You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 143



Terpaan semilir angin sepoi-sepoi di sore hari, dilengkapi lukisan langit berhiaskan lembayung senja menemani perjalanan Dara memacu Vespanya berkeliling komplek.


Dara menghela napasnya berat karena dadanya semakin sesak. Sesekali tangannya menyeka kristal bening yang luruh tanpa disuruh agar penglihatannya tidak buram.


Bayangan canda tawa dan senda gurau sambil menaiki motor yang sedang dikendarainya di masa lampau, membuat kerinduannya kepada Arif dan Almira semakin menjadi.


Dua orang yang pertama kalinya menghargai dan memandangnya sebagai manusia yang setara, manusia yang berhak punya keluarga dan juga berhak bahagia.


Haruskah ia pergi dari sisi Wira karena tak pantas menurut ibu mertuanya? Dan juga mengenai buah hatinya haruskah ia berikan demi bukti cintanya?


Semua perkataan Ratih serupa sebilah pedang yang dihujamkan langsung tepat di jantungnya. Ratih menyuruhnya untuk menyerahkan bayinya secara paksa sama saja dengan membunuh dirinya secara tidak langsung.


Jika memang harus pergi dari sisi Wira, haruskah ia pergi sekarang saja? Setidaknya ia tidak harus berpisah dengan bayinya dan sebagian dari diri pria yang paling dicintainya masih tetap ada bersamanya.


Tanpa disadarinya, Dara mengemudikan motornya keluar komplek dan semakin menjauh dari kawasan hunian elit itu. Pikiran dan hatinya kalut berkecamuk, membuat Dara membawa Vespanya tak tentu arah.


*****


Tiga puluh menit berlalu. Dara masih belum kembali. Bu Rina dan Pak Jono sejak tadi menunggu di pos satpam dengan harap-harap cemas sambil terus melirik jam dnding yang tergantung di tembok. Sesekali Bu Rina melongokkan kepalanya keluar melalui jendela pos, berharap nyonya mudanya muncul dengan segera.


Sang surya sudah mulai bersiap beranjak ke peraduan, digantikan sang malam yang mulai merayap di cakrawala. Waktu terus bergulir, tetapi nyonya mudanya itu masih juga belum terlihat kemunculannya membuat Bu Rina semakin khawatir dan wajahnya mulai pucat pasi.


Mobil sport warna hitam yang dikendarai Wira baru saja sampai di depan gerbang rumahnya. Satpam segera membuka pagar tinggi tersebut mempersilakan tuannya untuk masuk. Wira turun dari mobilnya dan Bu Rina bergegas tergopoh-gopoh menghampiri.


"Tuan... jika nanti Anda menghukum akan saya terima. Ini semua terjadi karena ketidakmampuan dan kecerobohan saya yang tak bisa mencegah Nyonya Dara." Bu Rina berkata dengan raut wajah luar biasa gelisah.


"Ada apa? Ada apa dengan Dara?" Wira terkejut karena Bu Rina tak pernah terlihat sampai secemas ini.


"Dan juga, nyonya... nyonya terlihat sangat sedih," sambung Bu Rina kembali.


"Pak Jono, apakah terjadi sesuatu saat menjemput Dara di kampus?" Wira mulai didera kekhawatiran yang merayapi dirinya.


"Tidak Tuan. Hanya saja sepanjang perjalanan pulang nyonya terlihat murung."


Ponsel di saku celana Wira berdering menginterupsi. Ia segera mengangkat panggilan tersebut karena nomor yang tertera di layar adalah dari orang suruhannya.


"Tuan, saya ingin melaporkan. Sejak tadi saya mengikuti istri Anda dan sekarang dia berkendara keluar dari kota ini. Apakah saya harus mencegahnya atau mengikutinya saja?"


"Apa? keluar kota!" Wira terperanjat kaget kemudian menjambak rambutnya frustasi.


"Jangan memotong jalannya secara mendadak khawatir hal itu membuat istriku terkejut. Dia sedang hamil muda, aku takut terjadi sesuatu. Untuk sekarang ikuti terus, jangan sampai kehilangan jejak. Terus pantau dan kirimkan lokasinya padaku sekarang juga. Apakah seharian tadi tidak ada kejadian yang mencurigakan?" tanya Wira ditengah-tengah kepanikannya.


"Seharian tadi tidak ada yang aneh Tuan. Semuanya terlihat tenang. Saya memantau dari luar kampus seharian tadi, hanya saja tadi Ibu Anda terlihat berkunjung ke kampus."


"Ibuku ke kampus Dara? kenapa tidak melaporkan hal ini padaku!" bentak Wira berteriak.


"Ma-maaf Tuan. Saya kira itu bukanlah hal penting karena itu hanya Ibu Anda," sahut orang diseberang sana.


Wira memijat pelipisnya dengan mata terpejam, memang bukan salah orang suruhannya karena dia lupa tidak memberitahukan bahwa ibunya juga termasuk dalam daftar yang bisa mengancam Dara.


Sudah pasti ibunya melakukan sesuatu terhadap Dara, sehingga istrinya itu tiba-tiba jadi seperti ini.


"Segera kirimkan lokasinya! Aku akan menyusul sekarang juga," perintahnya.