You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 151



Pagi-pagi sekali mereka berdua sudah berada di balkon, Dara mengajak Wira untuk duduk di sana karena ingin menikmati pemandangan matahari terbit sambil ditemani secangkir teh madu yang masih mengepul dan sepiring biskuit butter.


Mereka duduk dan bersandar di kursi panjang khas yang terbuat dari rotan, tak lupa sebuah selimut kecil dibawa Wira dari kamarnya untuk menghangatkan tubuh mereka karena udara pagi buta masih sangat dingin.


Mereka duduk berdampingan dan Dara bersandar dengan nyaman dirangkulan suaminya. Semburat warna jingga mulai mengintip malu-malu di ufuk timur, membaurkan cahaya keemasannya yang indah memesona.


"Kenapa tiba-tiba ingin ke balkon pagi-pagi begini." Wira bertanya sementara tangannya tak henti membelai lembut surai panjang Dara.


"Sesuai janjiku pada Mas kemarin, aku ingin bercerita tentang beberapa hal yang terjadi belakangan ini. Tapi aku ingin mengatakannya dalam suasana yang damai seperti ini agar aku merasa lebih tenang." Dara berbicara dengan mendongakkan wajahnya dan kemudian menatap wajah tampan suaminya.


Wira sedikit menunduk dan mengecup kening Dara. "Katakanlah, aku akan mendengarkan apapun itu."


Dara mengangguk dan mulai bercerita. Di mulai dari kejadian di cafe di mana ia bertemu Michelia dan juga tentang kedatangan Ratih ke kampusnya. Tak lupa ia juga memberikan rekaman pembicaraannya dengan Ratih kepada Wira.


Awalnya Dara ragu untuk memperdengarkan rekaman itu, tetapi Wira mendesaknya dan membujuknya dengan lembut hingga keraguannya sirna.


"Jujur aku merasa tak enak pada Mas. Aku tak bermaksud mengadu tentang ibu mertuaku sendiri. Aku merekamnya karena tak ingin dikatai mengada-ada."


Keheningan membentang setelah Wira selesai mendengarkan isi rekaman pembicaraan ibunya dengan Dara. Ia memejamkan matanya dan berusaha menghirup serta mengembuskan napasnya teratur untuk menenangkan diri dari emosi yang meluap-luap berkobar di dalam dirinya.


"Mas." Dara kembali mendongak dengan sorot mata gusar dan membelai rahang kokoh Wira karena suaminya itu tak kunjung bersuara.


"Maaf Mas, untuk sesaat aku sempat meragu dan sekarang kusadari bahwasanya semua itu salah." Terselip nada penyesalan dari ucapan Dara.


"Maksudnya kau sempat meragukanku?" kenapa?" Wira makin menyelam ke dalam iris indah milik istrinya.


"Bukan Mas, tapi aku. Aku ragu pada diriku sendiri apakah aku mampu. Sempat terbersit untuk pergi seperti pengecut, tetapi setelah kupikirkan lagi ternyata aku tak sanggup hidup tanpamu. Untuk itu Mas, bantulah aku. Apa yang harus kulakukan agar bisa memantaskan diri bersanding denganmu," pintanya penuh harap.


Wira menggeleng pelan kemudian tersenyum hangat disertai tatapan penuh cinta. "Tak perlu lakukan apapun untuk pantas berada di sisiku. Cukup cintai aku. Jadikan aku satu-satunya yang bertahta di hatimu dan tetaplah di sisiku seperti apapun diriku hingga kita menua bersama. Hanya itu."


Sudut mata Dara mulai menggenang karena haru. Ia membetulkan posisi duduknya kemudian mengecup kening Wira menyalurkan segala rasa di dada.


Rasa haru, rasa syukur serta cinta yang membuncah-buncah bergumul menjadi satu di kalbunya yang sempat meragu. Bersyukur dirinya yang sebatang kara ini dicintai dan diinginkan sebesar ini oleh pria pemilik hatinya.


"Hanya kamu yang kucintai Mas, selalu. Selamanya harus bersama dan buktikan pada dunia bahwa kita bahagia."


*****