
Flashback on
Giovani dan Almira, pernah menjalin cinta ketika mereka masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Giovani adalah kakak kelasnya, mereka berselisih usia hanya satu tahun saja.
Almira berasal dari sebuah kota kecil, ia melanjutkan sekolah SMA-nya ke kota besar sesuai saran ayahnya, karena sang ayah ingin putrinya bersekolah di tempat terbaik untuk masa depannya yang lebih cemerlang.
Giovani dikenal sebagai sosok yang selalu mematuhi peraturan orang tuanya termasuk tidak memperbolehkannya berpacaran semasa sekolah, dengan alasan dikhawatirkan akan mengganggu konsentrasi belajarnya yang sedang dipersiapkan untuk menjadi seorang anggota militer seperti ayahnya.
Namun, pertemuannya dengan Almira menggoyahkan dan meluluh lantahkan semua peraturan yang selama ini dipatuhinya. Gadis cantik murid baru itu mampu menarik perhatian Giovani. Kedua remaja itu saling jatuh cinta pada pandangan pertama, gelora cinta masa muda yang baru pertama kali mereka cicipi terasa begitu indah dan manis melekat di hati. Walaupun Giovani menjalani hubungan cinta tersebut di belakang punggung kedua orang tuanya secara sembunyi-sembunyi.
Hingga pada suatu hari, semua rasa itu mau tak mau harus dihentikan, tunas yang baru saja tumbuh dicabut paksa hingga ke akar, menyisakan patahan serabut akar yang telah kehilangan kehidupannya yang masih menancap dan menusuk di hati keduanya.
Hari itu bertepatan dengan hari ulang tahun Giovani yang ke tujuh belas, dia mendapatkan hadiah sebuah mobil lengkap dengan SIM-nya dari kedua orang tuanya. Ia sangat gembira, lalu berpamitan dari rumahnya dan mengatakan ingin mencoba mobil barunya berkeliling kota.
Di tengah perjalanannya, Giovani menghubungi Almira dan mengajaknya untuk ikut berkendara bersama. Gadis muda itu kegirangan, mereka berdua janji bertemu di persimpangan jalan dekat tempat kos Almira.
Tak terasa Giovani melajukan mobilnya makin menjauhi kota hingga ke jalanan yang sepi, sungguh sial mobilnya malah mogok di tempat yang hanya ada pepohonan lebat jauh dari pemukiman warga. Maklum saja karena terlalu senang bisa berduaan dengan kekasihnya membuatnya lupa untuk mengisi bahan bakar.
Keduanya kebingungan, sinyal ponsel pun rupanya sedang tidak bersahabat, panggilan telepon sangat susah tersambung, dia mencoba mengirim pesan singkat dan beruntung pesannya bisa terkirim walaupun butuh perjuangan, sampai-sampai Giovani harus naik ke atap mobilnya karena sinyal yang timbul tenggelam.
Sambil menunggu balasan pesan, mereka duduk di pinggiran jalan berharap ada kendaraan yang lewat di sana untuk meminta pertolongan karena langit sudah mulai gelap.
Tak lama berselang, dari kejauhan terlihat datanglah beberapa pengendara sepeda motor yang melintas, dua sejoli itu begitu senang dan melambai-lambaikan tangan meminta pertolongan.
Para pengendara sepeda motor itu berhenti. Namun naas, bukan pertolongan yang mereka dapatkan karena ternyata mereka adalah gerombolan penjahat pencuri kendaraan yang tidak segan-segan menyakiti korbannya.
Mereka menodongkan pisau pada dua anak remaja itu, membentaknya untuk memberikan kunci kendaraannya. Giovani mengulurkan tangannya yang gemetar untuk menyerahkan kunci mobilnya, tetapi salah satu penjahat menyeringai ketika matanya melirik ke arah Almira yang begitu cantik berdiri ketakutan di belakangnya.