You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 234



Setelah mendapatkan alamat dari kepala panti, Wira dan dan Dara berpamitan pulang. Wira juga sudah berpesan kepada pihak panti asuhan bahwa dirinya akan menjadi donatur tetap. Mereka menyambut luar biasa gembira, dan juga mendo'akan semoga diberikan kemudahan dalam usaha pencarian orang tua Dara.


Mengenai hal mendatangi alamat yang diberikan kepala panti, Wira menyarankan kepada Dara untuk melakukan pencarian di lain waktu. Untuk saat ini pulang adalah pilihan terbaik, khawatir Dara kelelahan ditambah dengan suasana hati istrinya sekarang sepertinya tak memungkinkan. Sebelum melesat menuju ibukota, keduanya menyempatkan untuk mampir sebentar ke makam Arif juga Almira karena kebetulan arah jalan pulang mereka melewati kawasan pemakaman tersebut.


Sudah separuh perjalanan mereka tempuh, Dara sejak tadi hanya terdiam dan tampak murung. Wira paham bahwa saat ini istrinya butuh waktu, kenyataan yang dituturkan kepala panti tadi sudah pasti membuat Dara sedih.


Untuk itu selama perjalanan Wira lebih banyak mengalihkan pembicaraan pada topik lain, seperti membahas beberapa berita yang tengah viral di media sosial ataupun membahas wisata kuliner, walaupun yang diajak bicara hanya menjawab dengan gumaman singkat.


"Sayang, mau mampir membeli sesuatu dulu sebelum pulang? mungkin ada makanan yang kamu inginkan?" tanya Wira.


"Nggak Mas. Lebih baik makan makanan buatan rumah saja, aku harus menjaga asupan gula garamku sesuai anjuran Dokter Raisa demi kesehatanku dan si kecil," sahut Dara sembari mengulas senyum di wajah sendunya dibarengi dengan mengusap perut buncitnya.


"Mas...."


"Hmm," sahut Wira.


"Peluk aku," pinta Dara dengan nada lemah dan pilu disertai tatapan kosong.


Wira segera melingkarkan lengannya dan merangkul Dara ke dalam pelukannya penuh sayang. Dara membenamkan wajahnya di dada bidang nan nyaman itu, menghirup dalam-dalam aroma menenangkan di sana, aroma laksana rumah baginya, tempatnya pulang dan berteduh.


Dara tak menjawab, terdiam seribu bahasa. Hanya terdengar deru halus mesin kendaraan yang membelah jalanan di jalur cepat menuju arah pulang, serta alunan irama musik klasik yang diputar dari tape mobil. Lama Wira menunggu jawaban Dara, tetapi sedari tadi istrinya itu tak menyahuti ataupun menanggapi pertanyaannya.


"Ya sudah. Istirahatlah sayang." Wira membelai kepala Dara dan mendaratkan kecupan hangatnya di sana. Makin merapatkan diri dan mengeratkan dekapannya.


Lama-kelamaan Wira merasakan ada sesuatu yang membasahi kemeja di bagian dadanya, disusul isakan tertahan dan punggung Dara yang mulai berguncang. Dara menangis dalam diam, lalu tangannya bergerak mencengkeram sisi kemeja Wira seolah mencari kekuatan di sana.


Pria tampan itu terkesiap, tetapi sesaat kemudian dia mengerti dan segera menguasai diri supaya bisa menguatkan Dara. Saat ini istrinya butuh menangis untuk meluapkan segala rasa berkecamuk yang menyesakkan dada tentang kenyataan yang hari ini didengarnya.


Wira mengusap-usap punggung Dara dengan gerakan lembut dan teratur kemudian berkata, "Menangislah sayang. Semoga bisa membuatmu lebih lega. Tapi, kamu harus selalu ingat, bahwa dirimu istimewa dan sangat berarti bagiku. Mengerti...."


Akhirnya tangis Dara pecah. Tersedu-sedu terisak, meluapkan segala rasa yang caruk maruk di sanubarinya. Bohong jika Dara baik-baik saja setelah mendengar penuturan kepala panti, mengetahui kenyataan ternyata dirinya hampir dibuang layaknya sampah telah mengobrak-abrik jiwanya hingga ke dasar.


"Apakah sebaiknya kita berhenti saja mencari tahu tentang orang tua kandungmu? Aku takut kamu tak siap dengan kenyataannya nanti, lagipula kini prioritasmu adalah menjaga kondisi tubuhmu juga bayi kita." Nada bicara Wira berbalut kecemasan yang nyata.


Dara menggeleng pelan. "Nggak Mas. Aku tetap ingin mencari tahu tentang mereka. Seperti apapun kenyataannya nanti, aku takkan menyesalinya. Bantu aku Mas," sahutnya di sela-sela tangisnya.


""Apapun itu aku akan selalu membantu dan mengusahakan yang terbaik. Jangan bersedih lagi, ada aku di sini, sayang."