
Sisa-sisa air hujan, masih tampak menggenang di beberapa bagian jalan yang berlubang, Rifki melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena khawatir akan kondisi jalanan yang licin Ia tetap fokus dan tak terpengaruh walaupun Dara sesekali mengguncangkan kursinya agar berkendara lebih cepat lagi.
Derap sepatu Dara berlarian di koridor rumah sakit terdengar sarat akan ketakutan dan keputusasaan yang melanda jiwa. Rifki dan juga dua sahabatnya ikut menyeimbangkan langkah mereka dengan gadis kurus berkulit pucat itu.
Rambut panjangnya yang di ikat kini terurai tak beraturan disertai peluh yang bermanik di dahi berpadu dengan wajahnya yang sembab serta basah karena air mata.
Dari kejauhan Dara melihat Wira yang terduduk di lantai tepat sebelah pintu ruang operasi, tertunduk muram, pakaiannya kusut masai, serta jas putihnya dipenuhi noda darah. Gadis kurus itu segera menghampiri dan bersimpuh di samping Wira.
"Kakak, Mbak Mira... apa yang terjadi dengan Mbak Mira, hiks... hiks," tanyanya, dengan suara gemetar menahan tangis.
Wira mengangkat wajahnya, mata mereka saling menatap penuh kesedihan yang mendalam. Ia hanya bungkam, tak mampu berucap sepatah katapun, lidahnya kelu, dan pria tampan yang selalu penuh wibawa itu, kini menunjukan sisi lemahnya, sebutir bening mengalir dari sudut matanya tak mampu untuk menahan lagi.
Terdengar suara pintu terbuka, dan bunyi derak roda tempat tidur yang di dorong. Wira beserta Dara langsung berdiri dan mengikuti dokter serta para perawat yang mendorong Almira menuju ruang ICU. Sepanjang lorong rumah sakit, tangis Dara kembali pecah, melihat kondisi kakaknya yang memprihatinkan. Anggi dan Freya yang juga mengikuti di belakangnya, memeluk Dara berusaha menangkan dan menghiburnya.
Mereka sampai di ruang ICU, hanya satu orang yang boleh masuk, dokter meminta Wira ikut masuk karena ada hal penting yang ingin disampaikan kepada Wira selaku suami pasien, sementara Dara tetap di luar bersabar menunggu giliran untuk bisa masuk menemani kakaknya.
"Pak Rifki, Freya, Anggi, makasih udah nganterin aku ke sini, tapi sebaiknya kalian pulang saja, saat ini aku sedang ingin bersama kakakku saja," ucap Dara.
"Tapi, kamu gak baik-baik saja Ra, gak mungkin aku bisa tenang ninggalin kamu dengan kondisi seperti ini,' ujar Freya yang diiringi anggukan Anggi tanda setuju dengan pendapat gadis tomboy itu.
"Jangan sungkan, semoga kondisi kakakmu baik-baik saja." Rifki mengulas senyumnya prihatin.
"Kalau kamu butuh aku dan Anggi, jangan lupa untuk segera memberi kabar, kami akan selalu ada untukmu." Freya dan Anggi kembali memeluk Dara.
Mereka bertiga berpamitan pulang, tinggalah Dara yang duduk sendiri di kursi selasar dekat ruang ICU, ia termenung, hatinya tak henti-hentinya memanjatkan do'a untuk kesembuhan kakak tersayangnya.
*****
Di ruang ICU.
"Dokter Wira, sepertinya aku tidak perlu menjelaskan apapun lagi tentang kondisi istrimu sekarang ini, kamu pasti sudah paham, cederanya sangat parah, aku dan tim sudah berusaha melakukan yang terbaik. Banyak-banyaklah berdo'a, semoga Tuhan memberikan keajaiban," jelas seorang dokter yang juga rekan sejawatnya. Dokter itu menepuk-nepuk pundak Wira sebelum keluar dari ruangan tersebut.
Sepeninggal dokter tadi, Wira terdiam terpaku, semuanya terlalu tiba-tiba, tadi pagi mereka masih saling berpelukan dan berciuman mesra, tapi sore ini dia melihat istrinya memeluk pria lain dan sekarang terkapar di atas ranjang pesakitan tanpa harapan.
Rasa takut, rasa bersalah, dan juga hati yang terluka, menjadi satu bercokol di sanubarinya, seolah kalbunya sudah tak berbentuk lagi, menciptakan rasa sakit yang teramat sangat merantai seluruh dirinya.