
Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.
Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.
Selamat membaca....
😘💕
*****
Michelia?
Botol air mineral dan juga kopi instant kalengan yang sudah dipegangnya, ditaruh kembali serampangan ke rak terdekat sejangkauan tangannya. Wira merogoh gawai yang tersimpan di saku celananya, melaporkan kepada polisi tentang keberadaan Michelia dan tak lupa lokasi pun dibagikan melalui aplikasi chat berlogo warna hijau di ponselnya.
Jika dilihat sekilas, orang-orang pasti sukar mengenali jika itu adalah si buronan yang sedang dicari-cari polisi. Wanita yang biasanya tampil glamor dengan barang bermerek dan perawatan kulit termahal, kini terlihat lusuh, kumal, bahkan wajah cantiknya sangat kusam. Akan tetapi, Wira sangat hapal dengan rupa Michelia bagaimanapun penampilannya karena sudah sering bertemu dan bertatap muka sejak lama.
Wira melangkah keluar dari minimarket dan meninggalkan barang yang hendak dibelinya, membuka pintu kaca pemisah antara area luar dan dalam bangunan lalu menghampiri Michelia dengan tak sabaran. Ia tak mau kehilangan jejak Michelia lagi dan ingin segera menjebloskannya ke penjara.
"Di sini kamu rupanya, buronan!" Dicekalnya lengan Michelia dengan kasar, membuat wanita itu terperanjat kaget dan menghentikan adu mulutnya dengan si preman.
"K-kamu?" Michelia membelalakkan mata dan berusaha melepaskan diri.
"Mau kabur kemana lagi hah?" Bentak Wira penuh amarah terpendam.
Michelia panik dan kebingungan, tidak menyangka dirinya bisa bertemu dengan sosok yang melaporkannya di daerah terpencil ini. Ia terus meronta seiring cekalan Wira yang semakin menguat di lengannya.
"Mencuri?" Wira menyipitkan matanya ketika bertanya.
"Ya, dia mencuri uang para pengemis yang mangkal di sekitar sini. Dasar wanita gila!" umpatnya kepada Michelia.
Di saat Wira dan si preman sedikit lengah, dengan cepat Michelia mengambil pisau lipat yang menyembul di saku belakang celana jeans yang dipakai pemuda itu dan menghunuskannya kepada keduanya.
Wira terkesiap dengan aksi Michelia begitu juga si preman tadi. Mau tak mau dilepaskannya cekalan kencangnya di lengan wanita itu lalu mundur beberapa langkah. Ia harus tetap waspada apalagi kini Michelia memegang benda tajam.
Namun, Wira takkan pernah membiarkan wanita ular itu menghilangkan jejaknya lagi, yang harus dilakukannya sekarang adalah mencari cara agar bisa menahan Michelia lebih lama di tempat itu hingga polisi datang.
"Chelia, jangan main-main dengan pisaunya. Cepat letakkan!" seru Wira
"Hahaha ... kenapa, kamu takut? bukankah memegang pisau adalah keahlianmu, Dokter Wira," cibirnya dengan seringai mengerikan.
Wira melempar tatapan tajamnya dengan rahang mengetat, sedangkan Michelia mengambil ancang-ancang hendak melarikan diri sambil tetap menghunuskan pisaunya ke depan. "Jangan mengikutiku!"
"Chelia, kamu takkan bisa kabur lagi. Segeralah sadari kesalahanmu dan serahkan dirimu kepada polisi!" seru Wira tegas menekankan setiap kata-katanya.
"Jangan harap! Sampai kapanpun kamu takkan pernah bisa menangkapku. Ayahku pasti akan segera membebaskanku dari semua tuduhan yang kamu layangkan, dan kamu tahu apa artinya? artinya semua usahamu untuk memenjarakanku sia-sia," ejeknya kemudian tergelak.
Michelia semakin mundur, setelah kira-kira lima meter menjauh dari Wira dan si preman, ia berbalik badan dan langsung berlari kencang. Wira secara refleks mengambil langkah seribu untuk menyusul si buronan, takkan membiarkan Michelia kembali kabur dan lari dari tanggung jawab.