak-banyaknya. Lima vote teratas akan mendapatkan kenang-kenangan tumbler dari author.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca....


*****


Deringan ponsel berbunyi berulang, jarum jam di dinding menunjukkan pukul dua dini hari. Dara yang tidur dalam pelukan nyaman Wira terusik karena bunyi gaduh di kesunyian, tangannya menggapai-gapai ponselnya yang berbunyi dan bergetar di atas nakas.


Dara menggeser pelan lengan Wira yang memerangkap tubuhnya posesif, mengucek matanya yang masih dalam kondisi mata ayam. Ia memicing dan di ponselnya tertera panggilan dari bibinya, digesernya tombol hijau di layar lalu menempelkan benda kotak persegi panjang itu ke telinganya.


“Halo Bi, ada apa?” sahut Dara serak dengan mata yang kembali memejam.


“Dara, ibumu… kondisi ibumu mendadak drop, satu jam yang lalu tiba-tiba Aruna kehilangan kesadarannya setelah muntah lagi, dan sampai sekarang masih belum siuman.”


“Apa!” Dara yang asalnya dibalut rasa kantuk hebat seketika terbangun, membuka matanya lebar dan menegakkan tubuhnya. “Sebenarnya apa yang terjadi? tadi sore Mas Wira mengatakan kondisi ibu masih terbilang stabil.”


“Bibi juga tidak tahu apa penyebabnya, Bibi harus bagaimana Dara?” terdengar nada kebingungan juga suara isakan bibinya di telepon.


“Aku akan ke sana sekarang.”


Disibakkannya serampangan selimut yang membungkus tubuhnya. Dara juga mengguncangkan bahu Wira membangunkan. “Mas, bangun,” panggil Dara dengan nada panik. “Mas Wira, bangun Mas.”


Pria tampan itu menggeliatkan tubuh jangkungnya, kemudian mengerjap membuka matanya perlahan. “Ada apa sayang?”


“Mas, ibuku… ibuku.”


“Bibiku menelepon barusan, dia bilang kondisi ibu drop. Aku ingin ke rumah sakit sekarang, aku… aku takut.” Dara mulai terisak.


Wira segera mendudukkan dirinya, meraup sisi wajah Dara dan jemarinya mngusap sayang pipi mulus istri tercintanya. “Jangan panik. Ayo, kita ke rumah sakit sekarang.”


Dara membangunkan Bu Rina dan menitipkan Selena yang tengah tertidur. Ia tergesa keluar rumah hanya dengan sandal bulu dan piyama tidur yang dipakainya. Dengan sigap Wira mengambil jaket dan juga sepatu Dara, memakaikannya di garasi sedangkan istrinya lebih mirip seperti orang linglung.


Sesampainya di depan ruang perawatan Aruna. Tampaklah para dokter dan timnya sedang berkerumun di dalam sana. Bibinya duduk di luar ruangan dekat pintu masuk, tampak kusut juga pias. Dara ingin merangsek masuk ke dalam, tetapi ditahan oleh Wira, jangan sampai kedatangan mereka mengganggu para dokter yang sedang menjalankan tugasnya.


“Tunggulah sayang, sabar.” Wira menggenggam tangan Dara erat memberi kekuatan.


Satu jam berlalu para dokter baru selesai menangani dan memeriksa kondisi Aruna, yang lainnya meninggalkan ruangan dan hanya satu dokter penanggung jawab yang tinggal. Dara segera masuk begitupun Wira juga bibinya.


“Apa yang terjadi dengan ibuku, Dok?” tanya Dara tak sabaran.


“Kondisinya mendadak drop, sel-sel kankernya juga semakin menyebar ke organ-organ vital. Kami sudah berusaha sebaik mungkin mengerahkan kemampuan secara maksimal, tapi peralatan penunjang di sini masih ada beberapa yang kurang. Kami menyarankan agar ibu Anda dibawa ke rumah sakit di Singapura yang fasilitasnya lebih memadai,” jelas si dokter kepada Dara.


“Hanya itu yang bisa diusahakan, Wira. Walaupun kamu pasti tahu hasil akhirnya akan seperti apa," bisik si dokter sembari menepuk punggung Wira, dokter tersebut salah satu rekan sejawatnya di rumah sakit ini.


Dara tak mampu berkata-kata, hanya buliran bening yang jatuh dari pelupuk matanya tanpa suara. Sesingkat inikah pertemuannya dengan wanita yang melahirkannya? Hatinya tak pernah berhenti berharap dan berdo’a, dia akan mengusahakan yang terbaik untuk ibunya selagi ada kesempatan.


“Mas, bolehkah aku meminta sesuatu darimu?"


"Tentu," sahut Wira.


"Ini... ini mungkin lancang, tapi bisakah Mas mengusahakan untuk membawa ibuku ke rumah sakit di Singapura? aku masih berharap ibuku bisa bersamaku lebih lama lagi,” lirihnya pilu. Tangis Dara tumpah membanjiri wajah cantiknya.


“Tanpa kamu meminta pun aku pasti akan mengusahakannya. Untukmu, apapun akan kulakukan, istriku.”