You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 293



Ini adalah hari ke lima belas Aruna dirawat di rumah. Setelah kembali dia lebih banyak tersenyum kendati rasa sakit tak terperi selalu menderanya setiap malam. Dia sama sekali tak pernah mengeluh, hanya ungkapan rasa syukur yang acap kali terucap dari bibirnya.


Selena kembali datang berdua bersama Dara diantar Pak Jono. Ini adalah kali ketiganya mengunjungi sang nenek, Aruna bertambah gembira dan merasa lebih sehat jika cucunya datang, nafsu makannya kembali muncul jika Selena berada di dekatnya dengan celotehan menggemaskan.


Aruna duduk bersandar di tempat tidur dengan Selena di pangkuannya. Dara tersenyum senang sesaat setelah selesai menyuapi ibunya. Seperti biasa, jika ada Selena, Aruna makan lebih banyak, seolah rasa sakitnya menguap sirna ketika sang cucu berada dipelukannya.


“Dara.”


“Iya Bu,” sahut Dara yang baru selesai menaruh gelas bekas minum ibunya ke atas nakas, kemudian duduk kembali di sisi tempat tidur.


“Besok malam maukah kamu menginap di sini? itupun jika suamimu mengijinkan,” pinta Aruna.


“Kenapa Bu? apakah rasa sakitnya semakin terasa? aku… aku akan memanggil dokter.” Dara tampak panik, ia merogoh ponsel dari dalam tasnya dengan tangan gemetaran.


Aruna menggeleng dan meraih tangan Dara. “Bukan begitu, Nak. Hanya saja semenjak bertemu kembali belum pernah satu kalipun Ibu tidur bersamamu, ibu sangat ingin tidur sambil memelukmu,” ucapnya penuh harap.


*****


Sepulang dari rumah Aruna, Dara membicarakan hal ini dengan suaminya. Wira sangat mengerti, setelah sekian lama berpisah sudah pasti ibu dan anak itu ingin melepas rindu, ditambah dengan kondisi ibu mertuanya yang mungkin tinggal menunggu waktu.


Akhirnya sore hari berikutnya mereka memutuskan untuk menginap bersama dengan Selena juga Bu Rina tentunya. Mengingat bayi lucu itu makin rakus menyusu akhir-akhir ini, membuat Dara tak sampai hati meninggalkan Selena semalaman penuh karena cadangan ASI perahnya hanya ada sedikit.


“Temani sampai Ibu tidur. Ayo, kemarilah.” Aruna membuka kedua tangnnya, dia berbaring dengan bantal yang ditata beberapa. Matanya berbinar bahagia dengan seulas senyum teduh.


Dara naik ke tempat tidur, merebahkan diri membiarkan Aruna memeluk dan membelai rambutnya. Hatinya bergetar hebat, satu rasa tak biasa menelusup ke dalam kalbunya. Ternyata beginilah rasanya pelukan seorang ibu, begitu hangat dan damai, Dara pun balas memeluk tubuh ibunya yang semakin kurus dari hari ke hari.


Aruna tersenyum dengan mata berkaca-kaca, bahagia tak terkira membanjirinya kemudian dikecupnya puncak kepala sang anak. “Ibu memang bodoh, meninggalkan kebahagian di genggaman karena tergiur kebahagian semu. Bisa kembali memelukmu bagaikan mimpi indah yang menjadi nyata.”


“Akupun sama Bu, tak pernah menyangka bahwa akhirnya Tuhan masih memberiku kesempatan untuk bertemu dengan wanita yang melahirkanku, yang selalu kurindukan di setiap malamku. Walaupun jujur, aku terluka teramat dalam saat mengetahui kebenaran masa laluku.”


“Jangan memaafkan Ibumu yang buruk ini,” ucap Aruna lirih.


“Aku… aku sudah memaafkanmu, Bu,” sahut Dara tersendat karena tenggorokannya tercekat.


“Ibu merasa tak pantas, tapi Ibu bahagia mendengarnya.” Air mata kembali menitik di wajah lemahnya. “Rasanya melegakan merasakan dirimu di pelukan Ibu. Saat nanti bertemu ayahmu, Ibu juga harus banyak-banyak meminta maaf padanya karena dulu telah menelantarkanmu. Dan mungkin waktunya akan segera tiba, sudah beberapa hari ini ibu melihat ayahmu berdiri di halaman.”


“Jangan berkata begitu Bu.” Dara mulai terisak. “Masih banyak yang ingin kulakukan untuk Ibu, jangan pergi dariku lagi.”


“Kamu sudah melakukan banyak hal untuk Ibu, itu sudah lebih dari cukup. Jangan menangis, sayang. Anakku yang kuat. Tidurlah, Ibu ada di sini, takkan pergi kemanapun.”