You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 255



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Jangan lupa Ikuti juga give away hingga cerita ini end dengan vote sebanyak-banyaknya. Lima vote teratas akan mendapatkan kenang-kenangan tumbler dari author.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca....


*****


Semua orang yang hadir diliputi suka cita. Setelah acara santap bersama selesai, Wira bercengkrama dengan keluarga besarnya juga rekan-rekannya, membahas perihal rumah sakit juga perusahaan farmasi milik ayahnya. Sedangkan Dara selepas menyapa mereka langsung bergabung dengan kedua sahabatnya juga teman-temannya untuk melepas rindu.


“Senangnya jadi bumil, dimanjain terus kayaknya nih,” cicit Anggi yang duduk di samping Dara, meskipun sejujurnya sudut mata Anggi masih sering mencuri pandang ke arah Wira yang tampak semakin bersahaja. Anggi memang sudah membuang jauh-jauh keinginannya untuk mendekati Wira, tetapi tak dipungkiri jika bertemu secara langsung begini, riak-riak itu masih ada walaupun hanya sekilas, ternyata begitu dahsyatnya pesona seorang Wira Aryasatya serupa sihir yang memantrainya.


“Yang pasti, Mas Wira selalu membuatku jatuh cinta setiap harinya,” sahut Dara sembari mengulum senyumnya diiringi semburat merah di wajah cantiknya, membahas tentang Wira sealu membuatnya berdebar tak karuan.


“Cie cie… bahagianya, pengen dong jatuh cinta juga,” goda mereka membuat rona merah di wajah Dara semakin merebak.


“Kapan perkiraan hari kelahiran?” tanya salah seorang temannya yang memakai gaun kuning bermotif bunga-bunga.


“Sekitar empat minggu lagi.” Dara menjawab sambil mengusap perutnya.


“Kayaknya enak ya punya suami? jadi pengen nikah juga, pengen hamil juga,” celetuk Freya sambil memesang muka memelas.


“Sejak hari ini,” jawab Freya cengengesan. Sepertinya Freya mulai terkontaminasi virus kebelet nikah dari si calon dokter.


Mereka bercengkrama gembira membahas bayak hal, kemudian Dara ingin pergi ke toilet, usia kehamilannya yang semakin bertambah membuat intensitas buang air kecilnya semakin sering dan itu lumrah terjadi pada wanita hamil.


“Mau kuantar nggak?” tawar Freya juga anggi berbarengan.


“Nggak usah, toiletnya dekat pintu keluar kok, aku nggak akan lama. Kalian lanjutkan mengobrol dan silakan nikmati hidangan penutup,” ucap Dara berbarengan dengan para koki yang masuk membawa nampan-nampan berisi hidangan berbagai macam dessert yang menggugah selera, baru melihatnya saja terasa sudah lumer di mulut.


“Ya udah hati-hati ya," ujar mereka dengan raut wajah cemas.


“Iya, lagian aku ini bukan bayi. Aku cuma mau ke toilet, bukan pergi ke bulan.” Dara tertawa kecil kemudian segera berlalu ke toilet karena kantung kemihnya sudah berteriak meminta dibebaskan, ditambah sikecil yang bergerak aktif di dalam sana membuat keinginan buang air kecilnya semakin mendesak.


Dara masuk ke toilet dekat privat dining room pesta baby shower diadakan, semua dining room di sini dilengkapi toilet privat khusus di bagian luarnya untuk pelanggan yang sedang mengadakan acara di sana. Saat masuk toiletnya terisi penuh, Dara mencoba menunggu, tetapi keinginan buang air kecilnya semakin mendesak tak tertahankan, jika menunggu lebih lama lagi rasanya ia sudah tak sanggup lagi, hingga akhirnya Dara pergi ke area umum restoran untuk mencari toilet sembari memegangi perut bagian bawahnya.


“Hhh… untung di sini kosong.” Dara mengembuskan napasnya lega dan segera masuk ke dalam salah satu bilik di toilet tersebut.


Di depan cermin toilet yang tadi dilewati Dara, seorang wanita berumur mengepalkan tangannya begitu melihat kemunculannya di sana. Dara tak sempat menoleh kemanapun lagi lantaran keinginan buang air kecilnya sudah tak tertahankan. Penampilan wanita itu kusut acak-acakan walaupun busana yang dipakainya tampak mahal, sepertinya dia baru berseteru dengan seseorang yang melibatkan aksi jambak-jambakan.


Wanita itu mengetatkan rahangnya dengan kilatan amarah di matanya, tangannya semakin mengepal hingga buku-bukunya memutih. “ Semua ini gara-gara kau gadis ingusan!”geramnya penuh emosi.