
Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.
Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.
Selamat membaca....
😘💕
*****
Ayah Michelia mendesahkan napasnya berat dengan wajah menunduk, sedangkan wanita disampingnya hampir bersujud memohon kepada Ratih dengan segala upaya agar memberikan pengampunan untuk putrinya.
"Keputusan kami tidak akan berubah. Jika tidak ada lagi yang hendak dibicarakan silakan keluar dari sini!" usir Ratih geram. Haris meremas tangan istrinya agar bersikap lebih tenang serta mengontrol emosinya.
"Saya turut prihatin dengan kondisi putra sulung Anda dan juga Michelia. Tapi sekali lagi maaf, kami akan tetap melanjutkan perkara ini apapun yang terjadi. Saya harap Anda mengerti, seperti halnya kalian yang ingin melindungi Michelia kami pun melakukan hal yang sama untuk melindungi Dara, putri kami," jelas Haris.
Ayah Michelia mengusap wajahnya frustrasi. Guratan kesedihan jelas tersirat, karena satu-satunya jalan yang sempat diharapkannya pupus sudah.
"Saya mengerti, terima kasih Pak Haris telah sudi meluangkan waktunya untuk kami," ucapnya.
"Sama-sama Pak. Tapi bisakah kita bicara dari hati ke hati, sebagai sesama seorang ayah?" tanya Haris sembari mengulas senyum prihatin.
Pria seumuran Haris itu mengangkat wajahnya. "Tentu saja," sahutnya meskipun tak mengerti dengan maksud Haris.
"Maaf jika ini sedikit menyinggung ranah pribadi. Kita sebagai sesama kepala keluarga haruslah berusaha menjadi pemimpin yang baik serta menjadi teladan untuk anak dan istri kita. Pertanggung jawabannya bukan hanya sekadar terhadap anggota keluarga di bawah naungan kita, tetapi juga kepada Sang Pencipta."
Ayah dan ibu Michelia masih termangu tak bersuara. Mereka fokus menatap Haris seolah menanti kalimat selanjutnya yang akan terucap.
"Menyayangi anak bukanlah dengan mengajarkannya menjadi pengecut yang lari dari masalah, tetapi anak-anak kita harus paham bahwa semua perbuatan entah baik atau buruk mempunyai konsekuensi dan balasan yang sesuai. Semoga bisa menjadi renungan, setiap ayah pasti ingin anak-anaknya menjadi pribadi yang mulia."
Hati ayah Michelia langsung mencelos karena selama ini dia menghalalkan segala cara agar anak istrinya hidup dalam kemewahan. Menafkahi dari jalan yang salah dan sudah pasti anaknya pun mencontoh perbuatan kotornya. Semua ucapan Haris menamparnya, dia benar-benar merasa gagal menjadi pemimpin rumah tangganya sendiri.
"Terima kasih atas nasehat dan waktunya. Kalau begitu kami pamit." Mereka berdua bangun dari posisi berlututnya dan berpamitan pulang.
Dengan gontai ayah Michelia berjalan memasuki mobilnya disusul istrinya yang sejak tadi berurai air mata.
"Bu."
"Iya kenapa Yah?" sahut ibu Michelia.
"Suruh Michelia untuk pulang."
"Maksudnya bagaimana? apakah Ayah sudah menemukan jalan lain untuk membebaskan putri kita," tanyanya antusias.
"Tidak, Ayah akan menyerahkannya kepada polisi. Sudah saatnya Ayah berhenti berbuat kotor, Ayah ingin anak-anak kita menjadi manusia yang lebih baik kedepannya," ucapnya sambil menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.
"Ayah sudah gila! Kenapa malah hendak membuat anak kita menjadi narapidana. Bagaimana dengan masa depannya nanti? ibu tidak akan membiarkan Ayah melakukannya," serunya sengit.
"Hentikan Bu!" bentaknya. "Jika bukan karena untuk memenuhi keinginanmu yang setinggi langit itu maka aku tidak harus tercebur dalam kubangan dosa semacam ini yang menyebabkan kehancuran anak-anak kita!"
Ibu Michelia terperanjat kaget, selama ini suaminya tidak pernah semurka ini kepadanya.
"Sudah saatnya kita berhenti Bu. Sadarlah! Kita harus mulai memperbaiki diri demi anak-anak kita," tegasnya. Pria itu menghidupkan mobilnya meninggalkan pelataran rumah mewah Haris dan berkendara dalam diam dengan air mata penyesalan yang mulai terurai.