You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 204



Saat hati memutuskan mengaku cinta, saat rasa marah dibelai kesabaran selembut sutera, saat kalbu ikhlas memaafkan dan merelakan takdir yang sempat mencipta duka lara, saat restu kedua orang tua terengkuh nyata, ringanlah sudah beban di dada.


Itulah yang kini dirasakan Wira, rasa lega memenuhi seluruh relung hatinya, jiwanya tengah menari gembira setelah terbebas sepenuhnya.


Sesampainya di rumah, keduanya langsung mengguyur diri bersama menggunakan air hangat. Beruntung Wira masih mengunakan perban waterproof untuk melindungi lukanya, sehingga tetap aman saat air membasahi ketika hujan tadi dan juga saat mandi.


*****


Dara sedang mengeringkan rambut prianya yang tengah duduk di kursi depan cermin. Dengan lincah jemarinya menyugar rambut Wira dan menggulirkan pengering rambut itu, terpaan embusan hangat dari hair dryer menyapu seluruh rambut hitam legam yang sering dijambak mesra olehnya ketika dirinya mengerang nikmat berpadu dengan geraman jantan suaminya.


"Sudah selesai, Papa." Dara menaruh hair dryer ke atas meja.


Ia merapikan rambut Wira, lalu mengecup mesra tengkuk sang suami membuat si empunya terpejam merasakan gelenyar cinta yang dipersembahkan hanya untuknya dari sosok cantik yang sangat berarti di hidupnya.


Dara sedikit membungkuk, melingkarkan tangannya memeluk ayah dari anaknya itu dan disambut Wira yang mengusap-usap lembut lengannya penuh sayang.


"Bagaimana perasaan Mas sekarang?" tanya Dara.


"Terasa ringan, aku tak pernah selega ini sebelumnya," sahutnya antusias.


"Terima kasih, karena selalu berusaha untuk tetap kuat dan tak pernah menyerah," desah Dara riuh rendah penuh syukur, disusul Wira yang meraih jemarinya dan mengecup punggung tangannya mesra.


Kemudian tanpa di duga, Wira menyingkap gaun tidur selutut yang dipakai Dara, menyelusupkan wajahnya ke dalam hingga kepalanya tertutupi di balik gaun. Ia mengecupi perut istrinya yang mulai tampak menonjol itu dan bergumam gumam tak jelas di sana.


"Mas, lagi ngapain sih." Dara terkekeh dan menepuk-nepuk pundak Wira kemudian pria tampan itu menghentikan kegiatannya.


Wira menarik wajahnya dari balik gaun dan berkata. "Aku hanya sedang menyapa anakku. Memberitahunya bahwa aku sangat bersyukur, berkat kalian kini kebahagiaanku terasa semakin sempurna," jawabnya seraya tersenyum bahagia.


"Aku yakin, anak kita juga pasti merasakan hal yang sama." Dara mengulas senyum cantiknya, kemudian membungkukkan tubuhnya, menangkup kedua sisi wajah Wira dan mengecup bibirnya mesra.


*****


Sesiangan ini pekerjaan Fatih telah selesai lebih awal tidak seperti biasanya karena pasien yang datang hanya sedikit. Wira masih dalam masa cutinya, jadi jadwal prakteknya bertugas di poli jantung digantikan oleh dokter lain.


Hal itu berimbas pada menyusutnya jumlah pasien di tempat pendaftaran dan semuanya yang datang berobat memang mereka yang benar-benar sakit. Akan tetapi lain halnya jika Wira yang bertugas, maka poli itu selalu penuh dengan pasien yang datang berkonsultasi, kebanyakan dari mereka yang nyatanya sehat tetap ikut mendaftar menjadi pasien sekadar ingin menikmati wajah tampan sang dokter yang terpahat sempurna.


Di rumah kontrakannya yang beraroma desinfektan itu, ia tengah berbaring di atas ranjang dengan gawai kotak persegi panjang di tangannya. Fatih tengah serius dengan ponselnya, mencari-cari artikel terkait tentang bagaimana caranya meluluhkan hati seorang gadis tomboi. Setelah membaca beberapa artikel teratas yang muncul, kesemuanya menyarankan untuk mendekati melalui hobi sang gadis terlebih dahulu.


"Apakah aku harus meminta dibelikan motor trail pada bapakku di desa?" gumamnya.