You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 194



Sesampainya di rumah besar Haris, mereka berempat berkumpul di ruang keluarga. Wira menceritakan semua kejadian yang dialaminya tadi sore, telapak tangan kanannya terluka dalam usahanya merebut pisau lipat dari genggaman kuat Michelia.


Wanita nekat itu berusaha membunuh dirinya sendiri dengan membabi buta, bahkan permukaan lehernya sudah mulai tergores. Wira terus berusaha menghentikannya, demi mencegah Michelia mengakhiri hidupnya ia tak punya pilihan lain selain merebutnya dengan memegang bagian mata pisau yang tajam


Telapak tangannya tersayat cukup dalam dan luka pun tak dapat dihindari. Saat berhasil menghentikan aksi gila Michelia, berbarengan dengan mobil sirene polisi berdenging bising mendekati mereka.


Michelia berhasil diringkus oleh petugas, dia tidak melawan lagi dan hanya membeku dengan tatapan kosong ke arah Wira, wanita itu tampak shock ketika melihat darah mengucur dari tangan pria yang dipujanya.


Rekan-rekan sesama dokternya yang baru saja melewati daerah minimarket tersebut, menghentikan laju kendaraannya karena dikejutkan dengan kemacetan serta banyaknya mobil polisi dengan lampu berkelap-kelip menyilaukan juga suara bising dari sirenenya.


Mereka mengedarkan pandangan ke sekitar dan melihat Michelia yang tampak lusuh digiring masuk ke mobil polisi, mereka juga melihat sosok Wira yang mengekor di belakang para petugas sembari memegangi tangannya, dan setelah diperhatikan mereka menerka sepertinya dokter tampan itu terluka.


Para dokter itu memutuskan untuk memarkirkan kendaraan dan turun memastikan. Sebagai pertolongan pertama, Wira membalut sendiri lukanya untuk sementara menggunakan perban yang terdapat di dalam kotak P3K yang tersimpan di dashboard mobil, karena lukanya cukup dalam maka harus dilakukan prosedur lebih lanjut untuk dijahit di rumah sakit.


Salah satu dokter yang menumpang di mobil temannya mengendarai mobil hitam berkilat milik Wira karena si pemiliknya tidak memungkinkan untuk mengemudikannya dengan keadaan tangan yang terluka, mereka semua segera meninggalkan tempat itu dan melaju beriringan menuju rumah sakit tempat mereka bekerja.


*****


"Sekarang Michelia sudah tertangkap, aku merasa begitu lega," desah Wira yang baru saja masuk ke kamar disusul Dara di belakangnya.


"Syukurlah Mas, semoga dia mendapatkan hukuman yang setimpal dan disadarkan bahwa selama ini telah banyak berbuat salah." Dara mendudukkan dirinya berdampingan dengan Wira di tepian ranjang.


"Tubuhku lelah, terasa lengket dan tidak nyaman. Aku ingin mandi, supaya lebih segar." Wira bangkit dari duduknya hendak melangkah ke kamar mandi tetapi kemudian dia menoleh kembali ke arah Dara dengan wajah lelahnya yang sangat kentara.


Dara ikut berdiri dan memposisikan dirinya berhadapan dengan tubuh tinggi kokoh yang dirindukannya. "Tentu saja Mas, dengan senang hati," sahutnya dengan anggukan dan senyum yang merekah.


Jemari lentiknya terulur membuka satu persatu kancing kemeja berwarna abu-abu yang melekat di tubuh Wira, entah kenapa wajahnya perlahan memanas melihat dada bidang suaminya, padahal mereka sudah sering saling bergesekan tanpa sehelai benang pun.


Wira mengulum senyumnya, mengamati wajah cantik yang mulai merona saat melucuti pakaiannya. Dara dengan wajah merahnya terlihat semakin menggemaskan juga menggairahkan di matanya, membuatnya ingin menerjangnya merasakan bagian dirinya terbenam di kehangatan dan kelembutan tubuh memabukkan di hadapannya itu


Tangan Dara kini mulai merayap turun membuka ikat pinggang mahalnya, terdengar bunyi gemerisik gesper yang dibuka kemudian celana panjang yang dikenakannya luruh ke lantai, hingga akhirnya hanya tinggal sehelai pakaian dalam yang masih melekat.


Dara mengigit bibirnya ketika hendak meloloskan pakaian dalam bermerek Calvin Klein yang membungkus bagian inti suaminya, bagian yang selalu berhasil membuatnya berteriak nikmat ketika mereka memadu kasih.


Ragu-ragu tangannya mulai menyentuh pinggirannya, tetapi kemudian tangan kiri Wira menahannya untuk menghentikan membuat Dara mendongak.


"Kenapa?" kata Dara.


"Kurasa, aku... aku...."


*****


To be continued 😂