
Hari kembali ke kampus sudah tiba. Pagi-pagi sekali Dara sudah berbenah mempersiapkan keperluan belajarnya dan memasukkannya ke dalam tote bag favoritnya, berwarna hitam bergambar secangkir kopi di bagian depannya.
Sementara itu Wira tengah membersihkan diri di kamar mandi. Dia sudah mulai bisa mandi sendiri dengan menggunakan perban waterproof di bagian tangannya yang terluka, menjaga agar lukanya tetap kering saat air menyapa kulitnya.
Setelah selesai berbenah, Dara juga membuka paper bag dari butik langganan Ratih. Isinya Beberapa potong pakaian mahal bermerek yang dibelikan oleh ibu mertuanya sewaktu mereka berkunjung bersama. Dia membolak-balikan baju-baju cantik pilihan Ratih dengan penuh sukacita, merasa dirinya diperhatikan dan disayangi oleh seorang ibu.
Pilihannya jatuh kepada baju terusan berwarna merah marun, berlengan panjang dengan model rok umbrella di atas lutut. Saat dipakai begitu pas melekat ditubuhnya dan tetap nyaman di bagian perutnya yang mulai membuncit. Setelah memastikan semua keperluan kampusnya siap, Dara melangkah hendak ke ruang makan untuk ikut menyiapkan sarapan, bertepatan dengan Wira yang baru saja keluar dari kamar mandi masih hanya memakai bathtobe.
Wira memindai Dara intens dari ujung kepala hingga kaki, istrinya itu sudah berdandan rapi ditambah baju terusan berwarna merah marun yang sangat kontras dengan kulit putih pucatnya membuatnya terlihat semakin cantik bersinar. Ia melangkah mendekat dan menarik Dara ke dalam dekapannya, disusul sebuah kecupan lembut di pipi mulus istrinya itu.
"Kamu sangat cantik. Membuatku tak rela jika orang lain melihatnya juga," gumamnya merajuk dengan tatapan penuh minat.
Dara tertawa kecil kemudian menyentuhkan ujung hidung bangirnya ke hidung mancung suaminya sekilas. "Aku akan ke kampus hari ini karena pembelajaran sudah kembali dimulai. Untuk bercukur tunggu aku pulang, jangan bercukur sendiri, tangan Mas masih belum pulih benar."
Wira mengangguk patuh, tetapi sesaat kemudian ia mengerutkan keningnya dan raut wajahnya tampak tak suka ketika memperhatikan lagi dengan saksama pakaian yang dikenakan Dara. Model bagian lehernya agak rendah serta panjang bajunya satu jengkal di atas lutut.
"Sepertinya baju ini tidak cocok dipakai ke kampus. Terlalu pendek!" protes Wira.
"Aku merasa baju ini baik-baik saja meskipun agak pendek. Lagipula ini adalah pakaian yang dipilihkan ibu untukku. Aku sangat menyukainya," sahut Dara bersemangat.
"Tapi aku tidak suka. Ganti dengan yang lebih panjang!" perintahnya tak ingin dibantah.
Begitulah kebanyakan para pria, mereka akan selalu mempunyai sisi posesif kekanakan hingga akhir hayatnya yang hanya ditunjukkan kepada wanita yang dicintainya.
"Pakaian seperti ini hanya boleh dipertontonkan padaku. Kamu bisa memakainya ketika bersamaku di rumah," bisiknya menggoda ke telinga Dara sembari menghidu dalam-dalam aroma tubuh memabukkan itu.
"Dasar posesif!" Dara menanggapi dengan bibir cemberut.
"Pokoknya tidak boleh! Aku akan memilihkan baju yang cocok untuk pergi ke kampus." Tangan kiri Wira menarik Dara menuju ruang ganti dan memilihkan pakaian untuk istrinya.
Ia menunjuk ke arah baju terusan warna hitam berkerah tinggi dengan panjang di bawah lutut, serta cardigan berwarna grey yang tergantung di lemari.
"Pakai yang ini saja. Baju yang tadi membuatmu terlalu cantik. Kecantikanmu hanya milikku, dan aku tak mau berbagi dengan orang lain," ujarnya.
Dara menggaruk-garuk tengkuknya tak gatal, jika terus berdebat hanya karena sebuah pakaian bisa-bisa dia terlambat ke kampus, akhirnya si cantik berambut coklat itu memilih untuk menuruti keinginan suami tercintanya.
"Hhh untung cinta. Baiklah... baiklah aku akan memakai baju pilihan Mas. Tunggu sebentar, setelah berganti baju aku akan membantu Mas berpakaian."
"Baik Nyonya," sahutnya dengan senyuman penuh kemenangan.